Senin, April 06, 2020

Hari Kesepuluh Kepompong


Di hari kesepuluh kepompong..
Pernah gak mengalami suasana hati yang berantakan mempengaruhi apa yang sedang dilakukan?
Saya beberapa kali begitu.  Sampai harus mengulang karena ada saja yang salah.. keseeel!
Lalu saya teringat materi yang saya dapat saat mengikuti pelatihan vibrasi. Satu pikiran negatif seperti kesialan biasa merembet dan berulang kalau tidak segera diubah pola asumsi pikirannya. 
Dan ini yang terjadi di hari kesepuluh. Jadi ceritanya, alhamdulillah ada pesanan pukis dan onde-onde lagi. Dini hari saya sudah menimbang bahan supaya bisa selesai lebih cepat karena selain ada target menulis juga ada tugas fasilitator yang ingin saya kerjakan.  Sampai suatu hal terjadi di pagi hari yang cukup mengganggu mood dan itu berpengaruh pada pekerjaan yang sedang saya lakukan. Ada saja hasil kue yang gak seperti biasanya, padahal menggunakan resep yang sama. Sehingga saya harus mengulang kembali prosesnya sementara waktu terus berjalan. 
Duh istighfar banyak-banyak .. Inhale.. Exhale.. berusaha kembali mengontrol perasaan.

Setelah selesai semua pesanan kue, sambil istirahat saya mencoba mengurai kembali apa yang menjadi evaluasi. Terutama dalam pembuatan kue. Secara keseluuhan koreksi saya lebih pada tekstur/bentuk kue. Untuk rasa, tetap sama, enak.
Saya mulai dari pukis. Kenapa ya kurang mengembang? adonannya kok agak encer? 
Pada adonan yang pertama saya cek kembali bahan yang digunakan, saya menemukan telur yang digunakan ukurannya lebih besar dari biasanya.
Buru-buru cek kembali ke stok telur.. ternyata memang si penjual telur memberikan saya semua telur dalam ukuran yang lebih besar. Pantas saja..
Baiklah saya buat lagi adonannya. Eh tapi kok masih agak encer?
Setelah saya ingat-ingat.. oh iyaaa di pembuatan sebelumnya resepnya (saya menggunakan resep Chalistaa Kitchen, silakan cek di postingan hari ke-5 kepompong yaa) saya memang menambahkan tepung terigu protein sedang dan tinggi karena waktu itu saya merasa tidak seperti adonan yang saya buat sebelumnya. Cubiiit pipi sendiri..lupa mencatat..wkwkwk 
Adonan encer ini membuat warna adonan yang coklat yang saya tambahkan di atasnya juga menyebar, tidak di satu bagian saja seperti yang saya inginkan. 
Selain itu saat menuang adonan ke cetakan mungkin karena buru-buru saya kurang memperhatikan apakah dalam kondisi cetakan yang sudah dalam kondisi panas atau belum. 

Kedua, onde-onde. Lagi-lagi karena ingin cepat selesai (hadooh pelajaran banget deh) saya menggoreng onde-onde dalam jumlah agak banyak sekaligus. Hasilnya malah kurang mekar dan agak berminyak. Belakangan dari browsing saya baru tahu kalau menggoreng dalam jumlah banyak memang menyebabkan onde-onde justru lebih banyak menyerap minyak. 
Catatan lain dalam membuat onde-onde menggunakan resep The Hasan adalah harus menuangkan air secara bijak. Hehehe maksud saya kalau dirasa sudah cukup kalis tak perlu dituang lagi sejumlah yang tercantum dalam resep. Prinsip yang sama dengan pembuatan adonan roti ya.. 

Maa syaa Allah benar-benar menjadi pelajaran..



Jumat, April 03, 2020

Hari Kesembilan Kepompong

Hari kesembilan kepompong, alhamdulilllah ada lagi pesanan cemilan pukis dan pastel yang mana ini berarti bersamaan waktunya dengan target saya hari menulis jurnal dan membahas hasil recook kemarin. Baiklah, kerjakan orderan dahulu sambil tetap mengerjakan rutinitas rumah seperti biasa (memasak, mencuci, dan lain-lain). Setelah selesai.. Mamak lambaikan bendera putih ⚐
Lelah hayati ingin segera rebahan..
Bahas jurnalnya in syaa Allah besok deh
Menulis lembaran jurnal saja dulu..

Dalam lembar jurnal pun saya hanya menuliskan resep kulit onde-onde saja karena secara umum resep isi onde-onde hampir sama seperti yang dituliskan di blog mbak Diana

Resep Isi Onde-onde

  • 100 gr Kacang Hijau Kupas, rendam semalam
  • 100 ml Santan
  • 50 gr Gula Pasir
  • 1/2 sdt Garam
  • 1/4 sdt Vanili Bubuk

Sedangkan resep kulit Onde-onde sebagaimana dalam jurnal berikut :


Badge saya di hari kesembilan, di awal bulan April...


Kasur, ayem kaming!


Hari kedelapan Kepompong


Di hari kedelapan kepompong alhamdulillah badan sudah lebih baik.  Jalankan rencana kemarin ah..  nguprekin resep Onde-onde.  Pernah gak sih makan onde-onde yang pas hangat enak banget garing tapi pas dingin alot? atau lain waktu makan onde-onde setelah dingin alot dan kenyal banget? Ternyata dari hasil browsing ternyata secara umum ada setidaknya 4 macam cara membuat kulit onde-onde. Pertama dengan menggunakan campuran tepung ketan dan tepung beras, kedua tepung ketan dan kentang, ketiga tepung ketan dan baking powder dan keempat,tepung ketan dan tepung terigu.  Hayyooo mau pilih yang mana? bingung ya... 
Yang penting bisa dimakan ..hahahhaha

Resep pertama yang saya coba adalah onde-onde tepung ketan-kentang dari blog Diana Cahya. Lihat foto onde-onde di blognya, duh menul-menul cantik! Alhamdulillah sekali bikin langsung jadi dan empuk bahkan setelah dingin pun demikian. Layak deh dicoba..
Oh iya onde-onde jenis ini memiliki ciri khas kulit yang agak tebal, tetap kopong, namun bentuknya kurang kokoh.
Onde-onde ala mbak Diana ini menjadi recook saya yang pertama.

Coba lagi ah resep lain.
Pilihan saya pun jatuh pada salah satu resep yang ada di youtube, onde-onde ala The Hasan.
Resep kulitnya malah menggunakan 4 bahan dasar yakni tepung ketan, kentang, tepung beras, dan baking powder. 
Hasilnya enaaak jugaaa

Senengnya sudah recook dua resep, alhamdulillah. Apalagi setelah dua hari berturut-turut Need Improvement.  Mariii kita pasang badge Excellent dengan senyum lebaaar 



Selasa, Maret 31, 2020

Hari Ketujuh Kepompong

Hari ketujuh kepompong ini ternyata masih "Need Improvment".  Bangun tidur rasanya badan belum sehat benar.  Sedih juga karena tak berjalan sesuai rencana, membuat cemilan baru. Dengan berbagai pertimbangan, saya merasa harus nengurangi aktivitas fisik dulu.
Di sisi lain ada kabar baik saya terima.  Alhamdulillah, ada yang mau pesan pukis dan pastel. Hwaaa mata emak langsung berbinar.
"Lusa yaa, in syaa Allah.."
Booster untuk lekas sehat.. semangaattt..

Waktu yang seharusnya untuk praktek ini saya gunakan untuk merapikan beberapa catatan resep masakan dan cemilan.  Termasuk catatan resep Onde-onde yang bulan lalu saya buat. Iya, saya berencana cemilan kedua adalah Onde-onde.  Alasan memilih cemilan ini, karena Onde-onde merupakan salah satu cemilan favorit saya, banyak yang menjual, dan menjadi tantangan untuk bisa membuat onde-onde yang tidak alot saat dingin. Tahu kan onde-onde kenyal nan alot?  itu lho yang membuat anak-anak lebih suka makan isinya saja sementara lapisan kulit onde-ondenya malah dibuang.. duh sayang banget

Hasil recook resep pertama sebenarnya sudah cukup memuaskan. Onde-ondenya empuk seperti yang saya inginkan. Mungkin karena menggunakan campuran bahan kentang juga. Hanya saja selain empuk saya ingin bisa mendapatkankan onde-onde yang juga renyah dan tidak tebal. Entah apakah tehnik yang saya gunakan dalam membulatkan onde-onde masih belum benar atau memang demikian hasilnya. Ini yang harus saya pelajari lagi. Kalau melihat foto onde-onde yang sudah jadi dari resep tersebut sih memang agak tebal...
Hmmm penasaran..

Selain mencari resep baru untuk di recook, saya juga menggunakan bekal resep yang dihadiahkan  beberapa teman di masa kelas ulat sebagai sumber referensi. Lucu deh resep onde-ondenya ada yang hasilnya nanti warna-warni seperti pelangi..
Ahhh gak sabar untuk mencoba .. tunggu di postingan berikutnya yaa
In syaa Allah 😊










Senin, Maret 30, 2020

Hari Keenam Kepompong

Hari keenam kepompong menjadi hari saya untuk beristirahat dari jurnal dan recook.
Bukan diam aja juga sih.. saya gunakan untuk merencanakan project cemilan berikutnya, mencari referensi yang dibutuhkan, dan mengecek stok bahan kue yang masih ada.
Karena resep cemilan yang dipilih adalah resep-resep untuk usaha maka cemilan yang banyak dicari orang pun menjadi pertimbangan. Terutama cemilan yang bisa disuguhkan untuk arisan seperti isian kue tampah.
Beberapa yang sudah saya catat untuk direcook seperti onde-onde, pie, talam, menjadi daftar cemilan yang masuk ke dalam list.

Sambil mengecek stok bahan sekaligus saya mengecek stok isi kulkas. Sebagai emak yang suka lupa ada isi apa aja di kulkas penting bagi saya melakukan ini menghindari stok berlebih atau malah habis tanpa disadari. Begitu mau masak "Zonk!" wkwkwkk
Saya membuat tabel sederhana untuk di tempel di pintu luar kulkas.

Boleee kalau mau ngeprint juga, di sini yaa
Anak-anak yang sedang school from home ikut membantu menuliskan list.
Secara tak langsung mereka belajar food preparation juga.

Karena yang menjadi standar badge saya pada pengerjaan jurnal harian dan recook, meski seperti yang telah saya tuliskan di awal saya tetap meluangkan waktu untuk mengerjakan kegiatan yang masih berkaitan dengan project, maka di kalender saya memasang badge "Need Improvment".



Tetap semangaaatttt emakkk *pukpuk pundak sendiri


Sabtu, Maret 28, 2020

Puasa Cucian Perabot Dapur Kotor

Kalau mengira di tulisan ini saya bakal bahas tentang cara atau tips membersihkan perabot dapur yang kotor, duh maaf...bukan tentang itu..
Belum bisa memberi tips karena buat saya sendiri ini masih menjadi PR
Saya suka nguprek di dapur tetapi untuk membersihkan perabot setelah memasak seringkali saya tunda-tunda..
Selonjoran dululah dengan alasan melepas lelah seusai masak.. 
Makan dululah dengan alasan ingin mencicipi hasil masakan..
Ampuuun deh emak kebanyakan alasan.  Walaupun tetap saya kerjakan juga akhirnya.

Dalam kelas kepompong, selain menulis jurnal kami juga ber"puasa" di setiap pekannya. Puasa dari hal-hal yang bisa menghalangi atau menghambat kami dalam mengerjakan project utama mind map. Karena project saya membuat cemilan yang itu berarti akan bertambah lagi perabot kotor di luar perabot yang digunakan untuk masak dan peralatan makan sehari-hari, saya menjadikan puasa cucian perabot dapur kotor sebagai puasa saya di pekan pertama.

Sebagaimana halnya jurnal tantangan 30 hari, dalam puasa ini pun ada 4 badge yakni 
  • Excellent bernilai 4Ini 
  • Very Good bernilai 3
  • Satisfactory bernilai 2
  • Need Improvment bernilai 1
Saya membuat klasifikasi untuk mendapatkan masing-masing badge sebagai berikut
  • Excellent jika sink tanpa cucian perabot kotor, kompor bersih, dapur sedap dipandang
  • Very Good, jika sink tanpa perabot kotor tetapi kompor belum dibersihkan
  • Satisfactiry, jika di sink terdapat kurang dari 4 perabot kotor, kompor bersih
  • Need Improvement, jika di sink terdapat 4 atau lebih perabot kotor, kompor belum dibersihkan
Tantangan dimulai hari Jumat, 20 Maret 2020. 
Hari pertama, waaah lagi membara-membaranya ini, langsung excellent! Target utama sink bersih selesai masak alhamdulillah tercapai. Kompor bersih.. aih ternyata bahagia itu sederhana ya, liat dua bagian ini bersih aja udah bahagia..wkwkwk
Hari kedua, karena gak menggoreng yang minyaknya menari berlompatan, alhamdulillah kompor tetap bersih, sink pun aman. 
Hari ketiga, semangat membersihkan sink masih terjaga dong.. sambil mencicil merapikan perabot dapur lainnya. Tapi ups..kompor belum tersentuh..
Hari keempat, iyesss excellent lagi. Kata si mbarep "Ibu lagi suka bersih-bersih ya?" hahahahha
Hari kelima, alhamdulillah meski lagi-lagi kompor terlewatkan, sink tetap bersih
Hari keenam, ihiks.. sakit kepala saya mulai kambuh lagi.. gak semua cucian perabot dapur saya bersihkan meski masih tetap masak dan mengerjakan jurnal buncek
Hari ketujuh.. benar-benar butuh improvement karena dapur sedikit sekali tersentuh..






Hari Kelima Kepompong

Hari kelima kepompong..
Qodarullah badan saya sedang kurang fit
Gak naik roller coaster tapi kepala rasanya muter-muter setiap berubah posisi.
Alhamdulillah ini sedang berkurang sakitnya
Baiklah segera saja mencatat ..

Isi jurnal sudah sempat saya bahas sedikit di postingan sebelumnya. Ada beberapa bahan yang takarannya menurut saya sudah oke di resep Yackikuka dan ada juga yang sudah oke di resep Chalistaa Kitchen. Kedua resep ini kemudian saya gabungkan dan modifikasi kembali menjadi resep baru ala saya.

Oh iya ada sedikit "kecelakaan" saat merecook resep ini. Si Ragil yang membantu saya menimbang resep ternyata kelebihan mengukur laritan santan. Karena saya menggunakan santan instan, harusnya 370 ml santan itu sudah termasuk 65ml santan sachet yang digunakan. Saya baru sadar saat adonan sudah jadi karena lebih encer. Akhirnya saya tambahkan tepung terigu protein sedang dan tinggi dengan perbandingan 1:2. Phufffttttt.. alhamdulillah adonan pun selamat, hasilnya memuaskan.




Hari Keempat Kepompong

Hari Keempat, recook resep pukis lainnya aahh
Pilih resep siapa ya?
Bolak-balik antara cookpad, youtube, blog.. akhirnya ke youtube lagi
Hahahahaha kayak emak-emak lagi bingung.

Nah ini aja deh.. channelnya Chalistaa Kitchen
Seperti di Yackikuka, resep ini juga merupakan recook tetapi sedikit dimodifikasi pada penggunaan tepung. Memang sependek yang saya perhatikan ada bermacam-macam penggunaan tepung untuk adonan pukis. Ada yang menggunakan tepung terigu protein sedang, ada yang dicampur dengan maizena, ada yang dicampur dengan tepung protein tinggi dan sebagainya.
Buat bisa bilang yang mana yang lebih oke, ya harus dicoba sendiri lagi.
Oh iya saya beberapa kali mengalami, meskipun sudah berusaha mengikuti langkah demi langkah instruksi pembuatan cemilan via youtube yang notabene bisa kita lihat jelas prosesnya ternyata gak selalu berhasil lho..
Entah karena ada yang terlewati dalam pembuatan video atau memang tidak ditampilkan karena beberapa alasan.
Dengan begini saya jadi lebih memahami jika ada beberapa komentar di bawah video yang menuliskan kue yang dibuat tidak sama hasilnya.
Ada beberapa youtuber yang bersedia menjawab tetapi ada juga yang tidak.
Ya gapapa sih..
Saya sendiri akan mencari sumber lain jika saya memang ingin sekali bisa membuat cemilan tersebut.
Kalau sudah gak mood..hempaskan..wkwkwk

Setiap merecook sebuah resep saya mempraktekkan dengan bahan dan takaran yang sama persis.
Resep ini saya recook dua kali karena menurut saya di recook pertama (yang sesuai dengan resep yang tercantum di youtube) hasilnya lebih manis daripada resep milik Yackikuka.
Di recook yang kedua saya kurangi takaran gulanya dan ada beberapa bahan lain yang saya variasikan.
Testimoni paksu dan anak-anak, "udah pas niii.." iyesss!
Makin yakin buat kirim-kirim Pukis juga ke beberapa teman Ibu Profesional yang rumahnya dekat (recook kedua saya sengaja membuat bahan 2 kali lipat).
Alhamdulillah, responnya pun memuaskan
"Kayak pukis premium lho mak Far, lembut.." tulis mak Dyas
"Enyaakk.."tulis mak Ika juga.

Resmilah percobaan Pukis ditutup..
Siap mencoba resep laiiin


Kamis, Maret 26, 2020

Hari Ketiga Kepompong

Hari ketiga kepompong..

Saatnya membuat jurnal dari recook yang kemarin dilakukan..
Sebelumnya saya mau cerita kenapa sih resep dari source ini yang saya pilih?
Jawabannya sederhana, karena si pembuat resep juga sudah mencoba mencari resep yang paling cocok menurutnya.  Dengan kalimat lain berarti resep ini pun sudah terpilih.


Ini berdasarkan penilaian pribadi saya ya
Bisa saja jika orang lain yang mencoba mungkin responnya akan berbeda.
Saya juga melihat sumber resep lain yakni dari channel Sobat Dapur.
Karena salah satu tujuan utama saya untuk membuat resep yang nantinya juga bisa menjadi bahan pelatihan bagi ibu dhuafa yang ingin menambah penghasilan dari rumah dan biasanya yang dibagikan dari channel Sobat Dapur adalah resep untuk berjualan maka beberapa tips dari Sobat Dapur pun saya coba praktekkan.  
Salah satu tips yang saya catat adalah semakin lama masa fermentasi pukis maka akan semakin lembut. Memang demikian namun menurut saya tidak terlalu berpengaruh pada pengembangan bentuk kue setelah matang dan pukis yang dihasilkan lebih berongga.

Terakhir, catatan perkembangan kepompong


Hari Kedua Kepompong

Hari kedua kepompong..

Yup, hari genap saatnya praktek resep.
Cemilan pertama yang saya ingin buat adalah kue pukis. Suka kue ini? Dimakan hangat, hwaaa enak banget! Pukis termasuk kue yang sering dijajakan di pinggir jalan.  Biasanya pedagang kue kaki lima menjual kue pukis dalam ukuran kecil, kemudian dikemas dalam plastik.
Pedagang kue dengan gerobak yang lebih besar menjual kue pukis dalam beberapa pilihan rasa seperti nanas, keju, maupun coklat.
Dari tabloid masakan yang saya baca, disebutkan kue pukis bisa dibuat dalam varian yang lebih banyak lagi. Sebelum bisa membuat aneka varian tentu saya harus bisa dulu membuat kue pukis yang empuk, lembut, dan enak.

Resep pertama yang saya coba adalah resep milik yachicuka di channel youtube. Alhamdulillah langsung berhasil. Tekstur pukis yang cukup padat membuat dua potong kukis sudah mengenyangkan buat saya.
Karena merasa berhasil, selang beberapa jam saya membuat lagi resep yang sama namun dengan penambahan waktu fermentasi. Ternyata hasil teksturnya berbeda namun rasa tetap enak.
Ah jadi penasaran ingin mencoba resep pukis yang lain...



Rabu, Maret 25, 2020

Hari Pertama Kepompong

Hari-hari sebagai kepompong dimulai..
Tak banyak obrolan soal isi kepompong selain dari hal-hal yang berkaitan dengan teknis pengerjaan tugas karena memang masa kepompong adalah masa bagi kami masing-masing untuk serius mengerjakan project sesuai dengan yang telah kami tuliskan sebelumnya dalam mind map  dan mencukupkan diri dengan bekal-bekal yang telah kami peroleh di masa ulat.

Ada 4 macam badge yang akan diletakkan dalam kalender tantangan sebagai penanda masa tumbuh kepompong yakni :


Di masa kepompong saya merencanakan untuk menjalankan project membuat cemilan yang ekonomis.  Beberapa langkah yang saya lakukan antara lain :
  • Memilih cemilan apa saja yang ingin saya buat.  Pertimbangan memilih cemilan antara lain yang paling banyak dijual tetapi bahannya mudah didapat.  
  • Menguji resep dengan memasak ulang resep tersebut
  • Membandingkan dengan beberapa resep lain
  • Mencari resep yang paling tepat 
  • Mengarsipkan resep tersebut sebagai resep andalan
Berkaitan dengan proses di atas saya berencana juga untuk membuat bullet journal (bujo) khusus untuk mencatat setiap hasil dan evaluasi yang harus dilakukan. 
Dan agar masih bisa tetap melakukan pekerjaan rumah sehari-hari maka pembuatan jurnal dilakukan di hari ganjil (pertama, ketiga, kelima, dan seterusnya) sedangkan praktek dilakukan di hari genap.

Hari pertama tantangan saya lakukan dengan membuat rencana di selembar kertas apa saja yang ingin saya praktekkan dan format seperti apa isi bujo saya nantinya. Sudah ada 3 resep dari rencana minimal 5 resep selama dalam masa kepompong ini. Sementara untuk bujo saya masih membuat dalam bentuk sederhana.  Tak tertutup kemungkinan bisa saja di tahap perkembangan berikutnya akan ada perubahan isi bujo dengan yang lebih detail. Jadi pada hari pertama ini masih perlu perbaikan lagi.


Selasa, Maret 24, 2020

Kapsul Waktu

"Membukaaa Kapsuuulll Waktuuuuuu" .. ngebayangin ngomong begini di tahun 2030 pakai suara ala doraemon 😁
Maa syaa Allah entah bagaimana keadaan saya di tahun 2030 itu..
Hummm.. apa sudah mempunyai cucu ya.. terus membuka kapsul ini ditemani cucu (haduh emaaak mikirnya udah sampai cucu..qiqiqiiq)
Atau berdua saja dengan pak suami karena anak-anak sudah memiliki kesibukan masing-masing?
Atau menjadi bingkisan kenangan bagi anak-anak?
Gendhuk, si anak gadis satu-satunya begitu tahu akan dibuka 10 tahun mendatang dia bilang "Ibuu.. itu aku udah umur 27!"
"Jadi nanti yang buka siapa ya?" sahut saya.
"Ibulah" jawabnya.
Wallahu'alam
Yang pasti akan menjadi moment menakjubkan membaca tulisan dari masa lalu.

Kapsul waktu merupakan mini project yang sedang saya buat sebagai tugas akhir di Orientasi Komunitas Ibu Profesional.
Sepintas mirip saat matrikulasi dulu, membuat milestone. Hanya sekarang dituliskan pada lembaran kertas, lalu dimasukkan ke dalam sebuah wadah.
Tentu bukan sekedar keinginan tetapi dengan berdasarkan pertimbangan yang jelas, terukur, dan realistis.

Karena akan dibuka 10 tahun mendatang dan mengingat kertas mudah dimakan rayap atau rusak karena air, saya memilih wadah kapsul yang terbuat dari kaca.  Pilihan saya jatuh pada jar imut bekas selai. Kemudian saya menggunting 3 lembar kertas warna dalam potongan kecil.  Pada masing-masing potongan kertas saya tuliskan apa yang saya inginkan terjadi di tahun 2030 bagi diri saya pribadi, keluarga, dan hal bermanfaat yang bisa saya berikan untuk sekitar. Setelah selesai menulis kertas tersebut saya lipat membentuk pesawat dan saya masukkan ke dalam botol jar.


Saatnya menyimpan kapsul waktu dalam tempat yang aman, di suatu pojokan di dalam lemari 😉
Walaupun saya yakin anak-anak dan suami juga tidak akan membukanya tetapi menyimpannya di tempat yang tak terlihat rasanya tetap lebih baik. Agar saya sendiri tak tergoda untuk mengintip sebelum waktunya..hehehhe


Bismillah..
Mengurai harapan dengan ikhtiar
Mengkokohkan dengan tawakal
Bersama doa-doa yang terus dilangitkan..
Semoga..
aamiin

Selasa, Maret 17, 2020

Dari Telur Hingga Ulat

Sudah berapa bulan ya mengikuti kelas Bunda Cekatan? Sebentar... hmm kurang lebih tiga bulan. Dan diperkirakan masih ada tiga bulan ke depan lagi yang harus dijalani jika ingin lulus kelas ini. Jenuh? Gaklah. Mungkin karena tantangan kelas ini lebih ke diri sendiri jadi yang dikerjakan pun bebas ala diri sendiri.  Berbeda dengan kelas Bunda Sayang dimana tantangan game lebih pada kegiatan membersamai anak (yang berarti tergantung juga pada mood anak dan sebagainya). Persamaan kelas Bunda Cekatan dan Bunda Sayang,  sama-sama  harus menjaga stamina pikiran, hati, fisik serta melatih kecekatan diri terutama dalam mengatur waktu. Pokoknya kudu setronglah..

Ada dua tagline utama dari kelas Bunda Cekatan yakni #janganlupabahagia dan #merdekabelajar. Benar ya.. jadi emak gak boleh lupa kalau kebahagiaan diri emak itu penting. Mengurusi pekerjaan rumah yang seabreg dengan segala kehebohannya membutuhkan energi yang besar. Kalau gak ngerti cara untuk bahagia atau malah gak bahagia bagaimana bisa memberi kebahagiaan untuk anggota keluarga yang lain? Kebahagiaan, menjadi point pertama yang saya beri stabilo pink agar saya selalu ingat. Apakah kebahagiaan emak berarti emak harus selalu nomor satu? dalam penerapannya tentu bentuknya tidak melulu seperti itu.  Seperti yang saya tuliskan di postingan sebelumnya, adakalanya kebahagiaan emak terjadi manakala anggota keluarga lain bahagia.  Melihat anak makan dengan lahap, emak bahagia (iyessss keringat capek langsung menguap), melihat suami sehat emak bahagia, dan seterusnya.  
Di kelas Buncek inilah saya kembali belajar mendefinisikan bahagia.. 
Bahagia seperti apa yang saya mau? 
Apa saja yang bisa membuat saya bahagia?

Sementara dari tagline merdeka belajar, saya belajar pula untuk memberi makna lebih dalam pada kata merdeka. Sudah pasti belajar yang dimaksud adalah belajar tanpa sekat ruang kelas. Tetapi merdeka? 
Ternyata kami diberi kebebasan untuk menentukan belajar seperti apa yang kami mau.
Bukan dalam arti sebebas-bebasnya atau semaunya sendiri lho yaa melainkan merdeka yang bertanggung jawab.
Contohnya ketika sudah di tahap membuat peta belajar, kami boleh merevisi kembali telur-telur yang sudah dibuat jika ternyata kami merasa telur yang kami buat ternyata tidak tepat. Tapi kami harus memahami juga perubahan yang dibuat akan berpengaruh pada tahapan berikutnya.
Termasuk merdeka dalam belajar, kami oleh menyetorkan tugas dalam bentuk platform apa pun. 
Mau dalam bentuk tulisan di blog seperti yang saya lakukan sekarang? boleh. 
Mau dalam bentuk video karena merasa lebih praktis dan memang suka belajar lewat lisan? boleh
Mau dalam bentuk gambar saja? boleh juga.
Hasilnya, kami bisa melihat berbagai bentuk media belajar.  Saat dibuat parade, wow kereeen!
Tetapi ada juga tugas yang harus disetor dalam bentuk video. Duh tantangan banget buat saya yang pemalu (please percaya aja yah kalau saya pemalu..hahahahaha).  Saya didorong untuk keluar dari zona nyaman.  Sampai butuh semedi lama di kamar agar bisa khusuk.  Entah berapa kali harus mengulang sampai saya mendapatkan hasil yang saya inginkan.  Itu pun hasilnyaa.. aah yang penting prosesnya kaaan (ngeles..wkwkwk)

Hal lain apa lagi ya yang berkesan?
Oh ini.. ketika kami mencari setidaknya 5 orang teman, kemudian kami bertanya apa keluarga favoritnya dan alasan memilih keluarga tersebut.
Lagi-lagi tantangan untuk keluar dari zona nyaman. 
Pada awal mendapatkan tugas kami juga menerka-nerka apa ya hubungan tugas ini dengan proses belajar? Mengapa tak ada hubungannya dengan mind map yang kami buat?
Setelah selesai mengerjakan tugas, di wag kelas satu per satu mengalirkan rasa.
Ternyata maa syaa Allah banyak hikmah yang kami dapatkan.










Selasa, Maret 10, 2020

Bekal Buat Mak Dy

Alhamdulillah sampai juga di tugas terakhir kelas ulat Bunda Cekatan.. yeaayyyy..
Tugasnya sepintas sederhana, cuma menyimak aliran rasa teman yang dipilih sebagai "buddy" lalu memberinya bekal apa saja yang sekiranya ia butuhkan selama menjadi kepompong nanti.
Oh iya buddy saya adalah Dyas Purnamasari.  Saya biasa memanggilnya Mak Dy. Mak Dy, emak yang asyik buat diskusi. Kami sering ngobrol karena beberapa aktivitas di komunitas acapkali juga berada dalam tim yang sama. Kami sama-sama menjadi fasilitator, berada dalam satu tim perangkat kelas, dan mak Dy adalah leader IP Depok sebelum saya yang ini berarti banyak diskusi juga tentang komunitas bersamanya.
Seingat saya, saya baru bertemu Mak Dy ya di Depok ini.  Tapi ternyata tanpa kami sadari kami sudah bertemu beberapa tahun lalu (saat saya berkunjung ke SMAnya sekitar tahun 90an) sebagai tamu undangan tim nasyid Bestari.. maa syaa Allah..
Itu juga berarti saya sudah hampir selesai kuliah dan mak Dy.. masih SMA?? fix lah tuwir ..hahahhaa

Setelah saya menyampaikan aliran rasa, berikutnya giliran mak Dy yang bercerita. Ia membuka dengan kalimat ini :

Bahagia seperti apa yang kau cari?
Bahagiaku ketika melihat bahagia orang lain
Terkadang fokus pada bahagianya namun abai pada diri
Memetik hikmah dalam perjalanan metamorfosis berupa TAWAZUN

Tersadar bahwa aku telah mendzolimi diri
Tidak menjaga keseimbangan antara jasad, akal dan ruhani
Membaca tanda dari-Nya
Melalui apa yang telah diciptakan-Nya

Menyelami diri
Mendatangi hati
Berbisik dalam sunyi
Berharap maaf atas kelalaian diri
Berharap Allah menuntun hati
Agar senantiasa BERSYUKUR DALAM SEGALA KONDISI

Menyusuri hutan pengetahuan

Menyadarkan diri bahwa aku harus berlepas dari benda, menerapkan metode minimalis agar fokus bahagia mengoptimalkan waktu saat ini untuk hal yang penting dalam hidup.

Konsisten melakukan aktivitas bahagia sederhana yg bisa dilakukan setiap saat seperti walking, slowjoging, lower-upper body workout.

Menjaga lambung dengan puasa dan memasukan makanan yg sehat (yang kaya enzim dan prosesnya tidak terlalu lama) dan thoyyib. Mempersingkat waktu di dapur dengan food preparation.

Untuk ruhani dan akal, saat ini, aku mau fokus pada menjaga waktu sholat dan mamahami al-Qur'an melalui terjemah per kata.

Barokallah Mak Dy..
Membaca aliran rasanya seperti diingatkan juga akan hal ini.
Di kelas Bunda Cekatan ada hastag yang digunakan yakni #janganlupabahagia
Sederhana, membacanya sudah membahagiakan hati, namun bisa diterjemahkankan dalam beberapa sisi.
Bisa diartikan bahagia yang utama adalah pemenuhan kebahagiaan diri sendiri dulu (tanpa mengindahkan kebahagian orang lain) atau termasuk menjadi bahagia apabila di dalamnya ada kebahagiaan orang lain yang didahulukan.
Saya pribadi lebih cenderung pada yang kedua. Agar saya bahagia (dan semakin leluasa mengerjakan hal membahagiakan hati saya) mungkin saya harus membantu mewujudkan kebahagiaan orang-orang di sekeliling saya.
Ternyata mak Dy pun berpendapat sama.

Untuk mendapat gambaran yang lebih utuh, saya (S) melanjutkan dengan beberapa pertanyaan ke mak Dy (MD).
S  : Ceritain ttg kelas olahraga Mak.. Apa yg mak Dy dapat dari kelas olahraga?
M : Aku dapat konsistensi praktek olah raga seperti jalan dan slowjog, beberapa or utk meningkatkan massa otot seperti  upper - lower body workout (alhamdulillah bb ku naik 1kg😍) ...ini yg paling terasa
S  : Mau aku doain naik berapa kilo Mak? (ngetik sambil mesem-mesem..qiqiqi)
M : Cukup sampai 49 kg, aku mau  fokus naikin massa otot mak bukan bb
S  : Kudoainnya berarti massa otot cepet naik ya ..
M : Aamiin.. Setelah rutin or ternyata menyenangkan mak...kek ada rasa bahagia gitu (alhamdulillah)
S  : Juga ttg kelas lain yg mak Dy ikuti, adakah?
M : Ini ada di keluarga senior kebal (maknan sehat)dan keluarga cemara (food prep).

Hmm.. ada 4 kata kunci yang saya catat: tawazun, jogging, food preparation, dan makanan sehat.
Bismillah, seperti biasa buka web canva.com, mulai meracik bekal. 




 Contohnya antara lain seperti ini
Semoga cukup untuk menambah perbekalan ya Mak
Eeee kalau masih kurang bilang aja
In syaa Allah diracikkan lagi 😊




Selasa, Maret 03, 2020

Memberi Jeda

Pernah gak sih merasa "kekenyangan" ngemil ilmu?
Semua ilmu yang baik/bermanfaat begitu menggiurkan untuk diicipi..
Tetapi nyatanya tidak semua kita butuhkan.
Saking seringnya icip-icip ilmu bahkan kadang tak ada satu keterampilan atau pengetahuan mendalam yang kita benar-benar kuasai.
Di sinilah kita perlu memberi jeda..
Memberi ruang bagi diri untuk mengevaluasi kembali apa sebenarnya yang kita inginkan? ilmu apa yang ingin benar-benar dikuasai?

Saya pun kembali mengingat-ingat ilmu apa saja yang sudah saya dapatkan selama di hutan apel?
Ada banyak potluck ilmu beterbaran di sana..
Saya memegang kuat-kuat peta belajar dan hanya memilih ilmu-ilmu yang saya butuhkan seperti resep membuat bolu kukus, resep membuat pie susu, membuat baceman, dan tips membuat roti. Keempat potluck ini masih termasuk dalam menu utama yang saya inginkan meski belum tepat sesuai keinginan karena saya menginginkan resep yang didalamnya ada juga cerita tentang proses mendapatkan resep tersebut sehingga saya bisa belajar dari proses yang dijalani,
Karena bersamaan dengan dimulainya tahapan ulat saya pun memulai project menemukan takaran tepat resep-resep kue yang enak meski dibuat secara ekonomis.

Berikutnya mulai mencari keluarga yang merupakan kumpulan dari beberapa peserta kelas Bunda Cekatan yang memiliki ketertarikan ilmu yang sama. Tentu saja pilihan saya jatuh kepada keluarga Cooking yang kemudian namanya berubah menjadi keluarga Ratu Dapur. Di dalam keluarga ini awalnya pembicaraan kami lebih pada persiapan keluarga untuk berbagi cerita dengan keluarga-keluarga lain dalam bentuk video. Bertambah hari topik pun semakin beragam. Mulai dari food preparation, berbagi tips dapur, dan berbagi resep.
Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan tetapi belum sampai pada yang saya benar-benar butuhkan. Meski demikian, tak mengapa.. saya tetap dapat menikmati.
Dari menyimak video keluarga di luar Ratu Dapur saya pun akhirnya tertarik juga berkunjung ke keluarga Fotografi - Videografi, Namun entah karena saya masuk ke dalam keluarga tersebut terlambat atau memang tak banyak dibahas, ilmu yang saya butuhkan tentang food photography tak banyak saya jumpai.
Oh iya di kelas saya woro-woro, jika ada yang menemukan kelas Bullet Journal tolong dikabari. Alhamdulillah ternyata ada sub bagian keluarga Manajemen Waktu yang membahas khusus tentang Bullet Journal.
Masih tetap berpegang pada peta belajar, bahasan dalam keluarga Bullet Journal ini pun menjadi makanan utama yang lezat.



Selasa, Februari 25, 2020

Hadiah Ilmu yang Menyenangkan!

Di jam gentayangan,  notifikasi whatsapp tampak di layar hp..
"Eh siapa ya yang jam segini melek juga?" pikir saya..
Dan ternyata.. oalaa dari mbak Wawak, peserta kelas Bunda Cekatan juga tetapi dari Semarang.
Mbak Wawak mengirim hadiah istimewa, sebuah resep "Pizza Meat and Cheese"
Hwaaa seneeeng.. alhamdulillah
Kok ya bisa pas, saya sedang mengumpulkan resep pizza untuk bahan belajar berikutnya.
Maturnuwun sanget njih mbak .. 😍

Pagi hari sebelumnya, mbak Fa dari Temanggung mengirimkan saya dua file pdf. Yang satu kumpulan resep Aneka Olahan Tahu dan Tempe sedangkan yang satu lagi kumpulan resep Masakan Oriental.
Sekedar informasi (penting buat diketahui..hahahaha) tahu dan tempe ini lauk yang paling sering saya masak di rumah. Kalau sedang rajin tahu dan tempe menjadi bentuk sate, nugget, patty, fu yung hai, tumisan, dikukus, digoreng.. bermacam-macamlah. Kumpulan resep yang dihadiahkan mbak Fa menambah ide masakan lagi.. berbinar-binar deh emak.. tahu tempe ayem kamiiiing..

Dua hari sebelumnya,  saat bangun tidur sore (seriusan ini ketiduran karena saya jarang banget tidur sore), saya kaget melihat sebuah plastik berisi tepung, minyak, dan gula  tepat berada di sisi tempat tidur.
"Waduh kok tepung di kamar ya? sesuka-sukanya bikin kue gak sampai kamar juga deh.." pikir saya.
"Ayah, ini belanjaan siapa kok ada di kamar?"
Si Mbarep yang menjawab "Tadi ada ibu-ibu dateng nanya ini rumah bu Farida? trus ngasih itu.."
Buru-buru cek handphone.. maa syaa Allah dari mak Dyas. ("Mak" adalah sapaan kami sesama anggota IIP regional Depok)
Tahu banget sih Maak..  lagi butuh banyak tepung buat project pribadi uji resep 😁
Alhamdulillah..

Dan tiga hari sebelumnya, saya mendapat hadiah link dari mak Hani tentang membuat jurnal resep menggunakan bullet journal. Ada doodle ikon resep gratisannya juga! Bikin gak sabaaar ingin cepat membuat jurnal.
Dari mak Ami, yang ikut dalam kelas Manajemen Belajar, saya mendapatkan link aplikasi untuk membaca ringkasan buku. Gratis Maaak.. membantu emak seperti saya yang suka membaca buku dan harus menentukan buku mana yang paling tepat untuk dikunyah sesuai kebutuhan.

Sebelumnya lagi masih ada resep Onde-onde pelangi dari Mak Ika. sebelumnya lagi..sebelumnya lagi..
Maa syaa Allah..
Saya yakin juga akan ada sesudahnya lagi dan sesudahnya hadiah-hadiah ilmu ini berdatangan.
Hadiah ilmu yang mampu membuat kita tersenyum lebar dan tak sabar ingin membacanya.

Saya jadi teringat sebuah hadits yang mungkin hampir semua anak TK Islam hapal

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

"Salinglah kali memberi hadiah maka kalian akan saling mencintai" (HR Bukhori)

Persis seperti ini yang kami rasakan saat memberi dan menerma hadiah. Awalnya kami tidak begitu mengenal satu sama lain karena berbeda regional, kemudian secara personal berkenalan, kemudian saling memberi hadiah, dan kami merasakan kedekatan yang lebih.
Hal lain yang juga kami rasakan adalah, kami berlatih mengolah rasa dan mempekakan hati.
Bukan peka terus jadi baper lho..
Tapi dengan memberi hadiah kami mengasah kepekaan terhadap keinginan dan kebutuhan orang lain. Semakin sering memberi, semakin peka.

Dalam keseharian berkeluarga juga tak lepas dari memberi.  Bantuan-bantuan kecil seperti mengambilkan barang, perhatian, pelukan, kado, hidangan yang enak, sampai senyuman kecil pun bisa menjadi sebuah hadiah yang saling mengeratkan satu sama lain. Hadiah, memang tak selalu menyenangkan. Di situlah kita kembali belajar untuk menerima. 

Beidewei saya membaca di salah satu artikel yang menuliskan hadits bahwa Rasulullah SAW selalu membalas pemberian/hadiah orang lain. Rasulullah SAW melakukan demikian pasti karena ada kebaikan besar dibalik sebuah hadiah.  Bahkan Rasulullah pun berpesan untuk kita, para muslimah, tetap memberi hadiah walaupun jumlahnya sedikit (sebatas kemampuan)

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

"Wahai para wanita muslimah tetaplah memberi hadiah kepada tetangga, walau hanya kaki kambing yang diberi" (HR Bukhari no 2566 dan Muslim, no 1030)

Jangan diartikan secara harfiah minimal pemberin adalah kaki kambing juga untuk di Indonesia yah.. tentu berbeda lagi. Tetapi intinya adalah sebatas kemampuan minimal yang bisa kita berikan.

Oh iya saya sendiri juga memberikan hadiah untuk teman-teman kesayangan. Ada link youtube olahraga untuk Mak Dyas, ada ebook belajar untuk teman-teman yang masih memiliki anak balita, dan sebuah poster makanan dalam 1 piring untuk teman-teman yang ingin membuat manajemen menu sehat. 

Semoga Allah mampukan untuk selalu bisa memberi dalam kebaikan.. aamiin






Selasa, Februari 18, 2020

Ngobrol Seru di Kebun Apel

Masih kemping di Kebun Apel Bunda Cekatan.
Tukeran potluck ilmu, sudah..
Mencari keluarga favorit dan bertukar ilmu, sudah..
Sekarang waktunya berkeliling, bertemu teman-teman lain trus ngobrol syantik deh..
Hummm .. ngobrol sama siapa ya?
Sebentar, bawa catatan sekalian ah
Pengen tahu juga apa sih keluarga favorit teman-temanku ini..

Tengok sana-sini.. ketuk pintu tenda (alias wapri 😀) alhamdulillah ketemu temen-temen yang ternyata seru juga pas diajak ngobrol.. padahal beberapa baru kenal lho..
Eh sebelumnya saya mengenalkan diri juga dari keluarga Ratu Dapur.
Keluarga ini menjadi keluarga favorit karena saya suka sekali berkegiatan di Dapur. Selain ingin menyenangkan keluarga lewat makanan yang saya buat, saya juga ingin menambah kebermanfaatan.  Sebagaimana yang sering saya bagikan di kelas minat Dapur Emak IP Depok, "Dari Dapur Menuju Surga" doakan ya?.. aamiin.

Saya mau tulis di sini ah, teman-teman yang saya ajak ngobrol..


✍ Dyas Purnamasari

Emak satu geng tim Peluit di perangkat Kelas Buncek IP Depok..hehehe. Gapapa lah ya
biar lebih dekat kepoin apa sih kelas favoritnya. Sebenernya bisa ketebak bakal pilih kelas olahraga karena memang saya perhatikan akhir-akhir ini sering banget saat diskusi santai bilang sedang menguatkan niat untuk berolahraga. Alasan memilih kelas olahraga katanya karena sesuai anjuran dokter yang sedang dibutuhkan tubuh sekarang adalah olahraga.

✍ Ellisa Martha

Icha panggilannya.  Karena di IP Depok biasa memanggil dengan sebutan "Mak" jadilah saya menyapanya dengan sebutan Mak Icha. Mak Icha aktif sekali dan selalu berbinar mengikuti kegiatan offline. Entah sebagai penyelenggara maupun sebagai peserta. Emak dari 1 putri dan 2 putra ini memilih keluarga Coaching sebagai keluarga favoritnya karena ingin tahu lebih banyak soal parents coach

✍ Dede Karyati

Yang ini panggilannya Mbak DeKa, berasal dari IP Karawang. Saya bertemu dengannya di acara Akademi Fasilitator IIP Batch #1. Mbak Deka menjadikan keluarga Teman Bermain Anak sebagai keluarga favoritnya.  Alasannya, supaya makin banyak ide bermain bersama anak dan makin asyik lagi mainnya.  Mbak Deka memiliki putra berusia 4 tahun yang memiliki gaya belajar visual dan lebih cepat menangkap pelajaran dengan menggunakan kartu berwarna-warni yang dibuat sendiri oleh mbak Deka.. keren ya! (mengingatkan saya saat anak-anak masih kecil dulu)

✍ Dewi Fatimah

Saya kenal mbak Dewi saat sama-sama menjadi fasilitator di kelas Bunda Sayang Batch #2. Saya masih menjadi koordinator kota waktu itu dan mbak Dewi sempat pula mengampu kelas Bunsay Depok menggantikan fasilitator sebelumnya yang sakit. Mbak Dewi, berasal dari IP Banten, memilih keluarga Cemara sebagai kelas favorit.

✍ Sagita Nur Pratiwi

Saya baru kenal dengan mbak Gita di kebun Apel. Mbak Gita berasal dari IP Tangerang Selatan dan memilih kelas favorit, Public Speaking. Mbak Gita senang sekali di kelas ini karena merasa gaya belajar visualnya terpuaskan lewat ilmu-ilmu yang dibagikan. Di sini mbak Gita bisa melihat dan mempraktekkan langsung ilmu tersebut serta mendapatkan respon yang membangun.

✍ Atika

Mbak Atika berasal dari IP Pacitan.  Ia memilih keluarga Manajemen Emosi (salah satu keluarga yang banyak sekali membernya) sebagai keluarga favorit karena merasa PR besarnya ada di pengelolaan emosi. Alhamdulillah mbak Atika mengatakan bisa mendapatkan banyak ilmu yang dibutuhkan di keluarga manajemen emosi

✍ Eka Abdi Negari

Teh Eka, demikian saya memanggilnya. Seorang Ibu dari suku Sunda-Jawa namun sudah lama menetap dan besar di tanah pasundan. Kami berada di keluarga yang sama, Ratu Dapur.  Tetapi yang menjadi favoritnya keluarga Manajemen Emosi karena membersamai anak-anak menjadi prioritas utamanya di samping masak dan merapikan rumah (tiga hal yang menjadi permintaan suaminya).
Karena kami sama-sama di Ratu Dapur akhirnya obrolan pun lebih banyak seputar Dapur. Mulai dari peralatan dapur sampai proses memasak. Seruuu..

✍ Hernawatiningsih Wawak

Saya kenal mbak Wawak di wag leader kota Ibu Profesional. Alhamdulillah di kebun Apel bisa lebih dekat lagi. Mbak Wawak memilih kelas Traveling dan Cooking sebagai kelas favorit. Mbak Wawak mengatakan ia sedang berusaha mengajarkan anak-anak untuk tangguh dalam hidup ini lewat traveling.  Sementara lewat Cooking, mbak Wawak ingin selalu siap menyediakan menu sehat untuk keluarga

✍ Laela

Teman baru saya yang ini berasal dari Kalimantan Selatan. Aslinya orang Bandung hanya merantau ke sana. Teh Laela punya dua keluarga favorit juga yakni Keluarga Manajemen Waktu dan Financial.  Senang berada di keluarga tersebut karena teh Laela merasakan mendapatkan banyak ilmu "daging" yang bisa ia terapkan sesuai value keluarga

✍ Septi

Mbak Septi memilih keluarga Cemara sebagai keluarga favorit. "Gak bisa move on!" katanya.  Ia (dan suami) sadar betul bukan dari keluarga rapi dari kecil. Didampingi suami saat membuat mind map, dipilihlah Seni Beberes Rumah sebagai project utama. Mereka berdua ingin memutus mata rantai tidak rapi, agar anak-anak lebih rapi dan masa tua mereka berdua kelak lebih hepi.
Alhamdulillah di keluarga Cemara selain seni beberes ternyata juga ada food preparation, seni masak cepat, dan tips setrika

✍ Fatimah Albatul

Fa, panggilannya. Berdomisili di Temanggung namun bergabung dengan IP Jogja.  Mbak Fa, bergabung dengan keluarga Manajemen Emosi (Inside out), sub keluarga Self Healing.  Mbak fa sedang mempraktekkan ilmu sadar napas dan berusaha mengenali emosi sendiri.

✍ Sinardi

Sapaannya, Ina.  Keluarga Favoritnya Inklusi Family dan Montessorian.  Alasannya karena berkaitan dengan pendidikan yang sedang ia jalani yakni studi diploma montessori dan senang membersamai anak

Alhamdulillah sudah 12 teman yang bersedia berbagi cerita..
Dari sini saya bisa simpulkan, sesuai dengan pengamatan saya sebelumnya, keluarga Manajemen Emosi menjadi favorit bagi kebanyakan ibu di kebun Apel.








Selasa, Februari 11, 2020

Keranjang Bullet Journal

Yuhuuuu saatnya berkelana di kebun apel 🌳🌳🌳
Bawa keranjang aah .. siapa tahu apel yang didapat banyak
Go green.. tak elok pakai kresek..qiqiqiqi
Apelnya buka apel biasa melainkan apel ilmu.
Melihat pohon apel ilmu yang banyak sekali buahnya.. maa syaa Allah, harus pegang erat peta belajar nih supaya benar-benar hanya memetik buah apel yang diinginkan.

Di Kelas Bunda Cekatan ada sekitar 20 lebih keluarga yang masing-masing memiliki satu buah pohon apel ilmu. Satu keluarga, satu topik ilmu. Ada keluarga cooking, counseling & coaching, desain, driing, financial planning, manajemin waktu, manajemen emosi, gizi anak, agama, foto & videografi, wah masih banyak lagi ilmu yang menarik untuk diicipi. Dan bisa dibayangkan betapa luasnya area hutan pohon apel ini. Belum lagi di setiap keluarga ada Go Live-nya di facebook. Honoowww godaan sekali untuk mamak yang doyan icip ilmu sana sini..
Lihat peta belajar lagi.. hmm ada tentang jurnal. Ada gak ya keluarga yang membahas tentang bullet jurnal alias bujo? Woro-woro di whatsapp grup buncek ah! 
"Maaak kalau ada keluarga yang bahas tentang jurnal kabar-kabarin yaa" 🕪

Alhamdulillah dua hari berselang ada yang mengabari 
"Mak Far, di Keluarga Uluwatu ada pecahannya nii.. bullet jurnal"
Asyiiikkk segera ke telegram tempat keluarga ini berada.  Ternyata sudah banyak yang bergabung.
Segera duduk manis dan menyimak diskusi perdana tentang "Apa itu Bullet Journal" bersama mbak Citra Anggita.

Setelah membaca materi, diskusi pun dimulai dengan mengungkapkan alasan membuat bujo.  Ada merasa perlu decluttering pikiran, ada yang merasa perlu pengingat supaya kegiatannya tidak bertabrakan, untuk membuat perencanaan, untuk mencatat pola kebiasaan, dan lain sebagainya. 
Yup! inti pembuatan bujo memang demikian. Bukan untuk membuat catatan yang cantik (duh ngintip lembar bujo di pinterest banyak berhiaskan doodle keren bikin terpesonaa..) qiqiqi salah fokus.
Citra Anggita (narasumber materi diskusi) menyampaikan pengertian bullet journal adalah

Sistem pengaturan jadwal, reminder, to do list, brainstorming, dan tugas-tugas pengaturan lainnya dalam satu buku catatan

Menelusuri sejarah pembuatan bullet journal, ternyata berawal dari sang penemu, Ryder Carroll, (didiagnosa ADHD) yang begitu mudah terdistraksi lalu ia pun membuat bullet journal untuk membantunya lebih berkonsentrasi.  Seperti yang dilansir di situs TED

Growing up, Carroll was easily distracted, tugged in every direction by anything and everything. He says, “As a kid, my biggest problem was focusing on way too many things at the same time … As an adult, that’s just known as being busy. But being busy doesn’t mean you’re being productive. A lot of times, being busy just means you’re in a state of being functionally overwhelmed.”

Carroll menyarankan segera ambil buku catatan dan pulpen lalu segera mulai lakukan hal berikut 
  1. Buat inventaris mental, tuliskan hal-hal yang perlu dilakukan, hal-hal yang harus dilakukan, dan hal-hal yang ingin dilakukan
  2. Pertimbangkan mengapa melakukan masing-masing hal ini 
  3. Untuk setiap hal dalam daftar, tanyakan lagi apakah ini penting? apakah ini perlu bagi saya dan orang yang saya cintai? Jika jawaban keduanya tidak maka dapat dicoret dari daftar
  4. Pilih hal yang penting lalu pecah lagi menjadi bagian-bagian kecil.  Carroll memberikan contoh "Jika Anda ingin belajar memasak jangan memulai dengan memasak makanan yang rumit untuk 6 orang. Proyek-proyek kecil memungkinkan kita menumbuhkan keingintahuan. Mulailah dengan menguasai beberapa resep sederhana dan teruji dengan bahan dan tehnik yang Anda kenal"
AHA, KLIK! dengan apa yang saya inginkan dan tulis juga dalam peta belajar.
Carroll menekankan pentingnya alasan yang kuat dan pertimbangan yang dalam untuk membuat sebuah jurnal. Dan saya ingin membuat bullet journal untuk membantu saya mencatat proses menemukan resep cemilan yang ekonomis namun tetap lezat.
Pencatatan ini penting bagi saya dan berharap juga kelak resep ini akan bermanfaat bagi para ibu dhuafa yang membutuhkannya.

Diskusi berlanjut dengan cara membuat jurnal. Tak ada patokan khusus menggunakan buku catatan dengan bentuk tertentu. Apa saja yang penting nyaman untuk ditulis. Isinya pun bebas. Mau seperti yang dicontohkan Carrol, dengan membuat rapid log, juga bisa.
Dengan begini terasa banget ya bullet journal itu memang ala kita sendiri.

Tinggal praktek nih..
Semangat mencataaattttt



Sumber referensi






Senin, Februari 10, 2020

Fasilitator dan Kebahagiaan

Menjadi fasilitator bagi saya itu salah satu hal membuat bahagia..beneran!
Dan ketika ditanya /benda apa yang paling cocok menggambarkan peran sebagai fasilitator yang bahagia dan membahagiakan? Yang terbersit dalam pikiran saya adalah lampu.
Wait.. kok lampu?
Iyalaaaah.. lampu kan membuat terang/cerah suasana.  Fasilitator juga begitu..bahagia karena bisa menjadi bagian dari proses yang mencerahkan dan membahagiakan bagi sekitarnya.
Hohoho.. daleeem 😎

Mungkin masih ada yang bertanya-tanya, sering mendengar kata fasilitator tetapi belum paham apa sih pengertian fasilitator?

Wikipedia menuliskan pengertian Fasilitator sebagai berikut

Fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang memahami tujuan bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam diskusi.

Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesi pengertian fasilitator adalah

 fasilitator/fa·si·li·ta·tor/ n orang yang menyediakan fasilitas; penyedia: di dalam konsep belajar mandiri, guru dan sekolah tidak lagi menjadi titik pusat kegiatan, tetapi lebih bersifat sebagai pendukung dan -- kebutuhan murid

Berdasarkan asal katanya, berasal dari bahasa Perancis, facile yang artinya mudah. Sehingga fasilitator adalah pemudah cara.

Fasilitator sendiri bermacam-macam lho jenisnya.  Ada fasilitator konflik, fasilitator bisnis, fasilitator pendidikan dan lain-lain. Karena berada dalam lingkup Institut Ibu Profesional maka fasilitator yang dimaksud adalah fasilitator pelatihan/pendidikan bagi orang dewasa, khususnya para ibu. pendidikan bagi orang dewasa memiliki karakteristik khusus dimana orang dewasa,

  • Belajar karena adanya tuntutan tugas, tuntutan perkembangan atau keinginan peningkatan peran. Berbeda dengan anak-anak yang cenderung menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, orang dewasa akan belajar manakala pembelajaran ini dapat memenuhi tuntutan tugas, tuntutan perkembangan, dan tuntutan akibat peningkatan peran. Karenanya dalam pembelajaran orang dewasa perlu dijelaskan kaitan antara materi dengan tuntutan tugas, peran, dan tuntutan perkembangan mereka.
  • Suka mempelajari sesuatu yang praktis, dapat langsung diterapkan, dan bermanfaat dalam kehidupannya. 
  • Dalam proses belajar ingin diperlakukan sebagai orang dewasa/dihargai
  • Orang dewasa kaya pengalaman dan berwawasan luas, mempelajari sesuatu yang baru berdasar pengalamannya.  Sebaiknya cara mempelajari sesuatu yang baru dimulai dari pengalaman-pengalaman mereka.
  • Belajar dengan cara berbagi pendapat bersama orang lain. 
  • Mempertanyakan mengapa harus mempelajari sesuatu sebelum mereka mempelajari sesuatu. Jika anak-anak cenderung menerima topik pembelajaran, orang dewasa perlu mengetahui bahwa hal-hal yang mereka pelajari merupakan hal yang bermanfaat langsung bagi mereka.
  • Belajar dengan memecahkan masalah tidak berorientasi pada bahan pelajaran 
  • Menyukai suasana pembelajaran yang membangkitkan kepercayaan diri. 
  • Memerlukan waktu yang lebih panjang dalam belajar karena memvalidasi informasi baru. 
  • Melanjutkan proses belajar jika pengalaman belajar yang dilaluinya memuaskan.

Terus apa bedanya dengan trainer?

Menurut Bukik di laman webnya,

Trainer adalah seseorang yang berperan mengajarkan sebuah pengetahuan/metode/tehnik pada sekelompok orang. Ada proses transfer pengetahuan dari trainer kepada peserta sehingga peserta tahu dan mampu melakukan keterampilan baru.  Kewenangan trainer pada isi dan proses pertemuan. Trainer biasanya bertanggung jawab pada pembelajaran individual yang menghasilkan aksi personal. 
Sedangkan fasilitator, tidak mengajar peserta lain yang bukan fasilitator.  Kewenangannya pada proses pertemuan, tidak boleh mempengaruhi isi percakapan pertemuan. Meski demikian fasilitator bertanggung jawab pada pembelajaran kolektif.  Orang-orang diajak berbagi dan merefleksikan pengalaman terbaik, menemukan inovasi, dan membuat keputusan bersama.

Karena tidak mengajar (berfungsi sebagai sumber ilmu) maka tidak masalah apabila latar belakang pendidikan fasilitator ternyata tidak sama dengan materi yang dibahas. Namun fasilitator perlu mempelajari dan menguasai tehnik fasilitasi yang efektif yang meliputi antara lain teknik partisipatif, teknik bertanya dan mendengarkan, tehnik memfasilitasi kesepakatan, dan seterusnya.

Sementara Siswoyo berpendapat seseorang akan menjadi fasilitator yang baik, dilihat dari 2 (dua) variabel determinan yang mempengaruhi  yakni :

1. Sikap dan perilaku fasilitator, berkaitan dengan etika dan moral fasilitator dengan indikator
  • Disiplin, kepemimpinan;
  • Integritas;
  • Kerjasama dan prakarsa

2. Kemampuan akademik, berkaitan dengan :

  • Penguasaan  substansi mata ajar yang dipilihnya.
  • Mampu berkomunikasi dengan baik, serta dapat mentransfer buah pikirannya kepada orang lain melalui kemampuan melakukan presentasi yang baik.
  • Menguasai strategi pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun fisik, yang dikenal sebagai pembelajaran interaktif.

Namun, tidak hanya cukup berhenti pada menjadi fasilitator yang baik, penting pula untuk menjadi fasilitator yang bahagia dan membahagiakan lhoo..
Berdasarkan pengalaman pribadi, saya mencatat ada 5 hal yang perlu dimiliki oleh seorang fasilitator

🔖 Alasan yang kuat.

Sebuah alasan adalah pendorong kita memencet tombol hijau "Lakukan!".  Semakin kuat sebuah alasan, semakin cepat tombol itu menyala.  Alasan bagi setiap orang tentulah berbeda-beda. Bagi saya, ketika pengumuman pembukaan Akademi Fasilitator IIP tiba, yang mendorong saya untuk mendaftar karena saya menganggap ini adalah pintu bagi saya untuk menambah kebermanfaatan. Sungguh saya tidak tahu batas usia.  Alhamdulillah situasi dan kondisi pun sedang memungkinkan bagi saya untuk berkegiatan. Di sisi lain saya senang membersamai sebuah proses belajar.  Apalagi jika akhirnya kebaikan yang diinginkan tercapai.. saya ikut bahagia.
Orang lain sangat mungkin memiliki alasan yang berbeda. Misalnya dengan menjadi fasilitator maka lingkup pertemanan akan semakin luas sehingga akan mempernudah urusan lainnya. Sah-sah saja demikian.

🔖 Senang belajar

Seorang fasilitator, meski bukan sumber ilmu, sudah semestinya seorang yang senang belajar (pembelajar sejati). Kesukaannya ini akan mendorong untuk mencari tahu lebih banyak saat menjumpai hambatan atau mempelajari ilmu yang belum ia ketahui. Belajar tentu dengan caranya sendiri.  Bisa lewat membaca, melakukan (praktek), belajar dari pengalaman orang lain, dan sebagainya.
Sebagai contoh, saya belajar dengan banyak memperhatikan apa saja yang dilakukan fasilitator terdahulu dalam membersamai peserta dalam sebuah ruang kelas seperti cara menyampaikan kembali materi yang perlu diketahui peserta kelas, menggali kemampuan berdiskusi serta mengajak peserta kelas aktif ikut menyampaikan pendapatnya. Setelah itu saya tiru dan modifikasi sesuai dengan gaya saya sendiri.
Saya juga belajar dengan praktek langsung menjadi seorang fasilitator.  Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya tentang karakteristik pendidikan orang dewasa, pada tahap awal saya perlu menyesuaikan diri, mengenal seisi ruang kelas. Alhamdulillah suasana cepat menjadi  akrab dan nyaman, baik bagi saya maupun peserta kelas. Saya menyampaikan bahwa saya bukanlah seorang guru yang serba tahu melainkan fasilitator yang membantu memudahkan peserta memahami materi yang diberikan. Saya pun sedang belajar. Saya bukan penentu benar dan salah serta membuka forum diskusi seluas-luasnya untuk berpendapat, bercerita, sampai akhirnya menemukan suatu kesimpulan yang disepakati oleh seisi kelas dan menjadi bahan acuan belajar yang akan diterapkan pada masing-masing keluarga. Di akhir periode pembelajaran praktek pun kami evaluasi kembali.  Di situlah saya acapkali menangkap binar-binar bahagia peserta kelas dan ini sungguh membuat saya sebagai fasilitator turut merasa bahagia.

🔖 Menjadikan hambatan sebagai tantangan.

Apakah karena hanya membersamai sebuah proses menjadikan tugas fasilitator akan berjalan mulus tanpa hambatan? Jawabnya tidak. Hambatan, entah besar atau kecil, tentu ada. Pada prinsipnya persepsi yang berbeda menghasilkan penyelesaian yang berbeda. Persepsi positif akan membuat fasilitator lebih mudah dan bahagia menjalankan perannya.    Misalnya hambatan dalam menentukan waktu diskusi. Kecuali memang sudah ditetapkan jadwal sebelumnya, menyesuaikan jadwal sekian banyak orang dengan sekian banyak kesibukan membutuhkan kemampuan untuk menetapkan kesepakatan.  Hambatan lain misalnya ketika ada peserta kelas yang berbeda pendapat dan mempengaruhi suasana kelas hingga menjadi sedikit gaduh. Untuk hal ini dibutuhkan ketenangan fasilitator dalam menanggapinya yang bisa diperoleh jika fasilitator tersebut memiliki persepsi yang positif. Hal yang berbeda akan terjadi jika fasilitator menanggapinya dengan emosional.

🔖 Menyadari keuntungan menjadi fasilitator.

Adalah hal yang amat wajar jika kita melakukan suatu kegiatan karena kita menyadari ada keuntungan yang bisa diperoleh.  Hal ini akan membuat kita lebih berbinar dan tangguh menjalani setiap waktu yang harus dilewati.  Demikian juga menjadi fasilitator.  Saat kita menyadari ada keuntungan besar yang akan kita peroleh, maka apa pun hambatannya tak menyurutkan langkah. Keuntungan ini tentu bersifat personal.

Bagi saya, menjadi ridhoNya atas kebermanfaatan itulah keuntungan utama yang saya harapkan.
Keuntungan lainnya adalah

  • Menguatkan ilmu yang sudah didapat dengan cara mengulang-ulang kembali bersama peserta kelas
  • Menambah ilmu baru.  Saya kerap berpikir ilmu yang sama dengan penyampaian berbeda seringkali menghasilkan ilmu baru, yang belum saya ketahui.
  • Menambah pertemanan. Karena tidak hanya membersamai ibu-ibu yang berdomisil sama dengan saya, maka dengan menjadi fasilitator lingkar pertemanan saya pun bertambah luas. 
  • Mengkayakan kemampuan bersosialisasi. 
  • Memiliki manajemen diri yang lebih baik, seperti manajemen waktu, manajemen emosi, dan lain-lain yang mau tidak mau harus dilakukan agar tercapai tujuan memfasilitasi .

🔖 Tekad untuk tumbuh menjadi diri yang lebih baik

Semua orang tentu ingin menjadi lebih baik. Ada rasa bahagia yang hadir saat kita berhasil maju selangkah dibanding hari kemarin.  Demikian pula dalam menjalani peran sebagai fasilitator. Setiap keuntungan yang diperoleh memberikan peluang untuk terus bertumbuh dan bahagia.
Namun adakalanya juga yang terjadi tak seperti yang diharapkan. Menambah peran baru sebagai fasil berarti mengajak untuk mengatur kembali ritme keseharian. Kadang kala menyebabkan beberapa aktivitas berbenturan.  Akibatnya diri menjadi lebih emosional dan berdampak pula bagi orang-orang di sekitar. Hal ini menyebabkan proses tumbuh tertunda. Hanya tekad kuat yang selalu mampu menarik diri untuk bangkit dan bersemangat memperbaiki keadaan.



Sumber referensi