Senin, April 06, 2020

Hari Kesepuluh Kepompong


Di hari kesepuluh kepompong..
Pernah gak mengalami suasana hati yang berantakan mempengaruhi apa yang sedang dilakukan?
Saya beberapa kali begitu.  Sampai harus mengulang karena ada saja yang salah.. keseeel!
Lalu saya teringat materi yang saya dapat saat mengikuti pelatihan vibrasi. Satu pikiran negatif seperti kesialan biasa merembet dan berulang kalau tidak segera diubah pola asumsi pikirannya. 
Dan ini yang terjadi di hari kesepuluh. Jadi ceritanya, alhamdulillah ada pesanan pukis dan onde-onde lagi. Dini hari saya sudah menimbang bahan supaya bisa selesai lebih cepat karena selain ada target menulis juga ada tugas fasilitator yang ingin saya kerjakan.  Sampai suatu hal terjadi di pagi hari yang cukup mengganggu mood dan itu berpengaruh pada pekerjaan yang sedang saya lakukan. Ada saja hasil kue yang gak seperti biasanya, padahal menggunakan resep yang sama. Sehingga saya harus mengulang kembali prosesnya sementara waktu terus berjalan. 
Duh istighfar banyak-banyak .. Inhale.. Exhale.. berusaha kembali mengontrol perasaan.

Setelah selesai semua pesanan kue, sambil istirahat saya mencoba mengurai kembali apa yang menjadi evaluasi. Terutama dalam pembuatan kue. Secara keseluuhan koreksi saya lebih pada tekstur/bentuk kue. Untuk rasa, tetap sama, enak.
Saya mulai dari pukis. Kenapa ya kurang mengembang? adonannya kok agak encer? 
Pada adonan yang pertama saya cek kembali bahan yang digunakan, saya menemukan telur yang digunakan ukurannya lebih besar dari biasanya.
Buru-buru cek kembali ke stok telur.. ternyata memang si penjual telur memberikan saya semua telur dalam ukuran yang lebih besar. Pantas saja..
Baiklah saya buat lagi adonannya. Eh tapi kok masih agak encer?
Setelah saya ingat-ingat.. oh iyaaa di pembuatan sebelumnya resepnya (saya menggunakan resep Chalistaa Kitchen, silakan cek di postingan hari ke-5 kepompong yaa) saya memang menambahkan tepung terigu protein sedang dan tinggi karena waktu itu saya merasa tidak seperti adonan yang saya buat sebelumnya. Cubiiit pipi sendiri..lupa mencatat..wkwkwk 
Adonan encer ini membuat warna adonan yang coklat yang saya tambahkan di atasnya juga menyebar, tidak di satu bagian saja seperti yang saya inginkan. 
Selain itu saat menuang adonan ke cetakan mungkin karena buru-buru saya kurang memperhatikan apakah dalam kondisi cetakan yang sudah dalam kondisi panas atau belum. 

Kedua, onde-onde. Lagi-lagi karena ingin cepat selesai (hadooh pelajaran banget deh) saya menggoreng onde-onde dalam jumlah agak banyak sekaligus. Hasilnya malah kurang mekar dan agak berminyak. Belakangan dari browsing saya baru tahu kalau menggoreng dalam jumlah banyak memang menyebabkan onde-onde justru lebih banyak menyerap minyak. 
Catatan lain dalam membuat onde-onde menggunakan resep The Hasan adalah harus menuangkan air secara bijak. Hehehe maksud saya kalau dirasa sudah cukup kalis tak perlu dituang lagi sejumlah yang tercantum dalam resep. Prinsip yang sama dengan pembuatan adonan roti ya.. 

Maa syaa Allah benar-benar menjadi pelajaran..



0 Comments:

Posting Komentar

Haiii.. tanpa mengurangi keakraban, silahkan berkomentar dengan baik dan sopan yaa.. Komentar bersifat spam tidak akan dipublikasi