Jumat, Maret 19, 2021

Pengakuan Eksistensi

Eksis.  Kata ini sering disematkan pada orang yang terlihat nyata keberadaannya. Dengan alasan dan konotasi apapun. Misalnya eksis karena sering tampil di acara ibu-ibu , eksis karena hampir setiap hari update status di sosial media, eksis karena kejahatan korupsi dan lain sebagainya. Reaksi orang lain terhadap usaha eksistensi seseorang pun beragam. Penting disadari keinginan untuk eksis sudah dimiliki sejak lahir. Contoh seorang bayi menangis itu adalah caranya untuk menunjukkan eksistensi ingin diakui keberadaannya dan diperhatikan.  Berkembang usia, keinginan diakui keberadaan semakin berkembang juga. 

Salah satu bentuk pengakuan adalah pemberian sertifikat.  Saat ini banyak kegiatan yang memberikan sertifikat. Baik sertifikat sebagai bentuk penghargaan atas sebuah keberhasilan maupun bentuk ucapan terimakasih atas partisipasi dalam sebuah acara. Banyak juga yang dengan senang memajang sertifikat tersebut dalam sosial media. Alasannya beragam.  Menarik sekali, saya menjumpai sebuah komentar yang menyatakan bahwa pengakuan eksistensi itu membawa pada rasa sombong/ujub dan menjerumuskan seseorang pada dosa besar.  Tentu komentar ini menjadi pengingat yang amat baik apalagi memang ada dalam sebuah hadits Rasulullah Muhammad SAW  yang menyebutkan

Dari Abdullah bin Mas’ûd, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. i so adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.  [HR. Muslim, no. 2749]

Dari sini kita dapat mengetahui adoomba 2 jenis kesombongan yakni sombong terhadap kebenaran yang datangnya dari Allah dan sombong karena dengan kelebihan yang dimiliki membuatnya merendahkan manusia lain. Inilah yang harus kita waspadai. 

Lalu apakah pengakuan ini sudah pasti mengarah pada kesombongan? 
Menurut saya gak juga. Adakalanya pengakuan dibutuhkan sebagai bagian dari cara agar suatu kebaikan semakin lebih mudah diterima. 
Contoh gampangnya ketika kita melamar sebuah pekerjaan  sudah lazim ditanya keahlian apa yang dimiliki? maka kita pun menyiapkan sertifikasi yang sudah kita dapatkan bahkan kadang sertifikasi yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan yang kita inginkan pun dilampirkan karena kita berpikir bisa jadi dibutuhkan 😀 tanpa ada maksud menyombongkan diri melainkan kebutuhan. Contoh lainnya, penyerahan bukti  sertifikat penghargaan yang diserahkan para siswa yang ingin masuk ke sekolah favorit melalui jalur prestasi saat tahun ajaran baru. Saya yakin ini lagi-lagi karena kebutuhan.  Saya pernah juga mengurus legalisir sertifikat untuk keperluan ini di dinas pendidikan untuk putri saya yang ingin mendaftar ke sebuah sekolah negeri dan ternyata banyak sekali orang tua yang mengurus hal yang sama. 

Memberikan value/nilai bagi pengakuan eksistensi diri dapat menjadi salah satu cara yang penting dilakukan agar pengakuan tidak mengarah pada kesombongan






0 Comments:

Posting Komentar

Haiii.. tanpa mengurangi keakraban, silahkan berkomentar dengan baik dan sopan yaa.. Komentar bersifat spam tidak akan dipublikasi