Selasa, Maret 17, 2020

Dari Telur Hingga Ulat

Sudah berapa bulan ya mengikuti kelas Bunda Cekatan? Sebentar... hmm kurang lebih tiga bulan. Dan diperkirakan masih ada tiga bulan ke depan lagi yang harus dijalani jika ingin lulus kelas ini. Jenuh? Gaklah. Mungkin karena tantangan kelas ini lebih ke diri sendiri jadi yang dikerjakan pun bebas ala diri sendiri.  Berbeda dengan kelas Bunda Sayang dimana tantangan game lebih pada kegiatan membersamai anak (yang berarti tergantung juga pada mood anak dan sebagainya). Persamaan kelas Bunda Cekatan dan Bunda Sayang,  sama-sama  harus menjaga stamina pikiran, hati, fisik serta melatih kecekatan diri terutama dalam mengatur waktu. Pokoknya kudu setronglah..

Ada dua tagline utama dari kelas Bunda Cekatan yakni #janganlupabahagia dan #merdekabelajar. Benar ya.. jadi emak gak boleh lupa kalau kebahagiaan diri emak itu penting. Mengurusi pekerjaan rumah yang seabreg dengan segala kehebohannya membutuhkan energi yang besar. Kalau gak ngerti cara untuk bahagia atau malah gak bahagia bagaimana bisa memberi kebahagiaan untuk anggota keluarga yang lain? Kebahagiaan, menjadi point pertama yang saya beri stabilo pink agar saya selalu ingat. Apakah kebahagiaan emak berarti emak harus selalu nomor satu? dalam penerapannya tentu bentuknya tidak melulu seperti itu.  Seperti yang saya tuliskan di postingan sebelumnya, adakalanya kebahagiaan emak terjadi manakala anggota keluarga lain bahagia.  Melihat anak makan dengan lahap, emak bahagia (iyessss keringat capek langsung menguap), melihat suami sehat emak bahagia, dan seterusnya.  
Di kelas Buncek inilah saya kembali belajar mendefinisikan bahagia.. 
Bahagia seperti apa yang saya mau? 
Apa saja yang bisa membuat saya bahagia?

Sementara dari tagline merdeka belajar, saya belajar pula untuk memberi makna lebih dalam pada kata merdeka. Sudah pasti belajar yang dimaksud adalah belajar tanpa sekat ruang kelas. Tetapi merdeka? 
Ternyata kami diberi kebebasan untuk menentukan belajar seperti apa yang kami mau.
Bukan dalam arti sebebas-bebasnya atau semaunya sendiri lho yaa melainkan merdeka yang bertanggung jawab.
Contohnya ketika sudah di tahap membuat peta belajar, kami boleh merevisi kembali telur-telur yang sudah dibuat jika ternyata kami merasa telur yang kami buat ternyata tidak tepat. Tapi kami harus memahami juga perubahan yang dibuat akan berpengaruh pada tahapan berikutnya.
Termasuk merdeka dalam belajar, kami oleh menyetorkan tugas dalam bentuk platform apa pun. 
Mau dalam bentuk tulisan di blog seperti yang saya lakukan sekarang? boleh. 
Mau dalam bentuk video karena merasa lebih praktis dan memang suka belajar lewat lisan? boleh
Mau dalam bentuk gambar saja? boleh juga.
Hasilnya, kami bisa melihat berbagai bentuk media belajar.  Saat dibuat parade, wow kereeen!
Tetapi ada juga tugas yang harus disetor dalam bentuk video. Duh tantangan banget buat saya yang pemalu (please percaya aja yah kalau saya pemalu..hahahahaha).  Saya didorong untuk keluar dari zona nyaman.  Sampai butuh semedi lama di kamar agar bisa khusuk.  Entah berapa kali harus mengulang sampai saya mendapatkan hasil yang saya inginkan.  Itu pun hasilnyaa.. aah yang penting prosesnya kaaan (ngeles..wkwkwk)

Hal lain apa lagi ya yang berkesan?
Oh ini.. ketika kami mencari setidaknya 5 orang teman, kemudian kami bertanya apa keluarga favoritnya dan alasan memilih keluarga tersebut.
Lagi-lagi tantangan untuk keluar dari zona nyaman. 
Pada awal mendapatkan tugas kami juga menerka-nerka apa ya hubungan tugas ini dengan proses belajar? Mengapa tak ada hubungannya dengan mind map yang kami buat?
Setelah selesai mengerjakan tugas, di wag kelas satu per satu mengalirkan rasa.
Ternyata maa syaa Allah banyak hikmah yang kami dapatkan.










0 Comments:

Posting Komentar

Haiii.. tanpa mengurangi keakraban, silahkan berkomentar dengan baik dan sopan yaa.. Komentar bersifat spam tidak akan dipublikasi