Tampilkan postingan dengan label Mengikat Makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengikat Makna. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 15, 2021

Mengenal Cinta dari Romeo dan Juliet

Melihat tanggalan..eh 14 Februari.  Pantesan aja ada yang posting soal valentin. Emak gak pernah detail merhatiin tanggalan.  Apalagi Valentin.. wkwkwk. Tetapi beberapa hari yang lalu baru saja selesai menyimak Ngaji Filsafat bersama Ustadz Fachrudin Faiz. Yang terlintas dalam pikiran, ternyata penting bagi kita untuk mengenal cinta agar tahu dan bisa menyikapinya dengan bijak.  Apalagi Cinta pada dasarnya merupakan hal yang fitrah, diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. 

Materi tentang cinta dari Ngaji Filsafat yang saya ingin ikat maknanya, bahasan novel Romeo dan Juliet.  Banyak yang sudah sering mendengar tentang Romeo dan Juliet  tetapi lewat Ngaji Filsafat ini kita akan mendapat kupasan lebih dalam dan akan saya bagi dalam dua tulisan. 

Diawali dengan  mengenal tipe Cinta

Ada 6 tipe Cinta

  1. Eros, yakni cinta yang dasarnya ketertarikan.  Entah apanya yang membuat tertarik tapi yang pasti dari tampilan fisik. Tidak selalu ganteng atau cantik, tapi bisa juga suara, kelembutan
  2. Mania yakni cinta yang obsesif, cirinya posesif alias ingin memiliki, jealousy, intense, dependency
  3. Ludus, yakni cinta yang hanya untuk senang-senang. Arahya untuk kenikmatan diri tanpa komitmen
  4. Storge, yakni cinta yang mencari kebersamaan, saling membutuhkan
  5. Agape, yakni cinta ilahiah, sifatnya murni. Orang kadang menyebutnya juga sebagai cinta yang mengorbankan diri hanya untuk yang dicintai
  6. Pragma, y jejakni cinta yang realistik
Kisah Romeo dan Juliet  merupakan kisah cinta yang mengangkat tema-tema yang terkait dengan takdir, Kalau dalam pembahasan dunia cinta, ada istilah Star Crosserd Lover yakni sepadang kekasih yang dalam hubungan mereka bertemu takdir buruk, dimana hubungan ini terancam oleh kekuatan-kekuatan di luar diri mereka. Istilah ini terinpirasi dari pandangan astrologis dimana posisi bintang berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Pelajaran Tentang Cinta

1. Di mata orang yang merasakan.. Cinta itu sulit didefinisikan
Orang yang pertama kali jatuh cinta pada awalnya mereka pun ragu-ragu.."apakah ini yang namanya cinta?" "apakah cinta ini akan membahagiakan?" "apakah perasaan ini selamanya?"  ini tergambarkan dalam ucapan Romeo
Begitulah cinta, tanpa harus dengan mata bisa melihat jejak keinginannya.  Walau jalan ke arah itu masih terhalang, Ah tak perlu kau katakan sudah aku dengar semua.  Betapa banyak kesusahan disebabkan oleh kebencian, tak terkecuali cinta
Cinta adalah berat dan ringan, terang dan gelap, panas dan dingin, sakit dan senang, terbangun dan terjaga.  Cinta adalah semuanya, kecuali apa arti dia yang sesungguhnya
2. Di mata orang yang tidak merasakan. Cinta itu hal sepele 
Lontaran ucapannyaseringkali mirip dengan apa yang diucapkan oleh sahabat dekat Romeo,
Kau sedang jatuh cinta, pinjamlah barang sebentar sayap dewa cinta, hingga kau pun bisa merasa ringan, sanggup bergerak dan menari
Kau tenggelam dalam cinta, namun asmara membebanimu. Yang sepele jangan diberat-beratkan Romeo.

Romeo, bilang-bilang kepada kami jika kau sudah tidak tahan lagi dalam lumpur; kami akan menarikmu dengan tambang dari lumpur cinta yang di dalamnya kau tenggelam hingga leher.  Lalu kita bikin perapian di siang bolong

Penting bagi kita untuk memahami situasi jiwa orang yang sedang jatuh cinta sehingga bisa memberi masukan yang baik tanpa menyepelekan. 

3. Yang sulit dikendalikan saat  jatuh cinta adalah First Sight (pandangan pertama), yang di luar kontrol kita, sehingga harus diwaspadai karena bisa menjadi gerbang kebahagiaan sekaligus gerbang kesedihan
Digambarkan oleh ucapan Romeo berikut ini
Di antara kerumunan perempuan ia tak ubahnya seperti merpati putih yang mengepakkan sayapnya di tengah kawanan gagak 

4. Cinta : If Its You.  Apapun yang diucapkan oleh orang yang dicinta pasti menawan dan diterima

Dia mengucapkan kata. Terus dan teruslah berkata, bidadari.  Sebab malam ini engkau ratu yang terus berseri dihadapan laksana duta kahyangan bersayap yang mendatangi makhluk yang tak punya daya, hingga matanya memutih disebabkan takjub tak tertanggungkan..  

5. Apapun situasinya, apapun dirinya, akan diterima, dengan kata lain Cinta adalah What Ever You Are

Kalau kau tak suka aku seorang Monteque, maka kukatakan tidak pada nama itu (Romeo)

6. Cinta itu Everlasting, sepanjang jaman sampai akhir tidak akan berubah

Fajar menyingsing, aku ingin kau pergi, tapi aku bagaikan bocah yang setengah hati melepas burung kesayangannya. Aku hanya melepasmu sesaat, lalu merenggutmu kembali dengan seutas tali (Juliet)

Berikan romeoku, jika ia harus mati, ubahlah ia menjadi bintang, buatlah rasi bintang serupa sosoknya.  Wajahnya akan mencerahkan langit malam, sungguh terang hingga dunia melupakan sang surya

7. Cinta itu Derita. Sebagaimana dialami oleh Romeo dan Juliet

Ah begitulah derita cinta, dukanya terus membebani kalbuku. Kau tambah lagi dengan raut sedih yang kau tunjukkan atas dukaku.  Betapa itu hanya mnambah-nambah pedihku.  Cinta adalah keluh kesah yang mengepul jadi asap.  Dan api akan timbul kala asap menguap habis.  Jika ia ditindas maka yang timbul telaga air mata.  Bukanlah cinta demikian? Sebuah kegilaan yang luhur 

Ada beberapa quotes menarik juga yang kita temui dalam buku Romeo dan Juliet dan menjadi pelajaran ketika dikaitkan dengan dunia saat ini..

  • Kebencian memberimu dunia, tetapi cinta memberimu surga. Sering terjadi orang mudah sekali mengumbar kata kebencian sehingga timbul permusuhan, saling sikut untuk mendapatkan harta, jabatan, maupun status sosial. 
  • Jangan berikan cintamu pada seseorang yang tak bisa menghargainya.  Orang yang tidak menghargai cinta itu cuek. Tak perlu memberikan perhatian pada orang yang tak peduli karena akan sia-sia.
  • Cinta anak muda tidak benar-benar terletak dalam hati mereka, namun dimata mereka. Hari ini kita susah mendalam karena media sosial sering menggiring kita dangkal, kelihatannya saja. 
  • Setiap orang memiliki takdirnya, semakin mereka menghindarinya, semakin mereka dalam kesulitan.  Betapa pun kita memiliki alur sendiri. Maka siaplah menerima ketetapan Tuhan pada diri, tetap lakukan yang positif. 
Kita sambung ke postingan berikut yaa.. 
Analisa Cinta Romeo dan Juliet. 
 

 

 

 



 

 



Kamis, Februari 11, 2021

Leiden is Lijden : Mental Pemimpin

 "Jadi pemimpin gak boleh baperan" begitu kalimat yang sering saya dengar.  Dan iya, saya menggangguk setuju. Pemimpin itu tombak utama suatu organisasi atau kepanitiaan. Pemimpin yang baperan sudah pasti akan menjadi penghambat. Entah kegiatannya yang berjalan lambat atau malah kepengurusan atau kepanitiaannya menjadi bubar secara teratur. Eh tapi apa iya menjadi pemimpin gak boleh kesal?

Hmm.. tentu saja boleh.  Kesal, adalah suatu hal yang wajar terjadi pada diri kita.  Karena tidak semua hal bereaksi sesuai harapan kan.. Kadang hal sepele bisa membuat kita kesal.  Hanya saja  aksi berikutnya yang perlu kita pikirkan. Larut dalam kesal atau tidak itu pilihan yang bisa kita tentukan sendiri. Yang tidak dapat kita hindari adalah segala pilhan mengandung konsekuensi. 

Bahan soal baper ini terkait dengan mental.  Entah mengapa rasanya kok pas banget lagi berpikir soal pemimpin baperan, saya melihat rak buku, buku Leiden is Lijden karangan Dea Tantyo seperti tersaji untuk saya buka.  Ini salah satu buku favorit saya.  Sudah sejak lama berniat ingin mengikat maknanya. Saya langsung menuju bab pertama dan.. ah ini dia yang saya cari, Leadership Mentality.

Bab pertama ini mengawali pembahasannya dengan "Explore Your Leadership Mentality". Kenapa sih kita perlu mengeksplore mental kepemimpinan yang kita miliki? Jawabannya adalah untuk mendapatkan mental yang kuat karena dengan memiliki mental kuat, seorang pemimpin tidak hanya menemukan jalan tetapi juga memiliki kekuatan untuk melampaui.  Semakin kuat mental, semakin mampu seseorang menghadapi segala tantangan kehidupan, apapun bentuknya.  Termasuk pula menumbuhkan daya tahan yang tinggi.
Ini pas banget dengan yang saya alami. Beberapa kali saya menjumpai suatu peristiwa yang terasa menguji daya tahan saya sebagai seorang leader.  Misalnya ketika ada anggota yang salah paham kemudian menyebarkan kesalahpahamannya ini ke orang lain, dan orang lain tersebut ikut tertular salah paham tanpa mengecek lebih lanjut.  Akhirnya suasana menjadi tidak enak. Menjadi parah ketika kesalahan pahaman ini terus menggelinding. Butuh kesabaran yang lebih untuk meluruskannya kembali.  Kesabaran yang hanya bisa terjadi ketika daya tahan mental dalam kondisi kuat. 

Dea Tantyo mengutip tulisan Lao Tzu .. 
He who controls others may be powerfull but he who mastered himself is mighter
Benar sekali, saat seseorang bisa mengontrol orang lain agar sesuai dengan keinginannya maka akan terlihat orang tersebut memiliki kekuatan.  Tetapi sesungguhnya orang yang bisa menguasai dirinya sendiri jauh lebih kuat lho.. karena orang yang demikian, dalam situasi dan lingkungan sekitar yang sering berubah-ubah, akan lebih bisa mengendalikan keadaan. Mudah baginya untuk kembali on track.
Di sisi lain, kekuatan mental mampu menembus batas kelemahan fisik. Sudah banyak tokoh yang menunjukkan hal ini dan salah satunya adalah Jenderal Sudirman. Siapa yang tak kenal dengan kegigihan pejuang besar Indonesia ini? Namanya dijadikan nama sebuah universitas di Jawa Tengah.  Dituliskan dalam buku bahwa Jenderal Sudirman memiliki penyakit paru dimana paru yang berfungsi hanya sebelah. Terbayanglah kondisi fisik yang demikian. Aktivitas berlebih pasti membuat beliau amat lelah dan bernafas pun tersengal-sengal.  Tetapi hal ini tidak menyurutkan langkah beliau.  Dengan ditandu dan bergerilya, terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 
 
Untuk meningkatkan kemampuan dalam memimpin. kita bisa mengikuti pelatihan atau membaca literatur. Saat ini pelatihan leadership (kepimpinan) menjamur.  Tinggal pilih saja ikut yang mana.  Materi seputar leadership pun  dengan mudah kita jumpai baik secara daring maupun luring. Namun tetap saja  kepimpinan ini kembali pada diri kita sendiri dalam menerapkannya. Menurut M. Natsir, 

Pemimpin tidak bisa cetak atau di SK-kan.  Sebab pemimpin itu tumbuh di lapangan, yakni setelah berinteraksi dengan tantangan di masyarakat.  Bila seseorang memang berbakar menjadi pemimpin dan mendapat tantangan, ia akan menggunakan seluruh kemampuan dan ilmu yang dikuasainya untuk menghadapi tantangan itu 

Saat Anda memutuskan untuk memimpin, yakinlah bahwa magnet diri Anda bergantung pada seberapa kuat mental Anda.  Tak perlu "menjual diri" agar orang mengikuti kehendak Anda, pemimpin yang kokoh akan otomatis dipercaya oleh para pengikutnya.

Kapan-kapan kita bahas bab buku berikutnya ya?

In syaa Allah.. 



 



  

Kamis, Januari 28, 2021

Ikigai

Topik tentang Ikigai tiba-tiba saja muncul dalam pembicaraan keluarga. Berawal dari si Ragil yang bertanya "Ikigai aku apa ya?" Lho kok tumben .. "Kenapa?"tanya saya.  "Gak, aku pengen punya sesuatu yang ngedorong aku biar gak males-malesan.." Oalaaa.. 
"Dek kamu nonton ini aja.."kata kakaknya sambil memperlihatkan sebuah video youtube yang mengulas tentang Ikigai. 
"Jadi Ikigai tuh begitu ya Bu?"
"Baca buku ini aja dulu.. baru kita diskusi ya"sahut saya sambil memberi sebuah buku.

Buku yang saya maksud adalah buku berjudul "The Book of Ikigai" karangan Ken Mogi, PhD. Di buku ini banyak sekali ditermukan cara hidup, tradisi, budaya, cara hidup, dan falsafah Jepang. Ikigai sendiri merupakan istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Iki, artinya hidup sedangan gai berarti harapan. Memiliki Ikigai bisa menghasilkan kesuksesan tetapi kesuksesan bukanlah prasyarat untuk memiliki ikigai.  Dan siapa saja bisa memiliki ikigai. Kita bisa menemukan, menanamkan, dan menumbuhkan ikigai kita sendiri. Menariknya, ikigai ternyata berkorelasi erat juga dengan kesehatan. Berdasarkan riset yang dilakukan pada tahun 2008 yang dilakukan oleh para penelit di fakultas kedokteran Universitas Tohoku dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki ikigai memiliki kerangka berpikir dapat menciptakan kehidupan yang aktif dan bahagia.  Mereka cenderung berolahraga sehingga memiliki penyakit kardiovaskular lebih rendah.

5 Pilar Ikigai

Pertama, Awali dengan hal kecil.

Ikigai diekspresikan sebagai alasan kita bangun di pagi hari. Kisah kehidupan Hiroki Fujita dalam buku menjelaskan detail bagaimana bangun di pagi hari menjadi hal yang penting.
Hiroki Fujita adalah seorang pedagang ikan tuna di pasar ikan Tsukiji. Alasan khusus mengapa ia harus bangun pukul 02.00 dini hari, karena harus segera mendapatkan ikan terbaik bagi para pelanggannya. Sepanjang waktu bergerak, Fujita berpikir, ikan terbaik apa yang bisa didapat hari ini?  Ia merasa pelanggannya, restoran-restoran terkemuka di Tokyo, bergantung pada dirinya. Maka ia pun berusaha seteliti mungkin memilih diantara lusinan ikan tuna yang tergelar di lantai pasar.  
Hal kecil, mendapatkan ikan terbaik, tetapi berdampak luar biasa.

Kedua, Bebaskan dirimu

Masa apa dalam kehidupan yang bebas tanpa beban? jawabnya pasti masa kanak-kanak. 
Anak-anak tak peduli akan status sosial apalagi  berlarut akan penilaian orang lain.  Betapa menyenang anak-anak. Inilah pilar ikigai, melakukan sesuatu tanpa beban.

Ketiga, Keselarasan dan kesinambungan


Keempat, Kegembiraan dari hal-hal kecil

Cerita seperti Fujita menjadi gambaran umum yang terjadi di Jepang yang menjadikan pagi sebagai waktu yang istimewa mengawali hari. Tak hanya karena rutinitas keseharian tetapi juga ada banyak kegembiraan-kegembiraan kecil yang terjadi di pagi hari seperti minum teh hijau, olahraga bersama dengan mendengarkan instruksi dari radio taiso (sekarang lebih banyak dilakukan oleh orang-orang tua) atau bermain shogi (catur Jepang). 
Kita sendiri bisa menciptakan kegembiraan kecil untuk diri sendiri di pagi hari seperti minum teh ditemani sepiring kecil cemilan, berjalan santai menikmati sekitar, atau menyiram tanaman yang tumbuh semakin indah. Kegembiraan di pagi hari, mendorong kegembiraan sepanjang hari. 

Kelima, Hadir di tempat dan waktu sekarang











Rabu, Mei 29, 2019

The Power of When

"When?" membaca kata ini membuat saya tergelitik untuk mengintip isi buku. Biasanya buku-buku motivasi lebih banyak membahas tentang kekuatan berbicara, menjalin hubungan, membuat perencanana strategis, dan sebagainya.  Tetapi buku ini mengupas dari sisi yang berbeda, yakni tentang "kapan". Michael Breus, Phd, penulis buku ini, menyatakan "kapan" adalah hal yang krusial selain "Apa" dan "Bagaimana" dalam usaha manusia untuk melakukan perubahan yang cepat.
Dr Breus sendiri adalah seorang peneliti yang memiliki sertifikat resmi di bidang pengobatan tidur klinis.
Iya ya.. apapun yang kita inginkan selalu berhubungan dengan waktu alias kapan. Hanya rencana dan cara tapi tak jelas kapan akan dilakukan tak akan membawa kebaikan apa pun.
Dan membahas kapan berarti kita juga membicarakan ritme biologis tubuh. 
Dr Breus menuliskan dalam bab pendahuluan,

Berlawanan dengan apa yang mungkin Anda pernah dengar,  apa pun yang Anda lakukan punya waktunya sendiri-sendiri. Waktu yang tepat bukanlah yang Anda pilih, kira-kira, atau harus Anda tebak. Semua sudah dan sedang terjadi dalam tubuh Anda, dalam DNA Anda, sejak detik pertama Anda bangun sampai saat kembali tidur, dan sepanjang waktu di antaranya.  Sebuah jam internal dalam otak Anda terus menerus berdetak, menjaga agar waktunya senantiasa tepat, sejak Anda berusia 3 bulan. 
Penjaga waktu yang supertepat ini disebut pengatur waktu sirkadian atau jam biologis.  Secara khusus, pengatur waktu sirkadian ini berbentuk sekumpulan syaraf yang disebut suprachiasmatic nucleus (SCN) yang ada di dalam hipotalamus, tepat di atas kelenjar pituari.
Pada pagi hari, sinar matahari memasuki mata kita, mengalir sepanjang syaraf optik, dan mengaktifkan SCN untuk memulai ritme sirkadian harian. SCN adalah jam utama yang mengendalikan puluhan jam lain di sekujur tubuh Anda. 

Membaca tulisan ini pikiran saya langsung teringat pada ayat-ayat Al Qur'an tentang pergiliran siang dan malam yang telah Allah hadiahkan bahkan jauh sebelum kita lahir.. Subhanallah..
Setidaknya ada 29 ayat di Al Qur'an yang membahas tentang ini. Salah satunya QS Al Furqon : 42

Dan (Dia) pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur

Alhamdulillah, Maha Benar Allah, Sang Maha Pencipta, hingga hal yang sangat detail seperti ritme biologis tubuh telah diatur sedemikian rupa berbeda pada setiap orang dan telah disesuaikan pula dengan kebutuhan masing-masing.
Dalam perkembangannya, nyatanya manusia sendirilah yang membuat ritme ini berantakan.
Malam dan siang seringkali bertukar tempat.
Karena pengaruh teknologi yang tak bijak disikapi dengan alasan kesenangan serta tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup.
Contohnya teknologi handphone.  Asyik menonton youtube atau bermain game mampu membuat kita terjaga semalaman dan tidur menjelang pagi.  Acapkali sampai lupa makan. Akibatnya tepat seperti yang diungkap oleh Dr Breus, menyalahi waktu biologis mengacaukan keseimbangan fisik, mental dan emosional seseorang. Fenomena ini disebut "chronomisalignment". Beberapa penyakit seperti jantung, diabetes, kanker, obesitas, dan lain-lain disinyalir para ilmuwan muncul akibat kekacauan ini.
Duh ternyata penting banget buat kita memperhatikan waktu biologis.

Fakta ilmiahnya adalah, jika Anda bijak dalam menggunakan waktu, hidup Anda akan selancar putaran jarum jam. Akan tetapi jika tidak sesuai dengan waktu biologis Anda sendiri, Anda sebenarnya tengah bekerja melawan kehendak biologis Anda. Ini tentu bukan hal baik (Dr Breus)

Karena jam biologis setiap orang tidak sama, maka dilakukan pengklasifikasian yang disebut dengan kronotipe. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dr Breus (hal 5), ada 4 kategori kronotipe yang dianalogikan dengan jenis hewan mamalia
  1. Lumba-lumba, yang merupakan nama kategori untuk orang yang mengalami imsomnia, cerdas, mudah terbangun karena gangguin neurosis, dan memiliki dorongan tidur rendah
  2. Singa, merupakan nama kategori untuk orang yang optimis, aktif di pagi hari, dan memiliki dorongan tidur menengah
  3. Beruang, merupakan nama kategori untuk orang yang menyukai kesenangan, bersifat terbuka, lebih menyukai beraktivitas sesuai peredaran matahari, dan memiliki dorongan tidur tinggi 
  4. Serigala, sesuai untuk orang-orang ekstrover yang aktif pada malam hari dan memiliki dorongan tidur menengah
Penasaran termasuk dalam kategori kronotipe apa? 
Kalau sudah memiliki bukunya, segera kerjakan kuis yang ada di buku atau bisa mengisi kuis di https://thepowerofwhen.com 

Setelah mengetahui kronotipe, selanjutnya mulailah menelusuri lebih jauh segala hal yang terkait dengan kronotipe kita. Buku setebal 399 halaman ini membahas beberapa aspek seperti kesehatan, kebugaran, tidur, keuangan, makan dan minum, karier, kreativitas, dan lain-lain. 

Sebagai contoh saya uraikan apa yang saya dapatkan dari buku yaa..

Tentang Makan...

Tidak ada orang yang ingin kelebihan berat badan. Itu sebabnya banyak orang yang tertarik dengan diet dan tak jarang mencoba mati-matian demi mendapatkan bentuk tubuh yang ideal. Namun acapkali gagal. Menurut Dr Breus ini bisa disebabkan karena pola diet dilakukan tanpa memperhatikan jam biologis tubuh. Berdiet namun saat waktu makan tiba, makan tidak pada waktu yang tepat. Karena seperti yang sudah ditulis sebelumnya, tubuh kita memiliki puluhan jam internal (hal 219). Semua jam internal ini berjalan sesuai waktu terbit dan tenggelamnya matahari secara beriringan dengan jam internal lainnya, dalam urutan yang tepat dan ritme yang sempurna.
Jika kita makan pada waktu yang tak sesuai waktu biologis maka akan terjadi timbunan lemak besar-besaran.  Lemak berlebihan dan hormon metabolis yang tak sesuai fungsinya mengakibatkan peradangan dan oksidasi, yang menjadi penyebab penyakit sudah ternama, khususnya penyakit jantung, kanker, dan diabetes.

Jadi musti gimana dong?

Dr Breus memberikan anjuran untuk mengikuti ritme larangan waktu makan dan menggunakan ritme makan awal.
Makan setiap 3-4 jam (dalam slot waktu 8 atau 12 jam) membantu menjaga waktu pencernaan biologis yang sempurna.

Ada 3 aturan makan Dr Breus yakni

  1. Makan dalam waktu satu jam setelah bangun
  2. Makanlah seperti raja atau ratu saat sarapan, pangeran atau putri saat makan siang, dan pengemis saat makan malam
  3. Pastikan suapan terakhir dalam sehari dilahap 3 jam sebelum tidur
Adapun waktu makan (tidak termasuk waktu untuk kudapan) setiap kronotipe adalah sebagai berikut

  • Lumba-lumba : sarapan : pukul 8.00; makan siang : pukul 12.00; makan malam : pukul 19.30
  • Singa : sarapan : pukul 6.00; makan siang : pukul 12.00; makan malam : pukul 18.00
  • Beruang : sarapan : pukul 7.30; makan siang : pukul 12.30; makan malam : pukul 19.30
  • Serigala : sarapan : pukul 8.00; makan siang : pukul 13.00; makan malam : pukul 20.00

Rinci sekali kaan arahan dan penjelasan dari Dr Breus seputar The Power of When.
Ini baru tentang makan 😉
Dan semua yang ada di buku berdasarkan hasil penelitian yang tak sebentar, termasuk pada pasien-pasien beliau, untuk kesehatan yang lebih baik.

Maa syaa Allah manfaat banget ilmunya 😍
Sekarang waktunya buat menerapkan. 
Chaiyyooo ..Semangat hidup sehat!



















Kamis, Maret 21, 2019

Nenek Hebat dari Saga


Suatu hari ada sesuatu yang tanpa ada alasan khusus ingin kuucapkan pada Nenek. "Nek, kita memang miskin sekarang, tapi suatu hari enak juga ya kalau bisa jadi kaya.  Tanpa diduga-duga beginilah jawaban Nenek. "Kau ini bicara apa? Ada dua jalan buat orang miskin.  Miskin muram dan miskin ceria.  Kita ini miskin yang ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja kita miskin, kita tidak perlu cemas.  Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun temurun miskin. Pertama, jadi orang kaya itu susah. Selalu makan enak, berpelesir, hidupnya sibuk.  Dan karena selalu berpakaian bagus saat bepergian, bahkan saat jatuh pun, mereka harus tetap memperhatikan cara jatuh mereka.  Sedangkan orang miskin kan sejak awal selalu mengenakan pakaian kotor.   Entah itu saat hujan, saat harus duduk di tanah, mau jatuh, ya bebas, terserah saja.  Ahh, untung kita miskin."  Aku diam. Lalu, "Selamat tidur, Nek" ujarku tanpa tahu harus berkata apa lagi.

Kalimat yang saya baca dalam buku ini membuat saya tersenyum geli. Ah iya, selalu ada kebaikan pada setiap keadaan.  Tidak ada yang benar-benar buruk selagi cara kita menyikapi dan menetapkan sudut pandang tetap positif.

Menemukan buku ini di deretan buku-buku novel yang ada di toko buku besar yang kami kunjungi di saat mulai letih mencari buku novel non percintaan remaja, melegakan sekali. Sekarang semakin sulit menemukan novel yang membangun jiwa positif dengan bahasa yang mudah dimengerti dan disukai remaja. Buku-buku novel remaja dengan tulisan "New Arrival" atau "Best Seller" tak jauh dari jatuh cinta atau patah hati. "Boseeen begitu melulu.."keluh gendhuk. Entah berapa kali anak-anak pulang dari toko buku dengan tangan kosong.  Pertama kali melihat buku ini mereka pun kurang tertarik.  Baiklah, saya dulu yang membaca. Tak menunggu sampai di rumah, saya mulai menelusuri halaman demi halaman.

Buku karangan  Akihiro Tokunaga atau yang lebih dikenal dengan nama Yoshichi Shimada berjudul asli Saga no Gabai Baachan ini membawa ingatan saya melayang ke masa kecil sepeninggal Bapak dimana kondisi keuangan keluarga pun kurang baik. Kami harus cepat belajar menerima keadaan apa adanya dan berhemat. Mungkin karena kami nyaris tak pernah mendengar ibu mengeluh, kami pun melalui masa sulit dengan biasa saja sebagaimana anak-anak lain yang tak mengalami kesulitan ekonomi. Bedanya, bekal sekolah kami lebih sedikit 😀. Tak mengapa, itu bukan masalah besar, kami masih tetap bisa tertawa pada setiap hal lucu yang kami jumpai.

Bab pertama buku ini mengisahkan dorongan sang Ibu yang membuatnya masuk ke dalam kereta, yang membawanya ke Kampung Saga, tempat nenek Osano tinggal. Benar-benar mendorong, bukan kiasan.  Karena sang Ibu tahu Tokunaga kecil pasti tak ingin jauh darinya.  Sementara kehidupan di Hiroshima selepas bom atom semakin sulit. Ia ingin Tokunaga mendapatkan lingkungan dan pendidikan yang lebih baik di kampung halaman.  Bagi Tokunaga sendiri ini seperti mimpi buruk. "Aku jadi merasa bagai anak yang akan dijual ke suatu tempat" tulisnya (hal 31). Ditemani bibi Kisako ia pun diantar menemui Nenek.

Bab-bab berikutnya bercerita tentang babak kehidupan Akihiro Tokunaga bersama Nenek. Di hari pertama datang, Tokunaga langsung mendapat pelajaran bagaimana cara menyalakan api di tungku oven agar esok bisa memasak nasi sendiri karena Nenek harus berangkat pagi-pagi sekali untuk bekerja membersihkan kantor di Universitas Saga dan sekolah dasar serta menengah yang terafiliasi dengannya. Rumah Nenek sendiri digambarkan sebagai gubuk bobrok beratap jerami. Namun pemandangan di sekitar rumah Nenek sungguh indah. Di depan rumah terbentang sungai yang mengalir. Nenek menyebut sungai ini supermarket. Sebatang galah dibentangkan sedemikian rupa di permukaan sungai. Seringkali ranting atau batang pohon tersangkut di galah. Nenek menggunakannya untuk kayu bakar. "Selain sungai menjadi bersih, kita pun mendapatkan kayu bakar cuma-cuma.  Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.."ucap Nenek sambil tertawa keras"( hal 43). Tidak hanya ranting pohon yang tersangkut tetapi juga sayuran, buah-buahan, sampai sandal kayu.  Benda-benda ini terbawa air sungai yang berasal dari pasar di hulu.

Meski kehidupan kampung tidak mewah namun banyak kejadian yang menarik bagi Tokunaga.  Terutama jika dibandingkan dengan kehidupannya di Hiroshima dulu. Di Saga,  banyak makanan yang bisa dimakan tanpa harus membeli.  Ingin buah, tinggal petik di pohon. Ingin mainan pun tinggal membuat sendiri dari batang kayu yang bergeletakan di tanah. Semua gratis tanpa biaya.

Tokunaga sangat tertarik pada kegiatan olahraga. Suatu waktu ia ingin  mengikuti latihan Kendo. Namun setelah mengetahui  untuk bergabung dengan latihan tersebut membutuhkan uang, mendadak Nenek meminta Tokunaga membatalkannya. Di lain waktu Tokunaga ingin mengikuti latihan Judo.  Nenek meminta Tokunaga melupakannya karena latihan Judo pun tidak gratis.  Nenek malah mengusulkan Tokunaga untuk berlatih lari saja. Kata Nenek, "Tidak perlu peralatan dan tempat berlarinya juga gratis.  Lari saja." Tokunaga pun menerima saran Nenek. Ia berlatih lari sendirian setiap hari. Ternyata di kemudian hari latihan larinya ini membawa hasil memuaskan. Ia selalu menjadi pahlawan di festival olahraga. Namun yang menyedihkan hatinya, tak pernah satu kali pun ibunya datang melihatnya mengikuti lomba. Dan ada peristiwa aneh di setiap tahun di hari festival tersebut. Wali kelas Tokunaga menderita sakit perut! Dengan alasan sakit perut itulah mereka selalu meminta Tokunaga bertukar bekal.  Beberapa tahun kemudian Tokunaga baru diberitahu Nenek kalau wali-wali kelasnya sengaja berbuat demikian untuk menghibur Tokunaga. "Itulah kebaikan sejati" demikian penjelasan Nenek. Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan (hal 92).

Lewat kisah-kisah kesederhanaan, Nenek Osano mengajarkan banyak sekali nilai dan prinsip kehidupan. Tidak hanya untuk Tokugana tetapi juga untuk kita yang menyimak ceritanya. Bahwa kehidupan baik atau buruk tidak ditentukan oleh uang yang kita miliki tetapi rasa yang kita ijinkan hadir : susah atau senang, bahagia atau sedih. Kaya, adanya di hati. Inilah nilai kaya yang sesungguhnya.

Tak perlu minder juga saat putaran roda kehidupan berada di bawah. Harga diri kita tak serta merta jatuh karena kemiskinan. Sang Pencipta pun tak menciptakan manusia dalam derajat yang berbeda-beda. Semua yang muda akan menua.  Kaya atau miskin, keduanya memiliki kebutuhan dasar yang sama seperti butuh makan dan minum. Apa pun keadaannya kita tetap masih bisa bahagia dan meraih mimpi. Asalkan mau bersyukur dan menikmati pemberianNya




Senin, November 27, 2017

Mengenal Generasi Strawberry

Kids jaman now, menjadi istilah yang sedang beken saat ini. Selain memiliki kelebihan, tak sedikit juga orang tua yang membandingkan anak-anak jaman now dengan jaman dulu. "Anak sekarang maunya serba enak" dan "Anak sekarang sukanya main hape terus" sering dibandingkan dengan kalimat "Jaman ayah dulu mau apa-apa harus nabung" dan "Dulu mah gak ada hape, jadi mainnya lebih kreatif", dan seterusnya.  Ada juga yang menyebut kids jaman now sebagai Generasi Micin. Disebut demikian karena anak sekarang melakukan sesuatu hal tanpa berpikir terlebih dahulu. "Kebanyakan makan micin" konon begitu penyebabnya. Hmm.. sepertinya banyak yang salah di jaman now. Benarkah demikian? apakah penyebabnya?