Selasa, Februari 25, 2020

Hadiah Ilmu yang Menyenangkan!

Di jam gentayangan,  notifikasi whatsapp tampak di layar hp..
"Eh siapa ya yang jam segini melek juga?" pikir saya..
Dan ternyata.. oalaa dari mbak Wawak, peserta kelas Bunda Cekatan juga tetapi dari Semarang.
Mbak Wawak mengirim hadiah istimewa, sebuah resep "Pizza Meat and Cheese"
Hwaaa seneeeng.. alhamdulillah
Kok ya bisa pas, saya sedang mengumpulkan resep pizza untuk bahan belajar berikutnya.
Maturnuwun sanget njih mbak .. 😍

Pagi hari sebelumnya, mbak Fa dari Temanggung mengirimkan saya dua file pdf. Yang satu kumpulan resep Aneka Olahan Tahu dan Tempe sedangkan yang satu lagi kumpulan resep Masakan Oriental.
Sekedar informasi (penting buat diketahui..hahahaha) tahu dan tempe ini lauk yang paling sering saya masak di rumah. Kalau sedang rajin tahu dan tempe menjadi bentuk sate, nugget, patty, fu yung hai, tumisan, dikukus, digoreng.. bermacam-macamlah. Kumpulan resep yang dihadiahkan mbak Fa menambah ide masakan lagi.. berbinar-binar deh emak.. tahu tempe ayem kamiiiing..

Dua hari sebelumnya,  saat bangun tidur sore (seriusan ini ketiduran karena saya jarang banget tidur sore), saya kaget melihat sebuah plastik berisi tepung, minyak, dan gula  tepat berada di sisi tempat tidur.
"Waduh kok tepung di kamar ya? sesuka-sukanya bikin kue gak sampai kamar juga deh.." pikir saya.
"Ayah, ini belanjaan siapa kok ada di kamar?"
Si Mbarep yang menjawab "Tadi ada ibu-ibu dateng nanya ini rumah bu Farida? trus ngasih itu.."
Buru-buru cek handphone.. maa syaa Allah dari mak Dyas. ("Mak" adalah sapaan kami sesama anggota IIP regional Depok)
Tahu banget sih Maak..  lagi butuh banyak tepung buat project pribadi uji resep 😁
Alhamdulillah..

Dan tiga hari sebelumnya, saya mendapat hadiah link dari mak Hani tentang membuat jurnal resep menggunakan bullet journal. Ada doodle ikon resep gratisannya juga! Bikin gak sabaaar ingin cepat membuat jurnal.
Dari mak Ami, yang ikut dalam kelas Manajemen Belajar, saya mendapatkan link aplikasi untuk membaca ringkasan buku. Gratis Maaak.. membantu emak seperti saya yang suka membaca buku dan harus menentukan buku mana yang paling tepat untuk dikunyah sesuai kebutuhan.

Sebelumnya lagi masih ada resep Onde-onde pelangi dari Mak Ika. sebelumnya lagi..sebelumnya lagi..
Maa syaa Allah..
Saya yakin juga akan ada sesudahnya lagi dan sesudahnya hadiah-hadiah ilmu ini berdatangan.
Hadiah ilmu yang mampu membuat kita tersenyum lebar dan tak sabar ingin membacanya.

Saya jadi teringat sebuah hadits yang mungkin hampir semua anak TK Islam hapal

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

"Salinglah kali memberi hadiah maka kalian akan saling mencintai" (HR Bukhori)

Persis seperti ini yang kami rasakan saat memberi dan menerma hadiah. Awalnya kami tidak begitu mengenal satu sama lain karena berbeda regional, kemudian secara personal berkenalan, kemudian saling memberi hadiah, dan kami merasakan kedekatan yang lebih.
Hal lain yang juga kami rasakan adalah, kami berlatih mengolah rasa dan mempekakan hati.
Bukan peka terus jadi baper lho..
Tapi dengan memberi hadiah kami mengasah kepekaan terhadap keinginan dan kebutuhan orang lain. Semakin sering memberi, semakin peka.

Dalam keseharian berkeluarga juga tak lepas dari memberi.  Bantuan-bantuan kecil seperti mengambilkan barang, perhatian, pelukan, kado, hidangan yang enak, sampai senyuman kecil pun bisa menjadi sebuah hadiah yang saling mengeratkan satu sama lain. Hadiah, memang tak selalu menyenangkan. Di situlah kita kembali belajar untuk menerima. 

Beidewei saya membaca di salah satu artikel yang menuliskan hadits bahwa Rasulullah SAW selalu membalas pemberian/hadiah orang lain. Rasulullah SAW melakukan demikian pasti karena ada kebaikan besar dibalik sebuah hadiah.  Bahkan Rasulullah pun berpesan untuk kita, para muslimah, tetap memberi hadiah walaupun jumlahnya sedikit (sebatas kemampuan)

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

"Wahai para wanita muslimah tetaplah memberi hadiah kepada tetangga, walau hanya kaki kambing yang diberi" (HR Bukhari no 2566 dan Muslim, no 1030)

Jangan diartikan secara harfiah minimal pemberin adalah kaki kambing juga untuk di Indonesia yah.. tentu berbeda lagi. Tetapi intinya adalah sebatas kemampuan minimal yang bisa kita berikan.

Oh iya saya sendiri juga memberikan hadiah untuk teman-teman kesayangan. Ada link youtube olahraga untuk Mak Dyas, ada ebook belajar untuk teman-teman yang masih memiliki anak balita, dan sebuah poster makanan dalam 1 piring untuk teman-teman yang ingin membuat manajemen menu sehat. 

Semoga Allah mampukan untuk selalu bisa memberi dalam kebaikan.. aamiin






Selasa, Februari 18, 2020

Ngobrol Seru di Kebun Apel

Masih kemping di Kebun Apel Bunda Cekatan.
Tukeran potluck ilmu, sudah..
Mencari keluarga favorit dan bertukar ilmu, sudah..
Sekarang waktunya berkeliling, bertemu teman-teman lain trus ngobrol syantik deh..
Hummm .. ngobrol sama siapa ya?
Sebentar, bawa catatan sekalian ah
Pengen tahu juga apa sih keluarga favorit teman-temanku ini..

Tengok sana-sini.. ketuk pintu tenda (alias wapri 😀) alhamdulillah ketemu temen-temen yang ternyata seru juga pas diajak ngobrol.. padahal beberapa baru kenal lho..
Eh sebelumnya saya mengenalkan diri juga dari keluarga Ratu Dapur.
Keluarga ini menjadi keluarga favorit karena saya suka sekali berkegiatan di Dapur. Selain ingin menyenangkan keluarga lewat makanan yang saya buat, saya juga ingin menambah kebermanfaatan.  Sebagaimana yang sering saya bagikan di kelas minat Dapur Emak IP Depok, "Dari Dapur Menuju Surga" doakan ya?.. aamiin.

Saya mau tulis di sini ah, teman-teman yang saya ajak ngobrol..


✍ Dyas Purnamasari

Emak satu geng tim Peluit di perangkat Kelas Buncek IP Depok..hehehe. Gapapa lah ya
biar lebih dekat kepoin apa sih kelas favoritnya. Sebenernya bisa ketebak bakal pilih kelas olahraga karena memang saya perhatikan akhir-akhir ini sering banget saat diskusi santai bilang sedang menguatkan niat untuk berolahraga. Alasan memilih kelas olahraga katanya karena sesuai anjuran dokter yang sedang dibutuhkan tubuh sekarang adalah olahraga.

✍ Ellisa Martha

Icha panggilannya.  Karena di IP Depok biasa memanggil dengan sebutan "Mak" jadilah saya menyapanya dengan sebutan Mak Icha. Mak Icha aktif sekali dan selalu berbinar mengikuti kegiatan offline. Entah sebagai penyelenggara maupun sebagai peserta. Emak dari 1 putri dan 2 putra ini memilih keluarga Coaching sebagai keluarga favoritnya karena ingin tahu lebih banyak soal parents coach

✍ Dede Karyati

Yang ini panggilannya Mbak DeKa, berasal dari IP Karawang. Saya bertemu dengannya di acara Akademi Fasilitator IIP Batch #1. Mbak Deka menjadikan keluarga Teman Bermain Anak sebagai keluarga favoritnya.  Alasannya, supaya makin banyak ide bermain bersama anak dan makin asyik lagi mainnya.  Mbak Deka memiliki putra berusia 4 tahun yang memiliki gaya belajar visual dan lebih cepat menangkap pelajaran dengan menggunakan kartu berwarna-warni yang dibuat sendiri oleh mbak Deka.. keren ya! (mengingatkan saya saat anak-anak masih kecil dulu)

✍ Dewi Fatimah

Saya kenal mbak Dewi saat sama-sama menjadi fasilitator di kelas Bunda Sayang Batch #2. Saya masih menjadi koordinator kota waktu itu dan mbak Dewi sempat pula mengampu kelas Bunsay Depok menggantikan fasilitator sebelumnya yang sakit. Mbak Dewi, berasal dari IP Banten, memilih keluarga Cemara sebagai kelas favorit.

✍ Sagita Nur Pratiwi

Saya baru kenal dengan mbak Gita di kebun Apel. Mbak Gita berasal dari IP Tangerang Selatan dan memilih kelas favorit, Public Speaking. Mbak Gita senang sekali di kelas ini karena merasa gaya belajar visualnya terpuaskan lewat ilmu-ilmu yang dibagikan. Di sini mbak Gita bisa melihat dan mempraktekkan langsung ilmu tersebut serta mendapatkan respon yang membangun.

✍ Atika

Mbak Atika berasal dari IP Pacitan.  Ia memilih keluarga Manajemen Emosi (salah satu keluarga yang banyak sekali membernya) sebagai keluarga favorit karena merasa PR besarnya ada di pengelolaan emosi. Alhamdulillah mbak Atika mengatakan bisa mendapatkan banyak ilmu yang dibutuhkan di keluarga manajemen emosi

✍ Eka Abdi Negari

Teh Eka, demikian saya memanggilnya. Seorang Ibu dari suku Sunda-Jawa namun sudah lama menetap dan besar di tanah pasundan. Kami berada di keluarga yang sama, Ratu Dapur.  Tetapi yang menjadi favoritnya keluarga Manajemen Emosi karena membersamai anak-anak menjadi prioritas utamanya di samping masak dan merapikan rumah (tiga hal yang menjadi permintaan suaminya).
Karena kami sama-sama di Ratu Dapur akhirnya obrolan pun lebih banyak seputar Dapur. Mulai dari peralatan dapur sampai proses memasak. Seruuu..

✍ Hernawatiningsih Wawak

Saya kenal mbak Wawak di wag leader kota Ibu Profesional. Alhamdulillah di kebun Apel bisa lebih dekat lagi. Mbak Wawak memilih kelas Traveling dan Cooking sebagai kelas favorit. Mbak Wawak mengatakan ia sedang berusaha mengajarkan anak-anak untuk tangguh dalam hidup ini lewat traveling.  Sementara lewat Cooking, mbak Wawak ingin selalu siap menyediakan menu sehat untuk keluarga

✍ Laela

Teman baru saya yang ini berasal dari Kalimantan Selatan. Aslinya orang Bandung hanya merantau ke sana. Teh Laela punya dua keluarga favorit juga yakni Keluarga Manajemen Waktu dan Financial.  Senang berada di keluarga tersebut karena teh Laela merasakan mendapatkan banyak ilmu "daging" yang bisa ia terapkan sesuai value keluarga

✍ Septi

Mbak Septi memilih keluarga Cemara sebagai keluarga favorit. "Gak bisa move on!" katanya.  Ia (dan suami) sadar betul bukan dari keluarga rapi dari kecil. Didampingi suami saat membuat mind map, dipilihlah Seni Beberes Rumah sebagai project utama. Mereka berdua ingin memutus mata rantai tidak rapi, agar anak-anak lebih rapi dan masa tua mereka berdua kelak lebih hepi.
Alhamdulillah di keluarga Cemara selain seni beberes ternyata juga ada food preparation, seni masak cepat, dan tips setrika

✍ Fatimah Albatul

Fa, panggilannya. Berdomisili di Temanggung namun bergabung dengan IP Jogja.  Mbak Fa, bergabung dengan keluarga Manajemen Emosi (Inside out), sub keluarga Self Healing.  Mbak fa sedang mempraktekkan ilmu sadar napas dan berusaha mengenali emosi sendiri.

✍ Sinardi

Sapaannya, Ina.  Keluarga Favoritnya Inklusi Family dan Montessorian.  Alasannya karena berkaitan dengan pendidikan yang sedang ia jalani yakni studi diploma montessori dan senang membersamai anak

Alhamdulillah sudah 12 teman yang bersedia berbagi cerita..
Dari sini saya bisa simpulkan, sesuai dengan pengamatan saya sebelumnya, keluarga Manajemen Emosi menjadi favorit bagi kebanyakan ibu di kebun Apel.








Selasa, Februari 11, 2020

Keranjang Bullet Journal

Yuhuuuu saatnya berkelana di kebun apel 🌳🌳🌳
Bawa keranjang aah .. siapa tahu apel yang didapat banyak
Go green.. tak elok pakai kresek..qiqiqiqi
Apelnya buka apel biasa melainkan apel ilmu.
Melihat pohon apel ilmu yang banyak sekali buahnya.. maa syaa Allah, harus pegang erat peta belajar nih supaya benar-benar hanya memetik buah apel yang diinginkan.

Di Kelas Bunda Cekatan ada sekitar 20 lebih keluarga yang masing-masing memiliki satu buah pohon apel ilmu. Satu keluarga, satu topik ilmu. Ada keluarga cooking, counseling & coaching, desain, driing, financial planning, manajemin waktu, manajemen emosi, gizi anak, agama, foto & videografi, wah masih banyak lagi ilmu yang menarik untuk diicipi. Dan bisa dibayangkan betapa luasnya area hutan pohon apel ini. Belum lagi di setiap keluarga ada Go Live-nya di facebook. Honoowww godaan sekali untuk mamak yang doyan icip ilmu sana sini..
Lihat peta belajar lagi.. hmm ada tentang jurnal. Ada gak ya keluarga yang membahas tentang bullet jurnal alias bujo? Woro-woro di whatsapp grup buncek ah! 
"Maaak kalau ada keluarga yang bahas tentang jurnal kabar-kabarin yaa" 🕪

Alhamdulillah dua hari berselang ada yang mengabari 
"Mak Far, di Keluarga Uluwatu ada pecahannya nii.. bullet jurnal"
Asyiiikkk segera ke telegram tempat keluarga ini berada.  Ternyata sudah banyak yang bergabung.
Segera duduk manis dan menyimak diskusi perdana tentang "Apa itu Bullet Journal" bersama mbak Citra Anggita.

Setelah membaca materi, diskusi pun dimulai dengan mengungkapkan alasan membuat bujo.  Ada merasa perlu decluttering pikiran, ada yang merasa perlu pengingat supaya kegiatannya tidak bertabrakan, untuk membuat perencanaan, untuk mencatat pola kebiasaan, dan lain sebagainya. 
Yup! inti pembuatan bujo memang demikian. Bukan untuk membuat catatan yang cantik (duh ngintip lembar bujo di pinterest banyak berhiaskan doodle keren bikin terpesonaa..) qiqiqi salah fokus.
Citra Anggita (narasumber materi diskusi) menyampaikan pengertian bullet journal adalah

Sistem pengaturan jadwal, reminder, to do list, brainstorming, dan tugas-tugas pengaturan lainnya dalam satu buku catatan

Menelusuri sejarah pembuatan bullet journal, ternyata berawal dari sang penemu, Ryder Carroll, (didiagnosa ADHD) yang begitu mudah terdistraksi lalu ia pun membuat bullet journal untuk membantunya lebih berkonsentrasi.  Seperti yang dilansir di situs TED

Growing up, Carroll was easily distracted, tugged in every direction by anything and everything. He says, “As a kid, my biggest problem was focusing on way too many things at the same time … As an adult, that’s just known as being busy. But being busy doesn’t mean you’re being productive. A lot of times, being busy just means you’re in a state of being functionally overwhelmed.”

Carroll menyarankan segera ambil buku catatan dan pulpen lalu segera mulai lakukan hal berikut 
  1. Buat inventaris mental, tuliskan hal-hal yang perlu dilakukan, hal-hal yang harus dilakukan, dan hal-hal yang ingin dilakukan
  2. Pertimbangkan mengapa melakukan masing-masing hal ini 
  3. Untuk setiap hal dalam daftar, tanyakan lagi apakah ini penting? apakah ini perlu bagi saya dan orang yang saya cintai? Jika jawaban keduanya tidak maka dapat dicoret dari daftar
  4. Pilih hal yang penting lalu pecah lagi menjadi bagian-bagian kecil.  Carroll memberikan contoh "Jika Anda ingin belajar memasak jangan memulai dengan memasak makanan yang rumit untuk 6 orang. Proyek-proyek kecil memungkinkan kita menumbuhkan keingintahuan. Mulailah dengan menguasai beberapa resep sederhana dan teruji dengan bahan dan tehnik yang Anda kenal"
AHA, KLIK! dengan apa yang saya inginkan dan tulis juga dalam peta belajar.
Carroll menekankan pentingnya alasan yang kuat dan pertimbangan yang dalam untuk membuat sebuah jurnal. Dan saya ingin membuat bullet journal untuk membantu saya mencatat proses menemukan resep cemilan yang ekonomis namun tetap lezat.
Pencatatan ini penting bagi saya dan berharap juga kelak resep ini akan bermanfaat bagi para ibu dhuafa yang membutuhkannya.

Diskusi berlanjut dengan cara membuat jurnal. Tak ada patokan khusus menggunakan buku catatan dengan bentuk tertentu. Apa saja yang penting nyaman untuk ditulis. Isinya pun bebas. Mau seperti yang dicontohkan Carrol, dengan membuat rapid log, juga bisa.
Dengan begini terasa banget ya bullet journal itu memang ala kita sendiri.

Tinggal praktek nih..
Semangat mencataaattttt



Sumber referensi






Senin, Februari 10, 2020

Fasilitator dan Kebahagiaan

Menjadi fasilitator bagi saya itu salah satu hal membuat bahagia..beneran!
Dan ketika ditanya /benda apa yang paling cocok menggambarkan peran sebagai fasilitator yang bahagia dan membahagiakan? Yang terbersit dalam pikiran saya adalah lampu.
Wait.. kok lampu?
Iyalaaaah.. lampu kan membuat terang/cerah suasana.  Fasilitator juga begitu..bahagia karena bisa menjadi bagian dari proses yang mencerahkan dan membahagiakan bagi sekitarnya.
Hohoho.. daleeem 😎

Mungkin masih ada yang bertanya-tanya, sering mendengar kata fasilitator tetapi belum paham apa sih pengertian fasilitator?

Wikipedia menuliskan pengertian Fasilitator sebagai berikut

Fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang memahami tujuan bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam diskusi.

Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesi pengertian fasilitator adalah

 fasilitator/fa·si·li·ta·tor/ n orang yang menyediakan fasilitas; penyedia: di dalam konsep belajar mandiri, guru dan sekolah tidak lagi menjadi titik pusat kegiatan, tetapi lebih bersifat sebagai pendukung dan -- kebutuhan murid

Berdasarkan asal katanya, berasal dari bahasa Perancis, facile yang artinya mudah. Sehingga fasilitator adalah pemudah cara.

Fasilitator sendiri bermacam-macam lho jenisnya.  Ada fasilitator konflik, fasilitator bisnis, fasilitator pendidikan dan lain-lain. Karena berada dalam lingkup Institut Ibu Profesional maka fasilitator yang dimaksud adalah fasilitator pelatihan/pendidikan bagi orang dewasa, khususnya para ibu. pendidikan bagi orang dewasa memiliki karakteristik khusus dimana orang dewasa,

  • Belajar karena adanya tuntutan tugas, tuntutan perkembangan atau keinginan peningkatan peran. Berbeda dengan anak-anak yang cenderung menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, orang dewasa akan belajar manakala pembelajaran ini dapat memenuhi tuntutan tugas, tuntutan perkembangan, dan tuntutan akibat peningkatan peran. Karenanya dalam pembelajaran orang dewasa perlu dijelaskan kaitan antara materi dengan tuntutan tugas, peran, dan tuntutan perkembangan mereka.
  • Suka mempelajari sesuatu yang praktis, dapat langsung diterapkan, dan bermanfaat dalam kehidupannya. 
  • Dalam proses belajar ingin diperlakukan sebagai orang dewasa/dihargai
  • Orang dewasa kaya pengalaman dan berwawasan luas, mempelajari sesuatu yang baru berdasar pengalamannya.  Sebaiknya cara mempelajari sesuatu yang baru dimulai dari pengalaman-pengalaman mereka.
  • Belajar dengan cara berbagi pendapat bersama orang lain. 
  • Mempertanyakan mengapa harus mempelajari sesuatu sebelum mereka mempelajari sesuatu. Jika anak-anak cenderung menerima topik pembelajaran, orang dewasa perlu mengetahui bahwa hal-hal yang mereka pelajari merupakan hal yang bermanfaat langsung bagi mereka.
  • Belajar dengan memecahkan masalah tidak berorientasi pada bahan pelajaran 
  • Menyukai suasana pembelajaran yang membangkitkan kepercayaan diri. 
  • Memerlukan waktu yang lebih panjang dalam belajar karena memvalidasi informasi baru. 
  • Melanjutkan proses belajar jika pengalaman belajar yang dilaluinya memuaskan.

Terus apa bedanya dengan trainer?

Menurut Bukik di laman webnya,

Trainer adalah seseorang yang berperan mengajarkan sebuah pengetahuan/metode/tehnik pada sekelompok orang. Ada proses transfer pengetahuan dari trainer kepada peserta sehingga peserta tahu dan mampu melakukan keterampilan baru.  Kewenangan trainer pada isi dan proses pertemuan. Trainer biasanya bertanggung jawab pada pembelajaran individual yang menghasilkan aksi personal. 
Sedangkan fasilitator, tidak mengajar peserta lain yang bukan fasilitator.  Kewenangannya pada proses pertemuan, tidak boleh mempengaruhi isi percakapan pertemuan. Meski demikian fasilitator bertanggung jawab pada pembelajaran kolektif.  Orang-orang diajak berbagi dan merefleksikan pengalaman terbaik, menemukan inovasi, dan membuat keputusan bersama.

Karena tidak mengajar (berfungsi sebagai sumber ilmu) maka tidak masalah apabila latar belakang pendidikan fasilitator ternyata tidak sama dengan materi yang dibahas. Namun fasilitator perlu mempelajari dan menguasai tehnik fasilitasi yang efektif yang meliputi antara lain teknik partisipatif, teknik bertanya dan mendengarkan, tehnik memfasilitasi kesepakatan, dan seterusnya.

Sementara Siswoyo berpendapat seseorang akan menjadi fasilitator yang baik, dilihat dari 2 (dua) variabel determinan yang mempengaruhi  yakni :

1. Sikap dan perilaku fasilitator, berkaitan dengan etika dan moral fasilitator dengan indikator
  • Disiplin, kepemimpinan;
  • Integritas;
  • Kerjasama dan prakarsa

2. Kemampuan akademik, berkaitan dengan :

  • Penguasaan  substansi mata ajar yang dipilihnya.
  • Mampu berkomunikasi dengan baik, serta dapat mentransfer buah pikirannya kepada orang lain melalui kemampuan melakukan presentasi yang baik.
  • Menguasai strategi pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun fisik, yang dikenal sebagai pembelajaran interaktif.

Namun, tidak hanya cukup berhenti pada menjadi fasilitator yang baik, penting pula untuk menjadi fasilitator yang bahagia dan membahagiakan lhoo..
Berdasarkan pengalaman pribadi, saya mencatat ada 5 hal yang perlu dimiliki oleh seorang fasilitator

🔖 Alasan yang kuat.

Sebuah alasan adalah pendorong kita memencet tombol hijau "Lakukan!".  Semakin kuat sebuah alasan, semakin cepat tombol itu menyala.  Alasan bagi setiap orang tentulah berbeda-beda. Bagi saya, ketika pengumuman pembukaan Akademi Fasilitator IIP tiba, yang mendorong saya untuk mendaftar karena saya menganggap ini adalah pintu bagi saya untuk menambah kebermanfaatan. Sungguh saya tidak tahu batas usia.  Alhamdulillah situasi dan kondisi pun sedang memungkinkan bagi saya untuk berkegiatan. Di sisi lain saya senang membersamai sebuah proses belajar.  Apalagi jika akhirnya kebaikan yang diinginkan tercapai.. saya ikut bahagia.
Orang lain sangat mungkin memiliki alasan yang berbeda. Misalnya dengan menjadi fasilitator maka lingkup pertemanan akan semakin luas sehingga akan mempernudah urusan lainnya. Sah-sah saja demikian.

🔖 Senang belajar

Seorang fasilitator, meski bukan sumber ilmu, sudah semestinya seorang yang senang belajar (pembelajar sejati). Kesukaannya ini akan mendorong untuk mencari tahu lebih banyak saat menjumpai hambatan atau mempelajari ilmu yang belum ia ketahui. Belajar tentu dengan caranya sendiri.  Bisa lewat membaca, melakukan (praktek), belajar dari pengalaman orang lain, dan sebagainya.
Sebagai contoh, saya belajar dengan banyak memperhatikan apa saja yang dilakukan fasilitator terdahulu dalam membersamai peserta dalam sebuah ruang kelas seperti cara menyampaikan kembali materi yang perlu diketahui peserta kelas, menggali kemampuan berdiskusi serta mengajak peserta kelas aktif ikut menyampaikan pendapatnya. Setelah itu saya tiru dan modifikasi sesuai dengan gaya saya sendiri.
Saya juga belajar dengan praktek langsung menjadi seorang fasilitator.  Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya tentang karakteristik pendidikan orang dewasa, pada tahap awal saya perlu menyesuaikan diri, mengenal seisi ruang kelas. Alhamdulillah suasana cepat menjadi  akrab dan nyaman, baik bagi saya maupun peserta kelas. Saya menyampaikan bahwa saya bukanlah seorang guru yang serba tahu melainkan fasilitator yang membantu memudahkan peserta memahami materi yang diberikan. Saya pun sedang belajar. Saya bukan penentu benar dan salah serta membuka forum diskusi seluas-luasnya untuk berpendapat, bercerita, sampai akhirnya menemukan suatu kesimpulan yang disepakati oleh seisi kelas dan menjadi bahan acuan belajar yang akan diterapkan pada masing-masing keluarga. Di akhir periode pembelajaran praktek pun kami evaluasi kembali.  Di situlah saya acapkali menangkap binar-binar bahagia peserta kelas dan ini sungguh membuat saya sebagai fasilitator turut merasa bahagia.

🔖 Menjadikan hambatan sebagai tantangan.

Apakah karena hanya membersamai sebuah proses menjadikan tugas fasilitator akan berjalan mulus tanpa hambatan? Jawabnya tidak. Hambatan, entah besar atau kecil, tentu ada. Pada prinsipnya persepsi yang berbeda menghasilkan penyelesaian yang berbeda. Persepsi positif akan membuat fasilitator lebih mudah dan bahagia menjalankan perannya.    Misalnya hambatan dalam menentukan waktu diskusi. Kecuali memang sudah ditetapkan jadwal sebelumnya, menyesuaikan jadwal sekian banyak orang dengan sekian banyak kesibukan membutuhkan kemampuan untuk menetapkan kesepakatan.  Hambatan lain misalnya ketika ada peserta kelas yang berbeda pendapat dan mempengaruhi suasana kelas hingga menjadi sedikit gaduh. Untuk hal ini dibutuhkan ketenangan fasilitator dalam menanggapinya yang bisa diperoleh jika fasilitator tersebut memiliki persepsi yang positif. Hal yang berbeda akan terjadi jika fasilitator menanggapinya dengan emosional.

🔖 Menyadari keuntungan menjadi fasilitator.

Adalah hal yang amat wajar jika kita melakukan suatu kegiatan karena kita menyadari ada keuntungan yang bisa diperoleh.  Hal ini akan membuat kita lebih berbinar dan tangguh menjalani setiap waktu yang harus dilewati.  Demikian juga menjadi fasilitator.  Saat kita menyadari ada keuntungan besar yang akan kita peroleh, maka apa pun hambatannya tak menyurutkan langkah. Keuntungan ini tentu bersifat personal.

Bagi saya, menjadi ridhoNya atas kebermanfaatan itulah keuntungan utama yang saya harapkan.
Keuntungan lainnya adalah

  • Menguatkan ilmu yang sudah didapat dengan cara mengulang-ulang kembali bersama peserta kelas
  • Menambah ilmu baru.  Saya kerap berpikir ilmu yang sama dengan penyampaian berbeda seringkali menghasilkan ilmu baru, yang belum saya ketahui.
  • Menambah pertemanan. Karena tidak hanya membersamai ibu-ibu yang berdomisil sama dengan saya, maka dengan menjadi fasilitator lingkar pertemanan saya pun bertambah luas. 
  • Mengkayakan kemampuan bersosialisasi. 
  • Memiliki manajemen diri yang lebih baik, seperti manajemen waktu, manajemen emosi, dan lain-lain yang mau tidak mau harus dilakukan agar tercapai tujuan memfasilitasi .

🔖 Tekad untuk tumbuh menjadi diri yang lebih baik

Semua orang tentu ingin menjadi lebih baik. Ada rasa bahagia yang hadir saat kita berhasil maju selangkah dibanding hari kemarin.  Demikian pula dalam menjalani peran sebagai fasilitator. Setiap keuntungan yang diperoleh memberikan peluang untuk terus bertumbuh dan bahagia.
Namun adakalanya juga yang terjadi tak seperti yang diharapkan. Menambah peran baru sebagai fasil berarti mengajak untuk mengatur kembali ritme keseharian. Kadang kala menyebabkan beberapa aktivitas berbenturan.  Akibatnya diri menjadi lebih emosional dan berdampak pula bagi orang-orang di sekitar. Hal ini menyebabkan proses tumbuh tertunda. Hanya tekad kuat yang selalu mampu menarik diri untuk bangkit dan bersemangat memperbaiki keadaan.



Sumber referensi






Senin, Februari 03, 2020

Bertemu Keluarga Cooky

Hwaaa bertemu keluarga cooking, COOKY namanya 😍
Sudah saya duga.. ini keluarga heboh!
Selalu begitu jika orang-orang dengan kesukaan yang sama berkumpul.
Apalagi duh tahu lah yaa ibu-ibu.. lisan dan tulisan yang dikeluarkan sama saja.. banyaakk
Gak habis-habis, adaaa saja topik yang dibicarakan.
Sekian jam gak buka grup sudah harus menyiapkan "tangga" untuk memanjat percakapan 😵

Dan ternyata perjalanan untuk sampai bisa berkumpul dalam sebuah keluarga ini gak semudah yang dikira lho..
Alamak godaannya banyak!
Setiap keluarga memiliki topik-topik bahasan yang menarik dan amat menggoda untuk dipelajari.
Benar-benar harus dipertimbangkan, apalagi jika ilmu itu pun ada di peta belajar juga
"Kira-kira penting dan mendesak gak ya?"
Beberapa teman ada yang mengalami kesulitan menetapkan keluarga untuk berlabuh karena ilmu yang dipilih memiliki banyak irisan. Misalnya manajemen. Tidak satu dua orang yang setelah masuk kelompok tak lama ijin keluar karena akhirnya merasa "hmmm..bukan ini yang saya cari.."
Atau keluar karena tak nyaman belajar dalam keluarga yang terlalu banyak anggotanya.
"⚐ nyerah deeehhh rame banget!" begitu tulisnya.

Alhamdulillah saya sendiri langsung menetapkan keluarga yang saya inginkan.
Sempat agak lama menunggu ketua kelompok membuatkan grup untuk kami berkumpul.
Setelah grup terbentuk, kami duduk dan mulai ngobrol bareng di bawah pohon keluarga.
Dimulai dengan obrolan ringan saling sapa mengenalkan diri.
Kalau biasanya di Dapur Emak IP Depok obrolan hanya dalam satu kota, kali ini hampir merata semua kota di Indonesia bahkan yang berdomisili di luar Indonesia pun ada.
Tak butuh waktu lama untuk semakin akrab. Kami mulai berbagi cerita, seperti masak apa hari ini, cara membuat makaroni schootel, mengolah makanan, sampai akhirnya berlanjut pada diskusi yang mendalam tentang apa saja sih yang kami ingin bahas bersama? Inilah kesepakatan bahasan keluarga kami :

🍏cooking termasuk masak cepat, slowcook, masakan sehat, membuat snack,  baking kue2an
🍏 Menyusun menu
🍏 Cara mengolah bahan makanan agar nutrisinya tidak banyak yg hilang. Variasi resepnya.
🍏 Cara menyimpan bahan makanan juga agar tidak mudah rusak dan nutrisinya tidak banyak hilang.
🍏 Food preparation
🍏 Baking
🍏 Frozen food
🍏 Masakan yang bisa dimakan tanpa nasi, tapi aman untuk ABK (autism)
🍏 Pastry & Bakery
🍏 Membuat makanan yang sehat, olahan sayur dan buah, atau makanan yg nutrisinya bagus tapi kalorinya rendah
🍏Budgeting

Cukup banyak ya apel-apel ilmu yang siap untuk digigit 😋







Selasa, Januari 28, 2020

Berburu Potluck di Hutan Ilmu

Perburuan potluck masih berlanjut!
Kalau pekan lalu potluck di hutan ilmu bebas bisa berupa tulisan, video, dan lain-lain,  kali ini potluck berupa audio-video.
Tantangan banget karena musti bawa potluck dalam bentuk yang sama
Duh sebenernya gak pede bikin yang pake ngomong-ngomong gituh..secara mamak kan pemalu.. (eitt yang udah kenal dilarang protes yaakkkk)
Tapi selalu ada kali pertama untuk segala sesuatu..
Bismillah..
Melipir ke dapur, "masak" buat potluck

Bentar.. si ulat Fa berubah lagi dulu jadi orang "Triiiing!"
(Pegel juga jadi ulat.. 😅)

Sudah merencanakan sedari dulu pengen banget bikin semacam tutorial atau tips smartphone photography.  Berharap meski masih sedikit ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat buat teman-teman yang lain. Awalnya saya mau membuat video tutorial food photography. Alhamdulillah pernah bikin juga slide buat pelatihan dasar smartphone photography di kelas minat Dapur Emak IP Depok, jadi kan bikin tugasnya gak pake lama tuh karena sudah ada. Tetapi, dasar emak-emak, tetiba datang ide lain, hmm.. sepertinya akan bermanfaat juga kalau saya membahas tentang "Tips Perlengkapan Foto" alias pernak-pernik foto.
Biasanya para fotografer foto produk atau makanan mengoleksi banyak pernah-pernik yang kalau ditotal secara rupiah lumayan juga lho harganya.
Pernak-pernik ini dibutuhkan untuk mempercantik tampilan foto.
Tetapi saya sendiri lebih senang kalau bisa memanfaatkan benda-benda sekitar sebagai asesoris foto. Entah barang-barang yang ada di dapur, buku tulis, dan sebagainya. Selain jadi semakin terasa foto tersebut ala saya, tentu saja bisa mengurangi pengeluaran belanja properti foto. 

Akhirnya setelah beberapa kali mengulang (duh ketauan deh amatirnya) jadilah video tips ini. 
Karena belum punya akun di youtube, sementara saya simpan di google drive dulu.
Klik link yang ada di bawah gambar yaaa

Video Selengkapnya di http://bit.ly/TipsPerlengkapanFoto

Alhamdulillah potluck ilmu yang saya bawa ada yang tertarik menyimak juga 😍
Dan saya juga mengicipi potluck dari teman-teman lain.. nyam..nyam.. enaaakkkk!!

Selasa, Januari 21, 2020

Yippiee Menjadi "Ulat" !


Bukan ulat beneran laaaahh..
Ini ulat lutju yang doyan ngemil ..qiqiiqiq
Setelah sebulan kemarin menjadi telur, si telur pun menetas dengan bahagia 😍
Ulat "Fa" namanya.
Curcol dikit ah..di tahap telur itu sungguh warbiyassahhhh
Sepintas seperti cuma mengisi bulatan-bulatan
Tetapi ternyata bolak balik merevisi apa sih keterampilan yang diinginkan?
Yang "gue banget" dan yang sesuai dengan tujuan.
Makanya jangan heran yaaa kalo baca postingannya dalam waktu dua hari bisa berubah..hahahhaha
Bukan labil, tapi sedang berusaha ikhtiar yang terbaik 😁
Revisi di kelas Bunda Cekatan (BunCek) memang diperbolehkan.
Meski begitu tetap harus hati-hati, ada konsekuensinya juga lho..kebanyakan revisi bisa bikin jalan di tempat!

Sekarang setelah menetas, yippieeee saatnya mencari makaaaan
Sang Ulat membuat janji dengan teman-temannya di kebun ilmu.
Dengan menjinjing bekal makanan terenak yang telah disiapkannya sendiri, ia pun menjumpai teman-temannya.

         
Ternyataaa mereka pun membawa bekal yang enak-enak juga.. ada sekitar dua ribuan!
Duh jadi pengen...
Tetiba Fa pun teringat, "petaa..mana petaaa.."
Fa butuh peta untuk membantu mengingatkannya hanya menyantap makanan yang ia butuhkan saja. Fa ingat, terlalu banyak makan tak baik.  Apalagi jika makanan tersebut sebenarnya juga tak terlalu dibutuhkan.
Akhirnya Fa mengambil beberapa cemilan dan mengunyahnya pelan-pelan

                 
Lalu ia mencicipi cemilan lainnya





Sssttt.. ada juga cemilan yang ia simpan!

             

Alhamdulillah..

Dari potluck ilmu bersama ulat lain akhirnya Fa bisa menambah daftar ilmu yang ia ingin kuasai










Selasa, Januari 14, 2020

Peta Belajar Pawon Jelita


Ini diaaa nama pilot project saya dalam kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional : Pawon  Jelita. Langsung bisa nebak pasti ya.. project saya berhubungan sama dapur atau dalam bahasa Jawa disebut pawon. Kalau jelita? aaahh pasti udah bisa nebak juga kaan.. gak usah dijabarin deh yaa .. hahahaha.
Sekarang saatnya membuat peta belajar (mind map).
Pernah membuat peta belajar?
Kalau belum, coba deh bikin.
Asyik lho membantu kita memandang masalah atau kebutuhan secara lebih utuh dan fokus.
Untuk anak-anak, membuat peta belajar juga membantu mereka menguasai suatu topik pelajaran dengan lebih mudah. Misalnya dalam pelajaran sejarah, mereka akan lebih mudah menemukan keterkaitan suatu peristiwa terhadap peristiwa lainnya dibandingkan dengan hanya menghapal.

Dalam setiap topik kehidupan yang kita ingin kuasai, kita juga bisa membuat peta belajar dari masing-masing topik belajar tersebut.  Sama seperti pelajaran sekolah tadi. Contohnya jika kita ingin menguasai ilmu agama maka kita bisa menjadikannya pusat utama dari peta "Belajar Ilmu Agama" kemudian membuat beberapa cabang sub topik.
Demikian juga dengan Pawon Jelita. Saya membuat peta belajar tersendiri dengan menempatkan tulisan Pawon Jelita sebagai pusat peta.
Terbayang yaa.. kita (sebagai tokoh utama peta) memiliki beberapa topik hal yang ingin kita kuasai, kemudian masing-masing bisa diperdalam dan bercabang lagi dalam beberapa sub topik, begitu seterusnya.  

Sepintas jadi mirip seperti Dora ..qiqiqi.. tiap mau mencari sesuatu buka peta dulu. 
Eh daripada tersasar di belantara hutan ilmu..
Malah seperti jalan di tempat, asyik mempelajari ilmu lain yang bukan prioritas.

Oke, balik ke Pawon Jelita :

Sebuah peta belajar dibuat untuk memenuhi tujuan yang diinginkan.  Untuk memudahkan saya mengingat maka dalam peta belajar ini saya tuliskan kembali apa tujuan yang saya inginkan dalam peta belajar Pawon Jelita, yakni

  • Mahir memasak makanan yang halal, thoyib dan enak.  Memasak menjadi keterampilan yang umum dimiliki oleh setiap ibu rumah tangga. Tetapi memasak makanan yang bebas penyedap rasa? hohoho belum semua ibu melakukannya.  Apalagi untuk makanan yang dijual di warung makan, sebagian besar dimasak dengan menambah penyedap rasa.  Alhamdulillah saya terbiasa masak tanpa penyedap rasa. Cukup membuat perbandingan yang tepat antara gula dan garam saja.  Namun ternyata mengkonsumsi gula pasir apalagi dalam jumlah banyak tidak bagus untuk kesehatan. Oleh karena itu menjadi tantangan untuk saya memasak dengan cara yang lebih baik lagi.   
  • Mahir membuat cemilan yang ekonomis dan lezat.  Pada tujuan umum saya menuliskan di setiap kegiatan bertambahlah kebermanfaatan yang bisa saya lakukan.  Saya berharap lewat keterampilan memasak, tidak hanya orangorang terdekat saja yang merasakan manfaatnya tetapi juga orang lain terutama bagi ibu-ibu dhuafa yang ingin menambah penghasilan. Maka saya memulai dengan menambah kemahiran membuat cemilan yang ekonomis, dari bahan yang bisa terjangkau harganya, namun tetap lezat rasanya sehingga peluang laris dibeli semakin besar.  
  • Mahir mendokumentasikan.  Selama ini seringkali tips memasak dan membuat kue yang saya dapatkan sendiri melalui beberapa uji coba resep hanya saya ingat-ingat saja, tidak tercatat rapi. Kalau pun ada catatan biasanya tersebar di beberapa kertas kecil.  Foto hasil masakan pun tidak selalu ada.  Saya merasa ini harus saya ubah agar kelak orang lain pun dapat belajar dari pengalaman saya dengan lebih mudah dan runut.

Ada empat sub topik dalam peta ini,

🎂  Cemilan Ekonomis dan Lezat

Saya paling senang menemukan atau membuat resep cemilan yang ekonomis. Iyalaaah hemat di kantong dan kenyang di perut 😂.  Apalagi kalau ternyata banyak yang suka dan cepat habis..waah tambah senang lagi.  Bagi pelaku usaha kuliner resep yang seperti ini pun banyak dicari.  Sayangnya agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi dan tampilan kue tetap menarik, beberapa produsen kue menambahkan bahan-bahan pengembang, pelembut, atau pewarna yang tidak bagus bagi kesehatan.
Kakak saya pernah mengalami sendiri, membeli roti di sebuah toko pinggir jalan selang beberapa jam kemudian diare cukup parah,  Ketika saya tanya apakah roti yang dibeli sudah kadaluarsa? jawabnya tidak.  Kakak saya bercerita sengaja memilih roti isi kacang hijau untuk menghindari selai buatan (banyak kasus ditemukan selai sengaja dibuat dari buah-buahan yang nyaris busuk untuk menekan biaya produksi).  Kalau sudah begini membahayakan orang lain dan bisa dituntut.  Gak jadi untung besar deh..

Karena itu pula banyak ibu rumah tangga yang lebih suka membuat cemilan sendiri.  Kualitas bahan lebih bisa terjaga.  Resep cemilan, dengan bantuan media sosial, sekarang semakin mudah dijumpai.  Hanya saja tidak semua resep menyertakan tips atau memberitahukan variasi lain yang bisa dibuat berdasarkan resep yang sama.
Ini yang menjadi alasan saya untuk membuat cabang pertama dalam topik cemilan, yakni mempelajari resep dasar.

Saat anak-anak masih kecil alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti kursus di Bogasari Baking Center. Kursus yang sangat berkesan bagi saya karena disitulah saya belajar mengenal lebih dalam bahan-bahan kue. Saya diajarkan juga bagaimana cara menentukan takaran bahan sebuah resep agar kue yang diinginkan dapat mengembang dengan sempurna dan sudah pasti enak karena komposisi yang tepat.  Di akhir kelas ada ujian praktek dan teori juga lho..
Saya pikir kue jenis lain pun memiliki patokan takaran tersendiri.  Ini yang harus saya pelajari lagi di cabang kedua.

Semakin sering menguji coba sebuah resep maka kita akan semakin mahir (learning by doing).
Faktor-faktor yang turut menentukan keberhasilan uji coba ini pun semakin bisa dikenali dan diatasi.
Misalnya dalam pembuatan roti ternyata suhu ruangan cukup berpengaruh sehingga bisa saja resep yang sama memberikan hasil yang berbeda.
Mengikuti grup-grup masak, berdiskusi, amat membantu memberikan solusi permasalahan yang dihadapi saat membuat kue.


🍳  Masakan halal, sehat, dan thoyib

📸  Foto Makanan

f✍  Jurnal Belajar

Rabu, Januari 08, 2020

Suka Baca Buku


Mbah Putri sakit.  Di sisa libur sekolah yang tinggal sepekan akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang kampung menemui beliau. Segala persiapan mudik pun segera dilakukan. Termasuk menyiapkan bekal buku bacaan untuk mengisi waktu selama di perjalanan dan di rumah Mbah.
Buku memang selalu menjadi teman kami bepergian. Rasanya ada yang kurang jika tak membawa buku. Buku, selalu bisa mengalihkan diri dari kebosanan. Buku, gak cuma bikin semakin tahu tapi juga bisa menjadi topik obrolan yang menarik bagi kami selama di perjalanan.

Bagi saya pribadi, melihat anak-anak hingga di usia remaja seperti ini masih memiliki antusiasme terhadap buku adalah hal yang amat saya syukuri. Melihat mereka tumbuh bersama buku, memuaskan rasa ingin tahu dengan melahap setiap kata, mengucapkan keras-keras kalimat yang menurutnya menarik dari dalam buku, atau bahkan tertawa geli tanpa saya tahu bagian kalimat mana yang membuatnya demikian, sering membuat senyum saya semakin lebar. Buku pilihan mereka beragam sesuai dengan bidang yang mereka sukai. Si Mbarep biasanya memilih buku yang berhubungan dengan sejarah atau buku biografi tokoh, Gendhuk menyukai buku yang berkaitan dengan pengembangan diri, sementara si Ragil lebih memilih buku keterampilan seperti membuat game, menggambar dan lain-lain.  Sesekali novel pun menjadi pilihan. Namun seiring bertambahnya rasa ingin tahu akan hal lain di luar imajinasi, kini novel yang dibaca pun semakin selektif. Meski saya tak pernah melarang secara jelas, anak-anak tak memasukkan novel percintaan ke dalam daftar buku yang dibeli. "Bosen, paling nanti akhirnya gitu lagi gitu lagi,, mirip semua" kata Gendhuk.  Entah ini terbawa karena mereka melihat saya jarang membeli novel atau merasakan sama seperti yang saya rasakan. Saya memang sedang kurang suka membaca buku yang terlalu mengaduk-aduk hati.  Mengaduk adonan donat sudah cukup menyita energi, gak usah ditambahlah..qiqiqiqiqi

Sampai di titik suka buku bagi anak-anak tak terjadi dalam hitungan bulan. Apalagi menjadikan buku sebagai salah satu kebutuhan.  Eh bukan buku pelajaran yaa.. kalau yang ini butuh karena disuruh guru di sekolah.  Dan membahas tentang buku tentu berkaitan dengan membaca.  Saya ingin anak-anak membaca karena memang suka.  Kesukaan membaca akan membuat mereka tak berhenti pada satu kebutuhan pengetahuan yang telah terpenuhi.

Saya ingat sekali kala pertama mengajarkan anak-anak membaca, dimulai dari si Mbarep berusia 3 tahun.  Alhamdulillah dengan kecerdasan kognitifnya yang baik, mudah baginya mengikuti pelajaran membaca yang saya berikan. Tak sampai usia 3,5 tahun ia sudah lancar membaca. Kemudian lanjut dengan membaca iqro dan seterusnya. Namun saat menjelang 5 tahun, ia mulai jenuh membaca.  Ia bilang "Aku capek disuruh baca. Kan Aku udah bisa.. emang mau apa lagi abis bisa baca?"
Deg... sedih hati saya karena berarti ia tak menikmati senangnya bisa membaca. Padahal saya berharap dengan cepat membaca ia akan bisa cepat pula melahap buku dengan gembira.  Dari kejadian ini saya tersadarkan akan sesuatu hal, bahwa sesungguhnya yang penting untuk saya tanamkan terlebih dahulu betapa asyiknya berteman dengan buku. Berimajinasi bersamanya dan berbinar setiap mendapatkan satu tetes pengetahuan. Saya ubah cara saya menemani proses belajar membaca pada adik-adiknya sambil mengerjaan PR, menumbuhkan kembali rasa suka akan buku pada si Mbarep.

Kesukaan membaca bisa terjadi karena "ditularkan" oleh orangtua..
Saya setuju. Karena pada umumnya anak-anak seringkali mencontoh apa yang dilakukan orangtua. Saya suka membaca dan saya pun memiliki orangtua yang gemar membaca.  Di rumah kami, Bapak menyiapkan satu ruangan khusus untuk mushola yang sekaligus berfungsi sebagai ruang perpustakaan kecil. Buku-buku dengan rapi disusun dalam sebuah rak kayu. Ada buku tentang M. Natsir, Khutbah Jum'at dan Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Buya Hamka dan lain-lain di sana. Beberapa buku masih dalam ejaan lama. Kadang saya lihat Bapak membaca buku sambil sesekali menulis di kertas.
Ibu juga berperan banyak dalam menumbuhkan kesukaan saya akan buku. Menjelang tidur, Ibu sering membacakan saya sebuah cerita dari majalah Bobo.  Imajinasi cerita  terbawa sampai alam mimpi..
Keakraban saya dengan buku tak hanya membawa saya suka buku tetapi dari buku saya pun bisa menambah uang saku.  Di usia Sekolah Dasar, kami membuka penyewaan buku komik dan novel. Ada buku-buku misteri, koo ping ho, Jaka Sembung, sampai Wiro Sableng. Alhamdulillah hasil sewanya lumayanlah..
Paling senang di bulan puasa, yang menyewa buku semakin banyak. Mungkin supaya gak terlalu terasa laparnya ya..hehehe


Sekarang ...

"Temen-temenku pada gak suka baca buku.. di rumahnya juga aku gak liat ada buku"
(sementara di rumah hanya di kamar mandi yang gak ada buku..wkwkwk)

"Aku gabut di sekolah.. untung bawa buku.. 200 halaman selesai hari ini"
(alhamdulillah jam kosong di sekolah jadi lebih bermanfaat ya Nak)

"Aku mau beli buku biografi aja.. penting ini biar tahu pemikirannya"
(sip!)

"Yaahh  gak ada buku yang pengen kubeli"
(gapapa.. kan gak musti beli tiap ke toko buku..)

"Hahahhahaha...hahahhahaha..."
(buku itu ajaib! bisa membuatmu tertawa geli hanya dengan membayangkan)

"Aku mau baca dulu "
(bahagia itu sederhana, baca buku tanpa gangguan 😁)







Selasa, Januari 07, 2020

Belajar Ala Saya

Gambarnya kok lagi ngetik malam hari ya?
Hehehe ini persis banget sama yang sedang dan sering saya lakukan..
Jam segini gentayangan! 👻
Setelah tidur pulas, bangun menjelang dini hari menjadi waktu yang asyik buat membaca, menulis,  atau sekedar merencanakan apa yang ingin dilakukan esok hari ,, seperti.. "hmm nyoba resep apa ya besok?" 
Meski kadang hanya sebentar karena harus melakukan kegiatan lain atau kembali tidur 😅

Tulisan kali ini tentang si telur oren dan menemukan cara belajar yang "gue banget" alias cara belajar yang menurut saya paling cocok dan paling nyaman untuk saya jalani.
Bisa jadi ada beberapa cara yang saya ambil sama dengan orang lain tetapi bisa juga sebaliknya.
Untuk mengingatkan kembali, sebelumnya saya sudah menuliskan ada 3 keterampilan yang ingin saya kuasai yakni memasak, membuat kue, dan belajar. 

Saya akan uraikan mulai dari tujuan hingga cara saya belajar untuk menguatkan proses menguasai ketiga keterampilan ini.




📌 Tujuan Belajar 

Beda deh rasanya melakukan sesuatu yang memiliki tujuan dengan yang tak memiliki tujuan.. 
Bahkan yang sama-sama memiliki tujuan pun akan berbeda lagi semangat melakukannya, tergantung pada kekuatan tujuan tersebut..
Setuju?
Menemukan tujuan yang kuat akan membuat kita dengan senang hati belajar dan berusaha pun dengan sekuat mungkin agar yang dilakukan mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. 
Persis seperti quote di bawah ini 

“He who has a why to live for can bear almost any how.”― Friedrich Nietzsche
Secara umum dengan semakin menguasai keterampilan saya ingin :
  1. Bertambah bahagia. Adakah orang yang ingin hidupnya tak bahagia? Pasti jawabannya tidak.  Walaupun bentuk bahagia yang diinginkan tak sama, semua ingin bahagia. Bertambah bahagia? Wah apalagi ini ya.. semua orang menginginkannya.  Memiliki ilmu dan kebaikan yang bertambah banyak adalah hal yang membuat saya semakin bahagia. Belajar sesuatu yang belum dan sangat ingin saya bisa kuasai selalu mampu membuat saya berbinar-binar. Dan ketika akhirnya saya bisa, jangan tanya betapa bersyukur dan bahagianya hati saya. Saat ilmu tersebut bisa saya bagikan lagi kepada orang lain dan ia pun merasa senang, saya ikut senang .  Benar sekali kalimat yang menyatakan "Berbagi itu Indah". Hal itulah yang saya rasakan setiap mendapatkan pesan singkat lengkap dengan ikon love dan peluk "Aku udah cobain bikin resep yang mak Far sharing waktu itu.. anak-anak doyan banget lho,makasih ya Maak.." hati saya pun ikut penuh lope-lope 💞.  
  2. Menambah kebermanfaatan.  Saya teringat ucapan seorang ustadz di sebuah kajian "Muslim itu hidupnya haruslah membawa manfaat di muka bumi, bukan membawa kerusakan. Untuk inilah antara lain Allah ciptakan kita.." Maa syaa Allah.. meski kalimat "menjadi orang yang bermanfaat" sering saya dengar, kalimat ustadz "jlebb" sampai ke hati, mengingatkan kembali bahwa bermanfaat itu gak cuma bikin kita bahagia tetapi memang sudah menjadi amanah kehidupan.
  3. Menambah penghasilan. Jika ada yang mengatakan "Sebagian orang beripendapat, berusaha karena ingin menambah penghasilan. sebagian orang lagi berpendapat memiliki penghasilan dulu (mengumpulkan modal) agar bisa berusaha.  Sebagian orang yang lain lagi berpikir untuk berusaha sajalah, penghasilan akan mengikuti" kamu termasuk yang mana? 😁 Untuk saat ini saya sendiri termasuk yang ketiga,karena saya merasa ranah domestik, membersamai anak-anak, masih menjadi prioritas utama. 
Berkaitan dengan tujuan besar tersebut saya membuat sebuah project khusus (nama project ini saya tuliskan di postingan berikut yaa)  dengan tujuan

  • Mahir Memasak Makanan Sehat dan Enak. 
  • Mahir membuat resep cemilan ekonomis nan lezat sehingga bila dijual terjangkau namun rasanya tak mengecewakan.
  • Mahir membuat dokumetasi


📌 Ilmu yang Diperlukan

Biar keterampilan tersebut makin oke, pastinya butuh ilmu yang mendukung dong..
Di sini saya sudah menuliskan dalam telur-telur oren, apa saja yang ingin saya pelajari.




📌📙 Ilmu Membuat Resep Dasar Masakan dan Kue

Saya berpikir dalam berbagai ilmu yang dipelajari ada pola sama yang perlu dipahami terlebih dahulu yakni mempelajari pengetahuan dasar dari ilmu tersebut.  Jika kita sudah menguasai maka berikutnya akan lebih mudah mengembangkan dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Tinggal memodifikasi dan mengarahkan saja sesuai kebutuhan.
Seperti saat kita belajar matematika maka ilmu dasar yang perlu kita kuasai adalah memahami tentang penambahan dan pengurangan. Pelajaran berikutnya adalah pengembangan dari dua hal tersebut.
Ini juga mengapa saya senang sekali membaca buku mulai dari kata pengantar 😊 karena saya ingin mengetahui dasar pemikiran penulis dalam menuliskan buku tersebut sehingga akan memudahkan saya juga dalam memahami apa yang akan saya baca.

Demikian juga resep masakan/kue.  Saat ini jika kita ingin membuat suatu masakan mudah sekali mendapatkan resep untuk diuji coba (recook). Resep bertebaran dimana-mana.  Kita bisa membaca resep lewat buku, mencari lewat google, atau sosial media.  Banyak chef dan ibu rumah tangga yang dengan senang hati membagikan resep masakan andalan mereka.
Namun sayangnya ketika kita praktekkan ternyata gagal 😔
Penampakan makanan beda banget sama foto makanan yang dibagikan.
Rasa apalagi.. haduuhh gak jelas..
Kenapa ya?
Apakah yang membagikan resep menipu kita?
Atau ada kesalahan dalam penulisan resep?
Eits jangan berprasangka buruk dulu ah..
Karena ternyata ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hasil berbeda.
Misalnya faktor alat ukur.  Pada resep yang menuliskan garam 1/4 sendok teh.. yakin kalo ukuran sendok tehnya sama? hehehe
Saya perhatikan juga beberapa orang membagikan resep dengan bahan ekonomis. Misalnya resep donat tanpa telur atau donat tanpa gula. Tetapi hasilnya tetap memuaskan.
Penasaran deh kok bisa ya?
Berarti ada rumus resep tertentu sehingga pengurangan salah satu bahan tidak membawa pengaruh yang berujung pada kegagalan
Makin yakin ada yang perlu kita pelajari 🔍😎


📌📙 Foto Makanan

Hayyooo siapa yang abis foto suka difoto dulu makanannya baru dimakan?
Toooosss ah.. sama!
Hahahahha anak-anak sampai hapal.  Malah setiap saya memasak yang bukan menu keseharian pasti bertanya dulu "Mau difoto gak Bu?"  
Menguasai ilmu foto makanan (atau yang lebih dikenal dengan Food Photography ) menurut saya penting dan perlu saya kuasai lebih dalam lagi karena berbagi resep masakan akan semakin mudah dipahami jika disertai foto dalam tutorialnya.  Resep makanan akan menarik pula untuk "dilirik" jika disertai dengan foto makanan yang dibuat.
Dengan semakin banyak yang melihat resep yang dibagikan tentu kebermanfaatannya akan semakin luas.
Ilmu lain yang perlu juga dipelajari karena berkaitan erat dengan food photography adalah ilmu menata makanan dalam sebuah wadah (food styling).
Tetapi untuk beberapa waktu kedepan saya akan fokus dulu di foto makanan.


📌📙 Efektivitas Waktu

Duh butuh banget nih terampil memanajemen waktu dengan baik. Benar-benar masih PR urusan pembagian dan disiplin soal waktu. 
Saya masih sering menunda suatu pekerjaan atau malah berlarut-larut dalam kegiatan lainnya.
Pekerjaan yang ditunda jelas yang berada di kuadran tidak suka, baik bisa maupun tidak bisa.
Sementara pekerjaan yang membuat saya berlarut-larut mengerjakannya terutama pekerjaan yang saya bisa dan suka.
Rasa penasaran dan ingin berhasil acapkali menyebabkan saya seringkali lupa waktu.
Pernah sampai mengurangi jatah waktu tidur.
Ujung-ujungnya membuat kebahagiaan saya berkurang juga, kepala jadi pusing..
Manajamen waktu pribadi yang berantakan tidak hanya mempengaruhi diri saya sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar.

Dalam diskusi kelas Bunda Cekatan IP Depok, tehnik Pomodoro (salah satu tehnik manajemen waktu) menjadi bahasan yang cukup seru. Tehnik ini memiliki keunikan karena kita diajak untuk bekerja sesuai waktu.  Caranya adalah menggunakan sebuah timer (penemu tehnik ini sendiri  menggunakan timer berbentuk tomat yang dalam bahasa Italia disebut Pomodoro) yang diatur dalam jangka waktu tertentu. Di tehnik Podomoro dalam satu interval yang digunakan adalah 25 menit untuk pengerjaan dan 5 menit untuk beristirahat. Begitu seterusnya hingga 4 interval hal yang harus dikerjakan hari itu terpenuhi.  Dari beberapa artikel yang saya baca, penetapan waktu bisa bekerja dan beristirahat bisa berbeda setiap orang. Saya pikir saya pun perlu mencari pola interval yang lebih tepat untuk keterampilan yang saya ingin kuasai. Karena bisa saja waktu bekerjanya lebih dari 25 menit.  Contoh jika saya melakukan proofing adonan roti waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 40 menit. Sementara pengerjaan lainnya mungkin lebih singkat dari 25 menit.  

Berkaitan dengan penerapan manajemen waktu penting untuk membuat to do list (hal yang harus dikerjakan).  Dalam menetapkan urutan to do list saya berencana menggunakan tehnik Eat That Frog  dimana setelah membuat to do list  kita memilah kembali mana yang paling menjadi tantangan untuk dikerjakan lalu dahulukan pekerjaan tersebut baru mengerjakan pekerjaan lainnya.  Seperti yang diungkapkan oleh penulis buku Eat That Frog, Brian Tracy

“The hardest part of any important task is getting started on it in the first place. Once you actually begin work on a valuable task, you seem to be naturally motivated to continue.”

Sebagai pendukung, saya juga menggunakan aplikasi My Effectiviness sebagai media pencatatan.
Aplikasi ini cukup lengkap dan catatan yang diperlukan tidak hanya tentang to do list saja tetapi juga mencatat tujuan (goal) yang kita inginkan sebagai pengingat.
Ada satu lagi aplikasi yang juga ingin saya coba berikutnya , yakni Remember The Milk (lucu juga ikonnya sapi..qiqiiq) yang mirip dengan mya effectiviness hanya saja di sini ada  kolom pencatatan pendelegasian kerja. 


📌📙  Jurnal Perkembangan Belajar

Seneng deh setiap membuka pinterest dan instagram lalu melihat contoh jurnal belajar yang penuh dengan gambar doodle lucu-lucu.  Dududu.. jadi mau ikutan bikin juga.. 
Tetapi bukan jurnal rencana kegiatan atau rutinitas waktu keseharian yang saya maksudkan.
Melainkan sebuah jurnal khusus yang mencatat perkembangan proses belajar.
Dengan adanya jurnal belajar saya berharap keberhasilan maupun evaluasi perbaikan untuk proses belajar selanjutnya tercatat dengan rapi dan memudahkan saya jika sewaktu-waktu perlu melihat kembali.
Sejujurnya pencatatan yang rapi sendiri merupakan kegiatan yang saya bisa namun tidak suka.
Sebuah tantangan istimewa buat saya untuk konsisten dalam mencatat.
Alhamdulillah saya menemukan sebuah template lembar kerja (worksheet) gratisan yang bisa saya gunakan sebagai acuan contoh membuat lembar kerja ala saya sendiri.
Menarik juga karena didalamnya selain terdapat jangka waktu pengerjaan, persiapan, resiko yang mungkin dihadapi, hasil yang diharapkan, dan seterusnya (mengingatkan saya akan lembar praktikum saat sekolah dulu 😄)


📌 Sumber Ilmu

Untuk memenuhi kebutuhan ilmu maka berikut ini adalah sumber ilmu yang akan saya gunakan :
  • Buku bacaan. Jika saya ingin mengetahui suatu topik bahasan biasanya saya mencaru buku yang berkaitan dengan topik tersebut. Terkadang cukup dari satu buku saja atau bisa juga dari beberapa buku.  Buku-buku ini ada yang saya beli sendiri dan ada juga yang meminjam dari teman/perpustakaan.  Dibandingkan buku elektronik, saya lebih menyukai buku fisik biasa. 
  • Artikel dari internet/majalah/surat kabar.  Seperti halnya buku bacaan, artikel pun bisa menjadi sumber pustaka. Tentu saja penjelasan di artikel lebih ringkas dan padat.  
  • Sosial Media. Pinterest, instagram, youtube dan facebook adalah platform sosial media yang didalamnya banyak sekali pengguna yang membagikan tutorial memasak dan membuat kue.  Tak jarang tips-tips praktis pun disertakan sehingga meminimalisasi kegagalan.
  • Artikel dari internet/majalah/surat kabar.  Seperti halnya buku bacaan, artikel pun bisa menjadi sumber pustaka. Tentu saja penjelasan di artikel lebih ringkas dan padat.  
  • Sosial Media. Pinterest, instagram, youtube dan facebook adalah platform sosial media yang didalamnya banyak sekali pengguna yang membagikan tutorial memasak dan membuat kue.  Tak jarang tips-tips praktis pun disertakan sehingga meminimalisasi kegagalan.
  • Kursus, baik online maupun offline.  
  • Diskusi. Nyatanya ilmu tidak hanya bersumber dari apa yang kita baca atau lakukan tetapi juga bisa bersumber dari pengalaman orang lain yang bisa kita dapatkan dari diskusi.  

📌 Cara Belajar

Dulu sekali saya berpikir bahwa cara belajar hanya dengan membaca.  Belakangan setelah saya amati setidaknya ada 5 cara saya belajar :
  • learning by reading, belajar dengan cara banyak membaca buku/artikel
  • learning by doing, belajar dengan cara mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan dari bahan bacaan atau dari pendapat orang lain
  • learning by teaching, belajar dengan cara mengajarkan kembali ilmu yang saya dapatkan kepada orang lain
  • learning by discussion, belajar dengan cara berdiskusi. Mungkin karena doyan ngobrol ya.. tetapi memang saya seringkali mendapatkan masukan atau ide dari kegiatan ini  
  • learning by experience, belajar dari pengalaman.  Baik pengalaman orang lain maupun pengalaman saya sendiri