Selasa, November 10, 2020

Zona Habit to Nation

 

Welcome to Zona H, Habit To Nation

Memiliki habit yang bagus itu memang PR banget ya.. dan ada banyak teori serta cara untuk melatihnya. Salah satunya seperti yang dituliskan oleh James Clear dalam bukunya Atomic Habit. Menarik juga menyimak caranya melatih sebuah kebiasaan.. dari kegiatan yang sepintas amat biasa, yakni tdur. Ketika James masuk ke dalam tim bisbol di kampusnya, ia fokus pada upaya mengatur diri. Ia juga bertekad mengatur kamarnya tetap bersih dan rapi. Dari sini James merasa ia bisa mengendalikan hidup dan mulai percaya diri. Imbasnya kebiasaan-kebiasaan belajarnya pun ikut membaik. 

Kebiasaan itu sesuatu yang otomatis dilakukan. Tetapi dari contoh yang James berikan ternyata kebiasaan bisa dibentuk mulai dari hal yang seperti remeh. Agar berhasil, kata kuncinya tentu konsisten dan komitmen 

Di Hexagon City apakah habit ada pengaruhnya juga terhadap perkembangan kota?
Tentu saja!
Habit baik yang dimiliki oleh para Hexagonia akan membuka peluang keberhasilan project passion semakin besar. Bayangkan bila semua project passion berhasil maka kemajuan kota akan melejit pesat.


Langkah pertama yang kami lakukan adalah menentukan milestone.




  1. Milestone 1 (persiapan)

  • durasi : 2 pekan (30 okt - 10 november 2020)

  • pembagian tim:

  1. tim resep (indah, eka, dian, ayu)

  2. tim database (april)

  3. tim coding (farida, linda, lia)

  4. tim food photograhy (wenda)

  5. tim pencari info biaya web (mia)

  • habit

  1. tiap tim mencari info yang diperlukan untuk project nation

  2. sharing hasil temuan ke grup (tentang web, coding)

  3. mengecek dan saling mengisi trello

  • Yang dilakukan :

  1. tim resep = mengumpulkan resep dan menguji coba

  2. tim database = merapikan drive

  3. tim coding = mencari info seputar coding

  4. tim food photography = mencari basic food photography

  5. tim pencari info tentang web dan biaya pembuatan web 


  1. Milestone 2 (pelaksanaan)

  • durasi : 1,5 bulan 

  • pembagian tim : ada perubahan tim untuk tim food photography dan tim database

  • tim database merangkap design grafis (april & mia)

  • tim food photography ( wenda & dian)

  • Yang dilakukan

  • tim desain =  membuat logo

  • tim food fotography = mb wenda memberi acuan untuk membuat food fotography kepada tim.

  • tim resep = mulai mendokumentasikan resep di gdrive sesuai budget resep.

  • membuat nama project yang EYE Catching, Easy Listening


    3. Milestone 3, Uji Coba dan Evaluasi

Dan saat kami mengevaluasi roadmap, kami mendapatkan bahwa di milestone 1 ini


  1. Pencapaian

  • tim resep membuat drive

  • tim web sharing hasil browsing tentang harga web dan aplikasi

  • setiap member belajar trello, dan semua info masuk ke dalam trello


  1. Hambatan

  • sinyal

  • alat pendukung untuk belajar coding

  • harga web dan pelatihan coding yang mahal


  1. Solusi

  • menentukan waktu online yang ramah sinyal

  • memakai peralatan yang ada untuk mengulik coding

  • mencari domain dan aplikasi yang gratis




Karena saya memilih peran dalam tim coding maka saya pun melatih kebiasaan yang sesuai dengan peran tersebut, seperti di bawah ini








Selasa, Oktober 27, 2020

Pondasi Karakter Dalam Sebuah Tim

Membangun pondasi karakter? waini.. penting banget!
Karena faktor penentu suatu project akan berhasil gak cuma dilihat dari bagus atau gaknya project tersebut tetapi terutama oleh karakter kinerja dari orang-orang yang membuat project tersebut. 
Iya dong.. project kan gak bisa jalan sendiri..
Dan mengerjakan suatu project membutuhkan waktu yang tak sebentar.
Jika tim tidak solid maka bisa dipastikan project tersebut akan lambat berjalannya atau bahkan tidak berjalan sama sekali.

Dalam co housing kami pun berdiskusi dimulai dengan menuliskan goal terlebih dahulu agar setiap topik yang dibahas mengacu pada goals (tujuan) yang dibuat.
Seperti di pekan lalu kami menuliskan tujuan sebagai berikut
Membantu para ibu mendapatkan resep sesuai budget yang dimiliki, menggunakan bahan yang halal dan baik bagi tubuh serta mendapatkan hasil rasa penganan yang lezat. Tidak hanya untuk keseharian tetapi bisa juga untuk berjualan sehingga bisa menghemat pengeluaran sekaligus mandiri finansial 

Sebagai bekal dan agar project dapat berjalan dengan lancar kami menuliskan beberapa karakter yang harus ada dalam tim yakni perhatian, daya tahan, semangat, disiplin, inisiatif, berpikir positif, fokus dan percaya diri. 

Lalu kami mulai berdiskusi hal apa saja yang bisa mendukung projet sesuai karakter (boost), hal apa saja yang bisa memperlambat (delay) dan hal apa saja yang bisa menghentikan project (resiko). Mensiasati sulitnya menemukan jam online yang sama pada banyak orang, kami membagi  co housing dalam 3 kelompok yang masing-masing membahas per bagian boost, delay dan resiko.


Boost

    1. Kemudahan sarana berkomunikasi untuk koodinasi
    2. Saling support dengan memberikan perhatian agar konsisten dengan goalsuan
    3. Keinginan dan kesadaran bekerja sama tanpa melihat perbedaan, semua berpartisipasi sekecil apapun demi mewujudkan project passion
    4. Ketekunan dan optimis serta kerjakeras untuk mewujudkan goals yang ingin dicapai
    Delay

    1. Mudah menyerah dan kurang memiliki motivasi juang. Mudah patah semangat apalagi jika bertemu hambatan yang di luar kebiasaan.
    2. Pasif/bersikap masa bodoh. Jarang memberikan k seak seuai dan tidak peduli dengan situasi grup. Tidak sepenuh hati meleburkan diri dalam tim dikarenakan masih mencoba-coba cocok atau merasa tidak cocok keberadaannya dalam grup
    3. Moody/baper.  Apalagi jika ada hal yang tidak sepaham dengannya
    4. Minder, merasa kemampuan diri kurang, apalagi yang melihat yang lain lebih hebat
    Resiko
    1. Komunikasi kurang lancar karena perbedaan jam online
    2. Pesimis, merasa project ini tidak akan jalan
    3. Malas dan tidak aktif, maunya terima beres, mengandalkan teman lain mengerjakan project
    4. Tidak disiplin mengumpulkan materi project dan sering menunda pekerjaan
    5. Tidak kompak, kerja sesuai yang diinginkan sendiri, tidak sesuai dengan tujuan project tim, dan meremehkan orang lain
    Dan terakhir masing-masing dari kami memilih karakter untuk dijadikan karakter khas dan dijaga selama di perkuliahan



    Alasan memilih karakter :

    • Linda : bentuk support dengan memberikan perhatian agar fokus dan konsisten dengan goals
    • Farida : Agar selalu terpantik berinisiatif dan berkreatifitas, mendapatkan/mencari hal-hal yang perlu dikuasai/dipenuhi terkait project
    • Wenda : Kekuatan batin untuk menahan stress dan melakukan yang terbaik sehingga goal bersama bisa tercapai
    • Indah : Dengan disiplin akan semakin komitmen dan konsisten terhadap goal yang dipilih
    • Dante : Tidak mudah menyerah dan tidak manja dengan kondisi di luar kebiasaan sehingga bisa bekerja sama dengan tim dengan penuh tanggung jawab
    • Eka : Dalam kondisi apapun dengan semangat ditambah bekerja keras akan terwujud semua cita2/goal.
    • Lia : dengan fokus, akan terkonsentrasi pada satu hal, pikiran tidak bercabang. Sehingga akan lebih mudah utk mencapai tujuan/goals.
    • Mia : saat kita bisa percaya diri maka tidak ada kata takut dalam dirinya untuk terus berkarya
    • Dian : Percaya diri karena proyek kita ini bisa dibilang masih meraba2x, jadi kita harus mantap percaya diri insya allah bisa mewujudkannya
    • Ayu : Berfikir positip : menekankan pada hal-hal positip baik pada diri sendiri atau orang lain, berguna pada saat menghadapi suatu masalah, merubah sikap pesimis menjadi optimis. Agar bisa mengontrol diri menjadi lebih baik.









     

     





     

    Senin, Oktober 19, 2020

    Passion Canvas


    Ihiiyy.. alhamdulillah sekarang sudah ada di kelas BunPro.
    Kelas yang seruuu banget.  Mau cerita di sini belum sempat terus. Tahu-tahu langsung ke zona Passion.
    Dan di Zona ini kami memperdalam lagi passion yang kami miliki.  Dimulai dengan membuat Passion Canvas.




    Nah dalam passion canvas saya tuliskan passion yang ingin saya pertajam ilmu dan kebermanfaatannya adalah passion memasak. Ini masih passion yang sama seperti yang saya pilih saat buncek dulu.

    Di bawah passion ada life of stage.
    Saya menuliskan sekaligus 4 tahapan dalam life of stage karena memang keempatnya yang sedang saya lakukan sekarang.

    Di kolom hard skill saya menuliskan pelatihan apa yang saya butuhkan.
    Yang pertama saya menuliskan pelatihan tentang bisnis karena kini saya sudah mulai berjualan sehingga saya merasa perlu menambah lagi segala ilmu yang berkaitan dengan bisnis terutama bisnis produk kuliner rumahan.
    Saya juga masih tetap membutuhkan pelatihan memasak/membuat kue untuk menambah banyak ragam produk kuliner yang saya jual.
    Lalu saya menuliskan perlu pelatihan tentang mengelola komunitas/grup karena pengalaman saya di Dapur Emak masih banyak PR yang harus saya lakukan agar Dapur Emak semakin banyak dirasakan kebermanfaatnya oleh anggota.

    Di kolom soft skill saya menuliskan satu saja dulu pelatihan yang saya rasakan untuk hal ini masih banyak yang perlu saya latih yakni public speaking. Saya merasa lebih mudah, teratur dan sistematis menyampaikan gagasan dibandingkan lewat lisan.

    Tantang apa saya yang saya temui saat menjalankan passion?
    Saya menulis beberapa hal
    • Manajemen waktu
    • Menambah ilmu tanpa kursus
    • Mewujudkan ide sesuai passion
    • Berbagi sesuai passion di masa pandemi
    Ada tantangan maka harus ada solusi dong..
    • Saya semakin disiplin menerapkan skala prioritas termasuk di dalamnya tidak banyak menunda
    • Untuk menambah ilmu, saya harus meluangkan waktu untuk berselancar daring dan mempraktekkanya sampai berhasil
    • ATM cara orang lain berbagi ilmu karena sekarang banyak sekali cara kreatif yang menjadi pilihan agar ilmu yang ingin dibagi dapat tersampaikan dengan menarik
    • Banyak ngobrol lagi sama yang sudah expert/banyak pengalaman
    Di kolom Ide..kuliner
    wah ini yang membuat saya terbayang terus memikirkannya.. ingin memudahkan para ibu atau pelaku kuliner mendapatkan resep sesuai budget yang dimiliki
    Alhamdulillah saat saya cetuskan ide ini kepada teman-teman co housing semua setuju
    Daaan jadilah project kami: RESEP RAMAH DOMPET

    Doakan kami bisa mewujudkannya yaaa




     

    Senin, Juli 06, 2020

    Horeeee.. di sini sekarang!

    Alhamdulillah.. sudah sampai di sini!
    Berjalan dengan memegang erat peta mindmap
    Saatnya merayakan kemajuan yang sudah dicapai.
    Semua yang saya rasakan ada di kupu-kupu ini


    Kupu-kupunya penuh warna tetapi "kalem" ya?
    Menggambarkan rasa senang sekaligus tenang karena semua yang saya lakukan selama di kelas Bunda Cekatan berjalan sesuai dengan yang saya rencanakan, semaksimal yang saya bisa, dan hasilnya alhamdulillah berdampak pula dalam keseharian.
    Saya berniat tetap meneruskan isi mind map saya setelah kelas ini berakhir.

    Oh iya saya mendapat surat dari mentee, mak Netty..
    Maa syaa Allah bacanya haru.. 


    Alhamdulillah tidak hanya ilmu dari masing-masing kami yang bertambah tetapi juga kedekatan hati. Meski rasanya masih banyak hal yang harus dilakukan tetapi sudah sampai di titik ini lengkap dengan kemajuan yang kami dapatkan adalah hal yang patut disyukuri dan dirayakan.  Tentu menjadi pijakan langkah-langkah berikutnya juga. 

    Sebagai mentee, saya juga mendapat surat dari mentor

    aku kagum sama kerja keras mba Farida selama ini..utak atik resep dan semangat pantang menyerahnya itu Lo masyaallah. Gagal, coba lagi dan lagi.
    Trus mba Farida planernya rapiiih banget dan teratur 🥰

    Singkat ya suratnya.. wkwkwk
    langsung minta lagi versi panjang :D






    Cerita dalam Adonan Onde-onde

    "20 pak onde-onde untuk Rabu ya mbak.." tulis seorang sahabat baik di pesan instan.
    Sebentar.22 pak berarti 220 onde-onde?.. alhamdulillah rejeki pesanan.. iyesss! 😍
    "In syaa Allah.." balas saya cepat.
    Kabar baik ini pun segera sama sampaikan pada "tim produksi".
    "Siap-siap yaa"

    Sungguh untuk saat ini, ketika saya menuliskan tim produksi, jangan membayangkan sebuah tim dengan belasan apalagi puluhan karyawan.. melainkan hanya kami bertiga yakni saya, gendhuk dan si ragil. Di masa pandemi, sekolah libur lebih panjang, sehingga saya lebih leluasa untuk mengajak mereka membantu saya mengerjakan pesanan onde-onde atau pukis.  "Hikmah pandemi" demikian yang ada di pikiran saya.  Anak-anak belajar banyak hal sekaligus. Mulai dari hal teknis seperti membeli bahan, produksi, mengemas, proses pengiriman, hingga belajar mengasah empati, mencari solusi, bekerja dalam tim dan kemampuan untuk saling mensupport meski dalam lingkungan kecil, keluarga.

    Dulu sekali saat mereka duduk di bangku sekolah dasar belajar memang sudah pernah juga berjualan.  Saya ingat sekali di malam takbiran Genduk berinisiatif mengambil beberapa stok senter kecil yang ada di rumah lalu menjualnya pada teman sebaya yang ikut takbiran. Ragil juga sudah pernah mencoba berjualan mobil mainan.  Sesudah itu, jika ditanya mereka masih tetap menyatakan tidak terlalu suka berjualan namun bersedia terlibat dalam proses berjualan ketika dibutuhkan, sampai sekarang. Bagi saya, apa pun keputusan mereka tetap saya hargai. Tidak pernah saya memaksa harus memasang status berjualan di medsos dan sebagainya. Karena saya ingin mereka memutuskan sendiri dan menikmati apa yang dilakukan

    Alhamdulillah satu per satu pelajaran kehidupan buat anak-anak Allah suguhkan dengan indah tanpa perlu saya berpanjang lebar bicara.
    Sekarang, belajar dari lamanya proses membuat onde-onde,
    tak gampang lagi berucap sesuatu mahal atau murah hanya dengan membaca label harga...
    "Ibu jual segini gak kemurahan?" beberapa kali komentar demikian terucap.
    "Tuh bener kan, kalau kita beli dagangan orang lain kita suka bilang mahal. Bisa aja lho orang lain juga bilang onde-onde kita mahal.."jawab saya.
    "Iya juga sih.."

    Lain waktu jargon-jargon lucu pun terlontar...

    Sambil menggoreng onde-onde Genduk bilang,
    "Dari onde-onde kami belajar sabar.."
    Hahahahaha benar juga sih.. apalagi mengingat cukup "tricky"nya menggoreng onde-onde. Api awal tak boleh terlalu besar, minyak hangat, tidak boleh diangkat terlalu cepat karena akan penyok, dan lain sebagainya.
    Juga saat kami membuat snack onde-onde ketawa
    "Tak ada tawa dibalik onde-onde ketawa"
    karena ternyata dalam proses membuatnya tidak ada ketawa sama sekali saking ingin cepat selesai 🙈

    Di waktu sepi tidak ada pesanan..
    "Duh gabut nih biasa kerja keras" (tsaaahhh gaya 😂)
    Di waktu padat pesanan..
    "Masih banyak ya.. capek.."
    yang lain menimpali "Gak boleh gitu..Alhamdulillah ada pesenan.. bersyukur dapet duit" (ups 😁)

    Maa syaa Allah..
    Begini ceritanya emak pun makin semangat, hayookk ngadonin lagi!













    Selasa, Juni 30, 2020

    Sudah sampai mana?

    Pekan ke-6 mentorship kelas kupu-kupu kami kembali membahas fokus diri pada kemajuan proses keterampilan diri yang ingin dikuasai.  Bagi saya pribadi proses ini masih merupakan kelanjutan proses sebelumnya yakni dari tahap kepompong hanya meluas pada sub topik berikutnya yang memang ingin saya kuasai sebagaimana yang tertera dalam mind map.

    Selama menjalani proses tentu saja suasana hati tak selalu sama.  Ada kalanya semangat begitu tinggi, di lain waktu merasa lelah, dan di lain waktu biasa saja. Alhamdulillah di setiap waktu tersebut saya selalu berusaha tetap terhubung pada keterampilan yang ingin saya kuasai dalam bentuk apa saja yang saya bisa sesuai dengan suasana hari itu. Pekan ini saya membuat photo diary lho untuk gambaran suasana diri.
    Hari Jumat, saya meletakkan gambar jam weker. Saya merasa masih membutuhkan waktu yang banyak untuk membuat onde-onde dalam bentuk frozen yang memuaskan. Alhamdulillah untuk onde-onde bukan frozen sendiri saya sudah cukup puas.  Testimoni pembeli pun baik. 
    Hari Sabtu,  ikan menjadi pilihan simbol. Ikan hanya diam ketika tidur. Selebihnya ia selalu bergerak.  Demikian juga hari saya kala penasaran memenuhi ruang pikiran dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik. 
    Hari Minggu, seperti siput yang bersembunyi tenang dalam cangkang namun tetap "sibuk", saya tidak melakukan percobaan baru namun saya mengevaluasi dan mencatat proses yang sudah dilakukan. 
    Hari Senin, saya merasa harus terus menguatkan diri berjalan sesuai arah di peta yang yang sudah saya buat sehingga saya meletakkan gambar sandal jepit.
    Hari Selasa, saya memulai hari dengan belanja ide di media online (saya gambarkan seperti berada di samudera) dan membuat lagi percobaan baru.

    Hmm menurut mentor sendiri (mbak Esti, IP Semarang) saya seperti apa ya?
    Komentarnya membuat saya tersenyum..
    Mba tu happy banget kalau suru bereksperimen di dapur...dan pantang menyerah😍😍😍
    Moga bukan karena "pusing" liat setoran rencana dan progres ya mbaaak 😄
    Maturtengkiyuh..
    Dan buat saya, beliau seperti handphone full wifi. Asiklah selalu berusaha tersambung meski lagi full asap kompor seperti tadi pagi 😁




     Terakhir.. lembar catatan kemajuan

    Onde-onde mengajarkan banyak hal..
    Gak cuma buat saya tetapi juga buat anak-anak yang ikut membantu saya.
    Kata gendhuk "darimu aku belajar sabar"
    Tapi bener lho.. mulai dari membuat adonan, membentuknya, sampai menggoreng..
    Kadang rasa ingin memiliki hasil sempurna itu membuat gelisah sementara di satu sisi merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.
    Buat saya, selain ketekunan, menata waktu, mempertahankan semangat, saya juga belajar menyerahkan hasil pada Allah dan menerimanya.

    Di posisi sebagai mentor saya juga mendapatkan pelajaran seperti cara teknis menemani mentee untuk fokus pada hal yang sedang dilakukan dan pada tujuan mentorship.
    Alhamdulillah perlahan tapi pasti hasil edit foto mak Netty semakin bagus 👍👍
    Mak Netty memberikan simbol superwoman kepada saya selaku mentor.
    Makasih Maak 😍
    Siap terbang kemana-mana.. eh salah.. in syaa Allah siap belajar terus jadi superwoman yang Allah ridhoi.. aamiin



    Selasa, Juni 23, 2020

    Cek Kemajuan Mentorship

    Apakabar mentorhipmu?
    Mentorship saya alhamdulillah, iyeesss masih menyenangkan 😍
    Setiap pertemuan ada saja yang saya dapatkan baik sebagai mentee maupun sebagai mentor.

    Di jurnal pekan ini saya melampirkan catatan kemajuan kepada mentor


    Sambil mendiskusikan juga beberapa permasalahan yang saya jumpai dalam memasak kembali onde-onde yang sudah dibekukan juga tampilannya.

    Ketika saya mengangkat topik tentang false celebration, kami berdua sama-sama bingung dan akhirnya tertawa bersama mengingat cara kami yang santai dan akrab dalam berdiskusi namun lemah dalam urusan waktu online yang tak biasa.  Dengan kesibukan masing-masing kadang dini hari kami baru bisa diskusi. Hmm..pernah juga pagi hari sebagaimana waktu diskusi orang lainnya. Tetapi kami berdua cukup menikmati dan saling sapa tanpa menunggu siapa yang harus memulai lebih dahulu.

    Sementara bersama mentee ada satu hal yang menjadi bahasan kami berdua terkait false celebration yakni soal fokus belajar, menjaga agar tak tergoda pada hal lain.  Pada mentee saya sampaikan insight yang saya dapatkan dari mentor tentang fokus pada satu produk terlebih dahulu untuk branding. Dan sebenarnya efeknya tidak hanya bagi orang lain dalam menilai apa yang kita lakukan tetapi juga pada diri kita sendiri.

    Untuk perkembangan edit foto, alhamdulillah mentee sudah lebih baik dalam menetapkan fokus dan hasil editing pun sudah lebih tajam.
    Mentee saya membuat jurnal belajar editing dan kami mendiskusikan hasil foto dalam jurnal tersebut.
    Jika pekan lalu saya membuat tantangan untuk mengedit foto dengan komposisi foto seperti hasil akhir yang ia inginkan, maka untuk pekan ini saya membuat tantangan menggunakan tools expand pada snapseed, menghilangkan vignete dan membandingkan hasilnya dengan foto asli.

    Oh iya untuk false celebration dari penghuni rumah, tentang marah yang kadang masih muncul saat saya lelah/sibuk dengan urusan saya sendiri. Manajemen emosi ini memang masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus saya latih, agar lebih bisa mengendalikan diri dalam kondisi apapun.  Makasih sudah diingatkaaan 😘

    Senin, Juni 22, 2020

    Evaluasi Mandiri Fasilitasi Matrikulasi : Core Value Belajar

    Sudah bergabung dengan komunitas Ibu Profesional?
    Masih ingat apa core value komunitas ini?
    Atau lupa-lupa ingat?
    Atau ingat-ingat lupa?
    (Weleeeh tetep aja judulnya "lupa" Maaak 🙈)
    Bismillah, diulang lagi yak!

    Ada 5 core value komunitas Ibu Profesional yakni

    • Belajar
    • Berkembang
    • Berkarya
    • Berbagi
    • Berdampak
    Di perkuliahan Matrikulasi IIP  Batch #8 topik utama yang diangkat adalah core value Belajar. 
    (Topik yang "gue banget" karena saya amat suka belajar 😍)

    Masing-masing widyaiswara mendapat amanah untuk membuat video berbagi pengalaman seputar proses belajar yang telah dijalani.  Para peserta matrikulasi bertugas mengumpulkan hikmah dari setiap cerita berbagi yang disampaikan. Beberapa hari kemudian, untuk menguatkan proses, masing-masing widyaiswara menetapkan waktu diskusi yang bisa dipilih oleh peserta.

    Di bawah ini adalah jurnal evaluasi mandiri saya seusai diskusi :

    Core Value Belajar

    Alhamdulillah saya berkesempatan membersamai para mahasiswi matrikulasi batch #8 untuk berdiskusi tentang core value belajar yang dikaitkan dengan makna Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga yang telah dibahas sebelumnya di wag Matrikulasi IIP Batch#8.. Diskusi sedianya dimulai pukul 16.00 namun karena sesuatu hal yang di luar dugaan, saya terlambat 30 menit.  Oleh karena itu diskusi yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00-17.00 menjadi pukul 16.30-17.15 (penambahan waktu meruapakan hasil kesepakatan dengan peserta).

    Bagi saya sendiri, sungguh ini menjadi catatan penting yang harus diperhatikan.

    Sebelum diskusi dimulai saya menyampaikan beberapa peraturan antara lain tidak menjawab atau berkomentar di luar yang ditanyakan dan sedang dibahas. Saya sampaikan demikian agar semua menjadi lebih fokus pada topik yang sedang didiskusikan.

    Mengenali Prioritas


    Selanjutnya diskusi buka dengan pertanyaan yang menggelitik respon peserta dalam menetapkan skala prioritas sebagai seorang ibu lewat cerita berikut : 


    Jika suatu ketika Bunda sedang bersiap menyimak materi perkuliahan ternyata berbarengan dengan si kecil menangis, di luar hujan (jemuran belum diangkat) dan air berdesis tanda matang, apa yang akan Bunda lakukan?


    Cerita ini adalah peristiwa yang sangat mungkin terjadi dalam keseharian.
    Saya menggunakan tehnik fasilitasi Power of Question (dengan memberikan pertanyaan kunci untuk memantik proses berpikir) dan Make Space (memberikan ruang bagi para mahasiswi untuk berpikir) .
    Ternyata memang beragam sekali respon yang diberikan namun sebagian besar menulis akan mengajukan izin sebentar dan mengurus pekerjaan rumah terlebih dahulu, entah pilihannya pada mengurus anak, air yang mendidih, atau jemuran.
    Ini menunjukkan prioritas utama tetaplah pada keluarga.
    Hal demikian perlu saya tanyakan karena saya ingin mengetahui lebih jelas prioritas mahasiswi yang berkaitan dengan tugas sebelumnya yakni makna Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga versi terbaik diri sendiri.  Tentu harapannya adalah makna yang dituliskan adalah makna yang akan menjelma dalam keseharian mahasiswi dalam menjalani perannya sebagai seorang ibu.

    Ada hal menarik dari sebagian besar komentar yang ada yaitu meminta izin sebelumnya pada pemateri. Ini menunjukkan mahasiswi mulai menerapkan adab dalam menuntut ilmu dan berusaha mempraktekkan/membumikan materi CoC yang sudah diperoleh juga sebelumnya.

    Menginternalisasikan Makna Ibu Profesional 

    Menetapkan sebuah makna versi terbaik diri sendiri hanya akan menjadi sebuah makna tertulis
    manakala makna tersebut tidak menginternalisasi dalam diri dan diterapkan. 
    Setelah memiliki makna versi diri sendiri,
    kemudian diajak untuk berpikir tentang sebuah kasus/peristiwa,
    maka berikutnya adalah bagaimana cara menginternalisasikan makna tersebut versi diri sendiri juga.

    Saya menuliskan pertanyaan pemancing berpikir 

    Berkaitan dengan makna Ibu Profesional yang telah kita bahas sebelumnya,
    adakah yang ingin menuliskan apa yang harus kita lakukan
    agar makna tersebut menginternalisasi dalam diri kita?

    Karena saya ingin mengaitkan dengan core value belajar
    maka saya mengarahkan percakapan pada kata kunci “belajar”
    sebagai bagian cari cara untuk menginternalisasikan makna.
    Setelah mendapatkan kata kunci tersebut, saya pun melanjutkan diskusi ke topik berikutnya.


    Menjadi Ibu Pembelajar


    Core Value IIP yang pertama adalah belajar. 
    Setiap ibu dalam komunitas ini semestinya  merupakan seorang ibu pembelajar,
    terutama belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan perannya
    sebagai seorang perempuan, istri, dan ibu. 

    Waktu sisa yang singkat saya gunakan untuk menuliskan pertanyaan berikut 

    Seberapa penting bagi kita untuk menjadi seorang ibu pembelajar?
    Apa yang akan kita dapatkan dengan menjadi seorang ibu pembelajar?

    Pertanyaan yang juga menjadi evaluasi sekaligus pemantik belajar bagi diri saya sendiri


    Kesimpulan Evaluasi
    Dari fasilitasi ini saya 
    • Merasa harus lebih banyak lagi menambah pengetahuan dan
    • Memahami serta terampil menguasai beragam tehnik memfasilitasi 
    • Membuat perencanaan fasilitasi dengan lebih baik
    • Lebih memperhatikan masalah waktu
    • Menambah koleksi ungkapan percakan keseharian (untuk menambah keakraban)

    Semangat memfasilitasi lebih baik! 💪

    Rabu, Juni 17, 2020

    Widyaiswara Matrikulasi IIP Batch #8

    "Menjadi fasilitator adalah cara elegan untuk mengulang kembali materi yang sudah didapat"
    Saya mengangguk dalam hati, membenarkan perkataan yang diucapkan seorang teman, sesama fasilitator karena saya merasa memang demikian adanya.
    Setiap kali amanah menjadi fasilitator datang, hati saya bersorak "Iyessss! Alhamdulillah kesempatan belajar sekaligus berbagi itu datang lagi"

    Dan sekarang adalah kali kedua saya menjadi fasilitator matrikulasi. Ada yang berbeda, kali ini sebutannya adalah widyaiswara.
    Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia,

    wid·ya·is·wa·ra/ n 1 guru; 2 Adm jabatan fungsional yang diberikan kepada pegawai negeri sipil dengan tugas mendidik, mengajar dan/atau melatih secara penuh pada unit pendidikan dan pelatihan dari instansi pemerintah

    Memang kita lebih sering mendengar pengertian widyaiswara merujuk pada fungsional aparatur sipil negara dibandingkan sebagai guru.
    Namun saya sendiri tidak terlalu memusingkan hal yang demikian.
    Fokus saya adalah pada kata "belajar" dan "berbagi".

    Tidak hanya istilah untuk fasilitator yang berbeda, di batch #8 ini matrikulasi Institut Ibu Profesional pun disajikan dengan cara yang berbeda, yakni dalam bentuk game.
    Para peserta matrikulasi diajak menaiki kapal penjelajah samudera matrikulasi setelah sebelumnya mereka harus menemukan 3 kerang mutiara yang akan dijadikan bekal selama perjalanan.
    Dan di dalam kapal penjelajah mereka tidak hanya duduk manis membaca materi dan berdiskusi sambil menikmati deburan ombak yang lembut.. tetapi juga mengerjakan beberapa misi.

    Kami, para widyaiswara, bertugas utamanya untuk membersamai peserta menemukan harta karun. Yang kami lakukan, berbagi ilmu apa saja yang kami pahami serta berbagi cerita apa saja yang sudah kami lakukan.  Kemudian peserta akan menarik benang merah dari cerita semua widyaiswara dan mengambil hikmah ilmu dan pelajaran hidup (harta karun) versi mereka sendiri.
    Cerita yang kami bagi dikemas dalam beberapa bentuk seperti video, podcast (untuk pantun dan kisah berbagi), dan grup diskusi.
    Kalau grup diskusi, alhamdulillah saya sudah terbiasa.
    Tapi membuat video dan podcast? wow ini sebuah pengalaman baru!
    Di sinilah sisi menarik lain dari pembelajaran di Institut Ibu Profesioanl. Karena tak hanya peserta perkuliahan yang belajar hal baru, widyaiswaranya pun juga.

    Terus terang saja saya kurang nyaman dan belum terbiasa dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan rekaman audio visual pribadi (bukan dalam bentuk kelompok) yang dibagikan untuk orang lain.  Rasanya seperti semua terfokuskan pada saya (hahahahah ge'er akut..)
    Kalau di Bestari dulu, fokus tentu pada grup/banyak orang.  Posisi saya sendiri bukan sebagai lead vokal utama.  Sehingga kadang yang mana suara saya, sulit tertebak. Dengan kata lain, "aman!"
    Benar-benar sebuah tantangan merekam video dan podcast sendiri.
    Kami diberi tugas merekam maksimal 3 menit, sementara saya untuk mendapatkan bisa mendapatkan rekaman yang diinginkan harus mengulang berkali-kali hingga membutuhkan waktu setidaknya 2 jam. Ada saja penyebab saya harus mengulang.. suara kucing, cucian piring.. duh tantangan sekali!

    Alhamdulillah di sisi lain saya merasa didorong untuk belajar keluar dari zona nyaman dan berani mencoba sesuatu hal yang baru. Hasilnya tentu tak sebagus yang sudah biasa membuat podcast atau vlog. Kalau dilihat lagi videonya.. "kok rada aneh ya mimik wajah saya.."
    dan komentar Gendhuk saat mendengar podcast saya
    "Ibu kayak lagi ngomong sama anak TK"
    "Yaaa kaan dulu ngajar TK" dalih saya
    Sedangkan si Mbarep bilang "Ibu gitu juga dong kalo ngomong sehari-hari.. lembut"
    "Perasaan ibu gak bentak-bentak juga deh.. mau Ibu contohin suara bentak-bentak kayak gimana?"
    "Tapi gak selembut iniiiii..." si mbarep tetap bersikukuh
    Hahahha sudahlah..
    Akhirnya kami pun tertawa bersama

    Kapok jadi widyaiswara?
    Gak laaah
    Belajar dan Berbagi gak pernah bikin kapok
    Malah nagih
    Selagi Allah beri kesempatan melakukannya..
    Semoga selalu..
    Aamiin





    Selasa, Juni 16, 2020

    Chek In

    Pssstttt.. check in penginapan? kan lagi masa pandemi?
    Hehehehe bukan..
    Ini adalah check in mentorship
    Mengecek apakah mentorship kami tetap dalam satu alur rencana sesuai dengan mind map dan mengecek sejauh mana kenyamanan kami sebagai mentor dan mentee
    Dan hasilnya OK! alhamdulillah..

    Sebagai Mentee

    Alhamdulillah setelah menyerahkan rencana belajar di pertemuan online sebelumnya kami menjadi lebih terarah dan mentor pun langsung paham apa yang perlu kami bahas.
    Lagi-lagi disela waktu luangnya beliau menyempatkan diri untuk mengirimkan sebuah pesan pada saya sesuai dengan pertanyaan yang sudah saya ajukan.
    Rupanya metode seperti ini memang lebih cocok untuk beliau.
    Saya pun juga lebih nyaman mengerjakannya di jam online saya sendiri.
    Jadi secara komunikasi dan kenyamanan tidak ada kendala.
    Untuk jurnal frozen foos sendiri, pekan ini yang saya lakukan adalah meneruskan percobaan frozen food dengan freezer biasa lewat dari sepekan.
    Hasilnya, ternyata masih banyak yang harus saya perbaiki.. (semangaaatt.. *tepuk-tepuk pundak sendiri)


    Sebagai Mentor

    Sebagaimana komunikasi saya sebagai mentee dengan mentor, alhamdulillah dalam posisi mentor pun komunikasi berjalan dengan baik. Sungguh saya bersyukur bertemu dengan mentor dan mentee yang komunikatif dan amat fleksibel soal waktu diskusi.
    Seringnya saya berdiskusi dengan mentee di pagi hari.
    Program mentorship edit foto masih terus berjalan.  Mak Netty, mentee, mengatakan akan menyetorkan tugas edit 2 foto per pekan. Saya menyetujuinya. Lalu kami mendiskusikan hasil edit foto yang dibuat oleh mak Netty dalam sebuah link google doc tersendiri. Di bawah foto tersebut berikan keterangan tool edit snapseed apa yang digunakan oleh mak Netty beserta ukurannya.
    Oh iya di rencana mentorship sebelumnya saya meminta mak Netty melampirkan contoh sebuah foto yang menjadi target hasil akhir yang diinginkan.
    Setelah mengamati foto yang diedit mak Netty, untuk memudahkan memberi gambaran proses edit sesuai hasil akhir maka saya meminta mak Netty mengambil foto baru dengan posisi yang sama dan kembali diedit. Kali ini saya juga meminta foto edit disejajarkan antara foto sebelum dan sesusudah edit. Beberapa masukan juga saya berikan dalam catatan dokumen.

    Selasa, Juni 09, 2020

    Menyusun Rencana Mentorship


    Program Kelas Kupu-kupu Bunda Cekatan kali ini memasuki tahap menyusun rencana mentorship, menetapkan tujuan dan skala prioritas. 
    Tentu saja bukan hal yang mudah menuliskannya.  Saya masih mengaitkan hal ini pada topik "Cemilan Enak dan Ekonomis" dalam mind map serta beberapa sub topik yang menyertainya.
    Pertama kali yang saya susun adalah tujuan saya beberapa waktu ke depan seperti yang tercantum dalam tabel berikut.


    Dari tabel dapat dilihat bahwa keinginan saya adalah memiliki produk sendiri terlebih dahulu dan membuat brand. Saya memulainya dengan membuat beberapa cemilan andalan dan membuat logo produk.  Meski masih sederhana saya cukup puas dengan logo yang saya buat sendiri ini. Dari tes ombak produk yang saya lakukan alhamdulillah produk cemilan yang saya jual direspon dengan baik oleh para pembeli. 

    Sesuatu hal yang dibagikan pada orang lain akan semakin besar kebermanfaatannya manakala kita sendiri sudah melakukan hal tersebut..setuju ya?
    Hal ini yang mendorong saya untuk memulai usaha sendiri. 
    Saya berharap pengalaman saya memproduksi dan menjual kelak akan bisa bermanfaat pula di masa berikut, mencapai tujuan akhir di mana saya ingin membantu para ibu dhuafa baik dalam bentuk menyediakan lapangan kerja serta membuat pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang kuliner/dan mandiri finansial pula. 

    Langkah berikutnya adalah menerapkan skala prioritas hal-hal yang penting untuk saya kuasai berkaitan dengan cemilan enak dan ekonomis. Ada 20 topik ilmu yang ingin saya pelajari.  Sebagian ada yang sudah saya pelajari beberapa tahun yang lalu. Dengan berkembang pesatnya dunia pengetahuan saya merasa penting untuk mempelajarinya kembali sesuai dengan keadaan saat ini.




    Topik program mentorship yang saya pilih adalah frozen food. Topik ini saya pilih karena saya ingin bisa memasarkan produk ke dalam jangkauan area yang lebih luas lagi. Kepada mentor saya sampaikan 7 pertanyaan mendasar seputar forzen food yang ingin saya ketahui. 
    Mentor saya, seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia frozen food, sangat komunikatif komunikatif dan cepat merespon pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di sela-sela kesibukannya mengelola bisnis frozen food dan menerima pesanan roti maryam.

    Terakhir, saya membuat action plan (rencana yang akan saya lakukan) dalam mentorship. 
    Sudah ada dua produk cemilan yang saya bekukan namun bukan dalam mesin pendingin khusus.
    Hasilnya masih perlu saya evaluasi dan diulang beberapa kali untuk memastikan hasil yang saya inginkan.


    Jumat, Mei 15, 2020

    Program Mentorship Pekan Kedua

    The second week of mentorship is a time for face-to-face mentors and mentees. Let it get closer and get to know each other too.
    "5-10 minutes is enough," we instructed.
    But for mothers who have a stock of 20,000 words, they already know the duration will be longer.
    It's just a matter of starting.
    In addition to face-to-face online, we began to make personal assessments both as mentors and mentees.

    Eh ini kenapa jadi bahasa Inggris yak?
    Ups, sepertinya ada salah klik
    Balik Indonesia lagi ajalah.. wkwkwk mamak gak pede


    Video Call dengan Mentee

    Video call pertama via messenger facebook saya lakukan bersama mentee kesayangan, mak Netty.
    Kami masih melanjutkan obrolan tentang ekplorasi di snapseed dan hasil akhir apa yang diinginkan dari editing ini.
    Mak Netty menyampaikan kalau ia ingin tampilan foto makanan yang menarik.
    Sebelumnya mak Netty juga sudah mencoba beberapa aplikasi edit foto. Dan memang aplikasi edit banyak sekali.  Saya sampaikan yang inti adalah foto dan pesan yang ingin disampaikannya. Edit foto hanyalah pelengkap.
    Lalu kami membahas foto kue lumpur surga yang sudah dibagikan mak Netty beberapa hari yang lain. Dalam foto tersebut ada 4 kue lumpur siap disantap.
    Saya tanyakan kira-kira supaya orang bisa mengetahui rasa kue lumpur surga memang bisa membuat ketagihan karena lembut dan enak apa ya yang perlu ditampilkan?
    Cukup bagian permukaan luarnya atau bagaimana?


    Video Call dengan Mentor


    Akhirnya jadi juga video callnya
    Bisa lihat mbak mentor, Esti,  secara langsung deh
    Qiqiqiqi sesekali anak-anaknya ikut mengintip video call kami.

    Di obrolan sebelumnya saya bercerita pada mbak Esti kalau saya sedang mempertimbangkan untuk membuat frozen pukis. Mbak Esti menyampaikan kalau memang nanti bisa dipanaskan dan tidak mengubah rasa, coba saja.  Beliau sendiri belum pernah membuat frozen pukis.

    Oh iya selain membuat roti maryam beku, mbak Esti juga membuat pastel beku. Alhamdulillah bulan lalu saya pernah mencoba membekukan pastel yang sudah saya goreng setengah matang sebelumnya tapi ternyata agak sulit menyusun pastelnya di dalam plastik dan ketika sudah beku dan dikeluarkan dari plastik, kulit pastel menyatu.

    Jumat, Mei 08, 2020

    Si Kepompong pun Menjadi Kupu-kupu

    Holaaaa sekarang saya sudah menjadi kupu-kupu!
    Meski baru keluar dari kepompong tapi sudah mulai terbang perlahan menghampiri kupu lain.
    Aaah dahaga akan ilmu belum selesai..
    Selama masa kepompong banyak hal yang sudah dilakukan, membentuk diri menjadi seperti yang diinginkan..
    Dan kini saatnya kembali mencari nektar ilmu untuk semakin mendekatkan pada tujuan..
    Mind maaap.. mana mind map..
    Nah ini dia!

    Sesuai dengan mind map (peta belajar) yang dulu sekali saya buat, fokus saya ada pembuatan cemilan yang ekonomis dan enak serta membuat jurnal proses.
    Alhamdulillah keduanya sudah selesai dilakukan dan saya sudah mendapatkan setidaknya 4 resep cemilan ala saya sendiri.
    Kini saya ingin mencari ilmu tentang frozen food.
    Alhamdulillah bertemu dengan seorang mentor, namanya Esti dari IP regional Semarang.
    Beliau memang memiliki usaha frozen food dan bakulan kue juga.
    Mungkin karena sesama bakul kue, kami cepat sekali akrab.
    Waktu online pun tidak begitu banyak mengalami kesulitan dalam penyesuaian karena kami sama-sama menyadari waktu online yang dimiliki tak tentu.
    Sssttt kami berdua juga jarang bermedsos.. makin banyaklah kesamaan waktu tidak onlinenya..hahahhaa.
    Tapi kami berdua juga menggunakan whatsapp untuk saling membuat janji online.

    Selain menjadi murid (mentee) saya juga menjadi mentor.  Ilmu yang saya tawarkan adalah belajar menggunakan aplikasi snapseed. Alhamdulillah cepat sekali gayung bersambut dengan mak Netty, teman sesama IP Depok, yang ingin belajar mengolah foto. Katanya, ia ingin foto makanan yang diproduksinya tampil semakin menarik.

    Rabu, April 22, 2020

    Hari Ketigapuluh Kepompong

    Finally sampai juga di hari ke 30!
    Dan saya bersyukur banget hari ini bisa menemukan resep yang semakin mendekati serabi solo yang saya inginkan.
    Nyoba bikin serabi sampai dua kali dan nyaris lupa setor jurnal..qiqiqi

    Resep yang saya pakai tetap resep serabi tanpa telur.
    Masih mirip dengan resep sebelumnya hanya saja terigu saya kurang 10 gram dan air ditambah hingga total mencapai 800 ml untuk 200 gram tepung beras.
    Sebenarnya saya tidak serta merta langsung menuang 800 ml melainkan dalam tahapan.
    Setelah saya yakin dalam keadaan encer masih bisa membentuk serat baru saya tambahkan lagi larutannya.

    Hari ini juga saya mencoba beberapa perlakuan yang berkaitan dengan areh.
    Saya bandingkan adonan yang telah dituang ke cetakan kemudian

    • tidak diberikan areh
    • dituangkan bagian tengah saja
    • dituangkan sekeliling
    Waktu penuangan,
    • segera setelah adonan dituang
    • menunggu keluar pori-pori (dalam keadaan setengah matang) setelah dituang
    • menjelang matang
    Jenis wajan
    • Teflon, yang saya maksud adalah cetakan serabi dengan 4 lubang dalam satu wajan. Hasilnya sulit mendapatkan bagian bawah dan pinggiran yang coklat kecuali dioleskan mentega dan api yang sedang menuju besar
    • Alumunium, pinggiran serabi lebih renyah dan mudah coklat karena wajan lebih cepat panas sehingga harus hati-hati agak tidak cepat gosong sementara serat belum banyak terbentuk
    Menyusul in syaa Allah akan saya coba menggunakan wajan serabi dari tanah liat 

    Kekentalan areh
    • Sedang
    • Kental
    • Sangat Kental
    Banyak ya yang dicoba 😆
    Ini belum termasuk pengemasan ..hehehe
    Bagi saya mengetahui hasil dari beberapa perlakuan (meskipun ada yang bisa dikategorikan gagal) tetap menyenangkan karena bisa menambah ilmu yang semoga kelak bisa bermanfaat pula bagi orang lain.. aamiin

    Menutup tantangan 30 Hari Kelas Bunda Cekatan dengan Alhamdulillah..