Suatu waktu ada yang curcol ke saya "Mak, Mak A jarang banget dateng rapat. Padahal kan leader. Nanti sekalinya ikutan rapat banyak banget koreksinya ini itu. Jadi sebel" Wajarlah ya sebel. Apalagi kalau itu adalah sebuah projek yang telah berjalan. Mengulang kembali tentu membutuhkan waktu tambahan sekaligus membuat projek besar kemungkinan tidak selesai sesuai target. Pertanyaan ini mengingatkan saya akan film Stupid Bos yang dibintangi Reza Rahardian. Terbayang wajah kesal para bawahannya setiap kali usul atau alasan mereka ditolak. Bos datang seperti petaka yang tidak diinginkan. Tiba-tiba suasana menjadi hening dan kaku. Tapi bagaimana dari sisi pemimpin? Bukankah memang seharusnya demikian jika ada salah harus diubah?
Sebelum membahas lebih jauh kita samakan dulu yuk persepsi kita antara bos dan pemimpin. Meneut Dale Carnegie dalam bukunya Sukses Memimpin ada perbedaan yang jelas antara Bos dan Pemimpin.
Bos :
- Menggerakkan orang
- Menanamkan ketakutan
- Mengatakan "Kerjakan"
- Membuat pekerjaan menjadi membosankan
- Bersandar pada kewenangan
- Mengatakan "Saya", "Saya", "Saya"
Pemimpin
- Mengarahkan orang
- Menginspirasi antusiasme
- Mengatakan "Mari Kerjakan"
- Membuat pekerjaan menjadi lebih menarik
- Bersandar pada kerjasama
- Mengatakan "Kita"
Ketika saya memaparkan tentang ini di Hexagon City Virtual Conference ada yang bertanya "Apa bedanya menggerakkan dan mengarahkan?" Pertanyaan yang bagus sekali. Jawaban pertanyaan ini juga menjadi jawaban bagi pertanyaan curhat sebelumnya. Seorang bos menggunakan cara menggerakkan bawahannya dengan cara memerintah yang seringkali tidak memperhatikan alasan. "Kerjakan ini sekarang" atau "Gak bisa begini, ganti!" Sementara seorang pemimpin, akan mengarahkan anggota timnya apa yang sebaiknya dilakukan agar tercapai tujuan dengan memperhatikan beberapa aspek dan perspektif. Misalnya pemimpin sebuah kepanitiaan akan mengarahkan tim humas dalam diskusi tim agar acara dapat tersosialisasikan dengan lebih maksimal. Jika tim humas sudah merencanakan maka pemimpin kepanitiaan akan menyimak rencananya dan memberi masukan jika diperlukan. Sehingga pengubahan atau pembatalan minim terjadi.
Memimpin sendiri merupakan sebuah hal yang dapat dipelajari oleh siapa saja. Termasuk para Emak. Pemimpin tidak harus selalu tahu banyak hal apalagi harus banyak uang. Ketidaktahuan seorang pemimpin bisa diatasi dengan kerja tim dimana masing-masing tim akan saling melengkapi. Oleh karena itu pemimpin tidak hanya orang yang berkomitmen, mau bekerja sama dan menerima hal-hal baru. Karena menyadari keberhasilan bersandarkan kerjasama jugalah maka seorang pemimpin akan berusaha menciptakan lingkungan yang nyaman dan penuh antusiasme dalam tim. Kaidah "Perlakukan orang lain sebagaimana ingin diperlakukan oleh orang lain" diterapkan oleh pemimpin dan seluruh anggotanya. Urusan kompak-kompak begini biasanya emak-emak jagonya deh. Kompakan pakai baju yang sama saat pengajian atau jalan-jalan, kompakan memasak, kompakan santunan, dan seterusnya. Biasanya atas dasar sosial dan ada kebahagiaan sesudahnya karena kompak. Kalau sudah sering kompakan seperti ini akan lebih mudah naik satu level dalam menjalin kekompakan di kepanitiaan atau tim untuk tujuan yang lebih besar lagi.
Berbeda dengan Bos yang bekerja dengan sistem kewenangan. Yang benar berasal dari dirinya. Sehingga antusiasme anggota tim pun berkurang karena hanya bekerja berdasarkan perintah.
Suatu keberhasilan tim pun pada dasarnya adalah keberhasilan bersama. Setuju ya? karena mengerjakannya pun bersama. Seorang pemimpin yang bukan bos tidak akan menunjuk dirinya sendiri sebagai orang yang paling berjasa. Justru ia akan sedikit menepi dan tersenyum di sudut menyaksikan satu per satu anggota tim meluapkan kebahagiaan pada keberhasilan yang tercapai.
0 Comments:
Posting Komentar
Haiii.. tanpa mengurangi keakraban, silahkan berkomentar dengan baik dan sopan yaa.. Komentar bersifat spam tidak akan dipublikasi