Sabtu, Maret 16, 2019

Menang Tanpa Usaha


Si ragil sedang bersiap berangkat ke sekolah di hari Minggu itu.
Ada seleksi yang diselenggarakan serentak untuk menjadi wakil sekolah masing-masing ke Olimpiade Sekolah Nasional. Satu bidang pelajaran hanya dipilih satu orang. Si ragil terpilih bersama satu orang teman lainnya mengikuti seleksi bidang matematika. Di antara mereka berdua hanya akan ada 1 orang saja yang mewakili sekolah.

"Udah siap Dek?"tanya saya.  
"Auk dah.."jawabnya sambil memakai kaos kaki. 
"Eeeh kok Auk?"tanya saya 
"Aku sih udah belajar .. tapi auk dah.."
"Emang kenapa Dek?"
"Aku gak gitu apal rumus, kalo temenku itu apal rumus. Kursus juga"
"Tapi kan Adek pinter logika.." timpal saya menyemangati
"Menang tanpa usaha..pake logika aja"katanya sambil tertawa

Tentu saja si ragil paham usaha itu penting. Hal yang seringkali saya ucapkan berulang-ulang kepada anak-anak, bukan hasil yang paling utama tetapi usaha. Sesuai keinginan atau tidak, yang kita dapatkan selalu ketetapan Allah yang terbaik. Karena hal ini juga saya belajar untuk tidak bereaksi marah saat anak-anak pulang sekolah dan bilang "kayaknya ulangan aku hasilnya jelek deh.." atau marah karena "Bu.. ranking aku turun..". Yang saya tanyakan pasti "udah usaha belajar belum? kalau udah ya gapapa". Lain hal kalau anak-anak tidak usaha/belajar, sudah pasti bawel saya kambuh (ups!)

Suatu hari pernah seorang teman dengan ceria menunjukkan sebuah hasta karya, tugas sekolah anaknya.
"Wow kereeeen!" begitu reaksi pertama saya saat melihatnya.
"Pinter banget ih udah bisa bikin kayak gini".
Lalu dengan santai teman saya menjawab "Itu aku yang bikin..abisnya kasian dia bikin lama banget gak jadi-jadi. Sekalinya jadi gak bagus. Daripada dimarahin gurunya mending dibantuin deh"
"Oooo.." batal deh kagumnya.
Dengan hati-hati saya tanyakan kepadanya "Kenapa dibantuin?"
"Ya karena sayanglah" jawabnya lugas.
Tidak sekali dua kali saya menjumpai kejadian seperti ini, orangtua yang rajin mengerjakan tugas sekolah anak. Tampak raut wajah bangga dan senang melihat tugas sekolah anaknya selesai dengan memuaskan.  Terbayang senyum di wajah sang anak kala menyerahkan tugas tersebut kepada guru.
Sungguh saya mengerti rasa cinta, sikap melindungi dan rela berkorban yang dimiliki orangtua untuk anak-anaknya. Tetapi bentuk cinta orangtua yang tidak pada tempatnya justru akan merusak anak.

Mengapa saya katakan demikian?
  • Dengan mengerjakan tugas anak sesungguhnya kita sedang menunjukkan pada anak secara tidak langsung bahwa kita tidak mempercayai kemampuan anak kita sendiri. Bukankah kita ingin anak kita adalah anak yang mampu menghadapi tantangan jaman? Bagaimana bisa menghadapi tantangan jika ia tak yakin memiliki kemampuan? sementara orangtuanya sendiri tidak percaya.
  • Memupuk sikap bergantung pada anak. Tak selamanya kita sebagai orangtua ada di samping anak saat ia membutuhkan. Tubuh orangtua pun menua. Justru di saat itu keadaan bisa terbalik, orangtualah yang membutuhkan anak. Dan anak-anak yang terbiasa menggantungkan kebaikan pada orang lain besar kemungkinan sulit menjalani kehidupan apalagi memberi bantuan. Manja, demikian biasa disebut. Sikap yang terlahir dari pola asuh.
  • Mengajarkan sikap tidak bertanggung jawab. Tugas anak adalah tanggung jawab anak. Mendorongnya mengerjakan tugas dengan baik merupakan bentuk dukungan orangtua. Setiap tugas memiliki konsekuensi. Oleh karena itu wajar pula jika ternyata tugas tidak dikerjakan mendapatkan konsekuensi negatif seperti dimarahi guru, mendapat tugas tambahan, dan lain-lain. Dengan belajar konsekuensi, selain menguatkan sikap bertanggung jawab, jiwa ketangguhan anak pun terasah.
  • Memupus rasa bangga anak akan hasil kerja sendiri. Siapa lagi yang akan lebih menghargai dan merasa bangga suatu hasil karya jika bukan pembuatnya? Rasa bangga menjadi motivasi untuk menghasilkan karya-karya berikutnya. Kalau tugas yang mengerjakan orangtua, maka rasa bangga menjadi milik orangtua, bukan anak.
  • Menyuburkan sikap berbohong. Melihat hasil karya yang dikerjakan di rumah bagus, tentu guru akan bertanya, siapa yang mengerjakan? Jika berani jujur anak akan mengerjakan orangtua yang lebih banyak mengerjakan.  Tetapi jika ia takut, akan menjawab dirinya sendiri. Padahal setiap orangtua seringkali meminta anaknya berkata jujur bukan?
Lain waktu anak-anak bercerita tentang teman-temannya yang mencontek saat ulangan.
Betapa mereka pun melihatnya gemas.
Ditambah pengawas ujian sepertinya kurang peduli dengan kejujuran.
Saya katakan, "Hasil tetap Allah yang tetapkan. Kalau nilai mereka bagus, maka itulah ketetapan Allah.  Gak usah kita iri. Nilai bagus, bisa jadi cobaan buat mereka. Mau terus berbuat salah atau gak? Kalau pilih terus berbuat salah, mereka sebenernya rugi. Gak nambah ilmu selain ilmu mencontek. Lagian percaya deh, beda banget rasanya nilai bagus karena usaha sendiri dengan nilai bagus karena mencontek"
"Ah gak selalu juga nilai mereka bagus" timpal si ragil.
"Hahahaha iya ya Dek, sibuk nyontek trus nyonteknya salah waktunya habis"😝

Dan saat pembagian rapor ternyata alhamdulillah ranking mereka lebih tinggi daripada yang mencontek. Iseng, saya tanyakan kembali, "Gimana rasanya ranking bagus tanpa nyontek, seneng?" mereka pun menjawab dengan bangga "Iya!"

Menanamkan nilai pada sebuah kemenangan adalah tugas orangtua.
Menang tanpa usaha, bisa jadi sebuah keberuntungan.
Menang karena usaha yang sungguh-sungguh adalah kemenangan yang membanggakan.













Senin, Maret 11, 2019

Tulis Sajalah


Sejujurnya bingung mau menulis judul apa ya?? Meski ada beberapa kelebatan ide judul yang ingin saya tulis. Tetap rasanya kurang sreg. Ini bedanya menulis blog dengan status facebook, instagram, atau twitter ya.. yang tinggal tulis "what is in your mind?" tetiba lancar deh jemari emak menulis segenap rasa serta pikiran.. curhat colongan pun dimulai. Sependek yang saya ingat memang dalam beberapa buku dan pelatihan menulis yang saya ikuti, narasumber menyatakan hal senada, mulailah dengan menuliskan pengalaman yang berkesan. Gak usah dipikirin kalimat harus sesuai susunan baku bahasa Indonesia yang benar. Lancar dulu menulis, terbiasa, baru perlahan mulai dibenahi.

Kebingungan saya dalam menulis judul membawa saya membuka-buka lagi buku tentang menulis. Ada beberapa buku tentang menulis di rumah. Pilihan saya tertuju pada buku Pak Hernowo, Mengikat Makna Update : Membaca dan Menulis yang Memberdayakan. Tak sengaja buku ini terbuka tepat di halaman yang bertuliskan :
... saya hanya ingin memberikan satu peluang besar agar siapa saja yang ingin menulis, pertama-tama mendapatkan manfaat-langsung dan nyata dari kegiatan  menulisnya.  Apa manfaat itu? Manfaat menulis yang ingin saya bagikan lewat buku ini adalah manfaat menulis untuk sebuah upaya memperbaiki diri.  Menulis boleh apa saja dan untuk siapa saja, tetapi menulislah untuk mendapatkan manfaat langsung dan konkret bagi diri sendiri terlebih dulu
Tulisan yang mengajak saya bertanya kembali pada diri sendiri untuk apa saya menulis?  Sebelum saya bisa membagikan manfaatnya kepada orang lain seperti yang selama ini saya inginkan tentu diri saya sendiri harus bisa merasakan manfaatnya terlebih dahulu. Ibarat tanaman obat, bagaimana mungkin saya bisa mengajak orang lain menggunakannya sebagai alternatif pengobatan jika saya sendiri tidak pernah merasakan langsung. Saya pasti hanya bisa bilang "katanya" tanpa meyakini benar (kecuali ada kerabat/teman dekat yang sudah mencoba dan berhasil menyembuhkan sakitnya).

Saya pun mulai mengingat-ingat kembali kapan saat saya rutin menulis untuk diri saya sendiri. Ah iya masa smp-kuliah. Berarti sekian puluh tahun yang lalu?  maa syaa Allah..di jaman banyak gadis seusia saya gemar menulis "dear diary..", termasuk saya. Tetapi saya lebih sering menulisnya tidak di sebuah buku, karena khawatir ada yang membaca πŸ™ˆ.  Isi hati saya tuliskan di lembaran kertas, kemudian setelah selesai saya hapus dan buang. Bukan tidak pernah memiliki buku diary. Beberapa kali malah membeli buku diary yang ada gemboknya. Saking hati-hati gemboknya sering hilang πŸ˜…. Haduuh padahal baru ditulis sedikit. Ya sudahlah pakai kertas biasa saja, yang penting apa yang mengganjal di hati dan pikiran sudah tersalurkan. Meski akhirnya tak bisa dibaca ulang. Belakangan saya baru tahu dari seorang terapis bahwa tehnik menulis untuk menyalurkan uneg-uneg di selembar kertas juga bisa digunakan sebagai terapi mengurangi efek inner child. Hanya saja menulisnya menggunakan pulpen (tidak dihapus seperti yang saya lakukan) dan setelahnya dibakar, dengan alasan yang sama agar tak dibaca lagi.

Seingat saya setelahnya memang ada masa di mana saya rutin lagi menulis namun lebih dalam bentuk quote atau status facebook. Tetapi biasanya jika sedang ada kegiatan lain atau ada yang sedang saya fokuskan bisa berbulan-bulan facebook saya sepi tanpa postingan. Dan buat saya menulis di facebook, yang merupakan ranah publik, tak sebebas menulis di kertas. Ada beberapa pertimbangan sebelum akhirnya membuat sebuah postingan status. Sebagaimana saya tidak suka membaca status negatif (yang isinya mengeluh, mengumpat, meledek, dan lain-lain) dari orang lain yang tampil di beranda,  saya pun tak mau orang lain membaca status negatif dari saya meski saya misalnya sedang amat kesal akan sesuatu hal dan butuh tulisan pelampiasan. Alasannya sederhana, tak ingin terbawa dan membawa negatif ke sekitar.

Menulis merupakan salah satu cara untuk menemukan pemecahan masalah. Setuju sekali! Tidak semua masalah harus dibicarakan dengan orang lain.  Saya berpikir memecahkan masalah sendiri akan membantu saya tumbuh lebih dewasa dan bijak. Bukankah suatu waktu mungkin saya pun akan menjadi pendengar dan membantu orang lain memecahkan masalah? bagaimana jika saya tak pernah mengijinkan diri saya menemukan solusi? Nyatanya menulis dan membacanya perlahan membuat saya lebih bisa melihat sumber masalah dengan jernih. Sehingga biasanya di akhir saya malah menemukan apa yang harus saya lakukan lalu saya pun mendapatkan penguat dari diri sendiri.

Instropeksi diri dan lebih bisa memilih reaksi positif adalah beberapa dari sekian banyak manfaat yang saya rasakan dari menulis.  Apakah ini juga karena rata-rata 20.000 kata yang dikeluarkan pun turut tersalurkan? bisa jadi. Sebagian sudah disalurkan lewat tulisan sehingga secara lisan berkurang.  Ternyata perempuan lebih cerewet pun karena memang secara alami sudah diciptakan demikian lho.. Sebuah artikel di liputan6.com  menuliskan para ilmuwan telah menemukan penyebab wanita cerewet itu akibat protein Foxp2 dalam otak perempuan lebih tinggi kadarnya daripada dalam otak pria. Protein Foxp2 sendiri merupakan protein bahasa.

Ummm.. ngomong-ngomong sudah berapa kata yang saya tulis ya?
Jadi sebaiknya diberi judul apa?
.....
.....
.....
Tulis sajalah
















Senin, Maret 04, 2019

Debat


Musim debat. Sepertinya mengalahkan musim durian dan buah-buahan lainnya πŸ˜…. Menjelang pemilihan umum makin banyak saja program debat yang ditayangkan. Hampir semua stasiun televisi. Bahkan ada satu program yang durasi debatnya nyaris 3 jam! Maa syaa Allah, saya yang menonton di rumah saja puyeng 😡 apalagi yang hadir.  Eh mungkin berbeda ya, lebih betah menyimak kalau hadir langsung di acara tersebut. Bisa jadi saya puyeng karena kurang paham dengan topik yang dibahas.. qiqiiqiq entahlah.. yang jelas kalau panelis debat sudah mulai ada yang nyinyir atau ngeyel, saling sindir, marah-marah..daripada terbawa emosi lebih baik saya mengerjakan yang lain. Kesehatan emosi emak jauh lebih penting πŸ˜‚

Gak suka berlama-lama bukan berarti saya tidak setuju 100% adanya debat. Tergantung debatnya deh.. oke, asal tujuan dan caranya baik. Orang lain tidak harus memiliki pendapat yang sama dengan kita. Pun sebaliknya. Pendapat yang disampaikan dengan kalimat yang santun, berisi (tidak asal bicara) dan dapat dipertanggungjawabkan pasti akan membuat kita yang menyimak semakin kaya pemikiran juga.

Sebenarnya pengertian debat itu apa sih?

Debat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
Debat menurut Wikipedia  merupakan kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan.

Bicara soal santun, terus terang miris melihat pendebat yang seperti mengenyampingkan adab, tak menghormati lawan bicara. Entah menguap kemana yang disebut-sebut norma ketimuran atau norma agama. Disadari atau tidak, apa yang dilakukannya sudah memberikan contoh yang buruk pada sekian juta penonton televisi yang menyaksikannya. Semakin bersikeras, semakin menunjukkan keburukannya sendiri. Keberkahan ilmu yang ingin didapatkan pun berkurang karena yang ada di pikiran hanyalah menang dan merasa paling benar.
Jangan salahkan generasi muda pun melakukan debat dengan cara yang sama. Bahkan tak jarang berlanjut dengan tawuran.

Di rumah saya sering mengajak anak-anak berdiskusi tentang apa yang mereka tonton dan cukup bawel mengingatkan efek dari tontonan negatif yang dilihat berulang-ulang dapat masuk ke dalam alam bawah sadar dan menjelma menjadi perilaku.






Minggu, Maret 03, 2019

Ketika Berbagi Menjadi Kebutuhan

sharing, berbagi

Selepas wisuda seleh sebagai koordinator kota seorang teman bertanya,
"Mak Far abis ini mau ngapain?"
Saya jawab "Ngerjain banyak hal Mak" 😊
"Coding Mum?" (karena ia tahu saya belum lama ini bergabung dalam Komunitas Coding Mum Indonesia)
"Ya termasuk juga itu"
Berbagi manfaat tidak berhenti hanya karena seleh (selesai) pada satu urusan. Karena berbagi untuk saya adalah suatu kebutuhan, in syaa Allah saya akan terus berusaha mencari cara agar bisa berbagi. Hal yang sama saya pikir juga berlaku bagi orang lain. Meski dengan alasan dan bentuk yang mungkin berbeda.

Sabtu, Maret 02, 2019

Kontributor Buku

Menjadi kontributor sebuah buku? sejujurnya ini menjadi hal yang diinginkan tetapi tak terbayangkan dapat terwujud. Hingga hanya satu kalimat syukur yang menggambarkan semua rasa "Alhamdulillahirobbil'alaamiin.."
Allah Maha Baik memberikan saya kesempatan berbagi lebih luas lagi lewat sebuah buku.

Iya, sedari dahulu saya ingin memiliki sebuah karya berupa buku. Betapa kagumnya saya pada para penulis yang begitu lincah merangkaikan kata demi kata, sehingga membacanya pun emosi menjadi berirama, imajinasi bermain dengan gembira, pikiran tercerahkan, hanya lewat penyampaian sederhana namun memiliki efek luar biasa bagi yang membaca . Setiap selesai membaca karyanya, menyisakan banyak tekad menjadi lebih baik. Terbayang ya betapa banyak amal sholih yang mereka tabung.. maa syaa Allah sukses membuat iri!

Minggu, Februari 10, 2019

Pin Pengingat


Pin dan jilbab seperti dua teman dekat.  Sama seperti bros dan pin.  Pin memiliki banyak ukuran dan sering digunakan juga sebagai souvenir kegiatan atau kepanitiaan.  Dibandingkan bros, saya lebih suka memakai pin untuk kegiatan yang tak resmi seperti bertemu dengan teman atau kopdar komunitas.

Apalagi jika pin yang digunakan itu pin yang berisi kata-kata motivasi. Berasa diingatkan dan memang harus sering diingatkan biar tetap eling 😁
Contohnya gambar pin di atas tadi. Tuh.. baru melihat saja sudah ikut tertawa kaaan πŸ˜‚
Mana cocok muka sedih atau marah saat memakainya.
Bisa diketawain sama pin sendiri..hahahhahaha

Awalnya saya hanya punya 1 pin motivasi yang bertuliskan "Think Big". Dulu saya membelinya di acara pertemuan pengurus sebuah Rumah Baca.  Kemana-mana selalu saya pakai sampai nyaris menjadi ciri (gak menyengaja mencirikan tapi memang hanya punya itu πŸ˜…).
Lama-lama terpikir untuk membuat pin sendiri. "Pin by Mak Far" demikian saat ini saya menyebutnya. Pengennya sih menggunakan merk. Tak apalah.. itu nanti saja.
Mulailah saya membuat desain.

Karena ala saya, maka dalam setiap desain pin saya selipkan cerita, rasa dan keinginan agar diri saya tetap dalam kondisi positif yang saya inginkan.
Gak selalu bisa mengandalkan orang lain terus mengingatkan kaan? sebab sama saja dengan menggantungkan kehidupan pada keadaan di luar diri.
Sementara orang lain tak selalu ada atau bahkan sedang sibuk dengan masalahnya sendiri juga. 

Di rumah gak cuma pin yang saya gunakan sebagai media pengingat. Ada talenan (saya pasang di beberapa ruangan), white board kecil, tempelan kertas.. Qiqiqi segala yang bisa dibuat sendiri deh. 
Seisi rumah bisa baca, tanpa emak perlu banyak bawel.
Tapi gak banyak-banyak.. nanti kayak pameran quote deh.
"Kita yang menentukan seberapa besar kebaikan menetap dalam diri"
Setiap kata yang terekam berulang menjadi suatu sugesti.
Namun sebuah pengingat, tetaplah sebuah pengingat.
Godaan pastilah ada.
Hanya akan menjadi kebiasaan jika kita mau tetap langkah menerapkannya.









Sabtu, Februari 09, 2019

Semangkuk Kenangan di Masakan Ibu


Pernah kangen suatu masakan?

Saya pernah
Terutama Masakan Ibu

Sama seperti sebagian besar anak yang memiliki rasa kangen akan masakan Ibu.  Jika ditanya kesan pada masakan Ibu, jawabannya hanya satu kata ENAK πŸ‘πŸ‘
Walaupun kadang keasinan, kemanisan, atau malah tanpa rasa.
Memasaknya pun tak secepat chef di televisi yang acapkali "triiiing!" tahu-tahu masakan sudah matang dan siap disantap.
Dan hasil masakannya lebih sering polos tersaji karena memang hanya memindahkan dari wajan ke piring.
Tetap saja ENAK

Saya ingat sekali sewaktu Bapak masih ada, Ibu sering membuat cemilan.  Macam-macam yang dibuat seperti gorengan, bolu, singkong rebus, dan lain-lain. Cemilan ini menjadi teman ngeteh sore dan suguhan bagi teman-teman Bapak yang seringkali datang ke rumah selepas isya.
Demikian juga saat kami hendak bepergian, Ibu selalu menyempatkan diri membuat bekal.
Setelah Bapak tiada, kue-kue pun menjadi salah satu andalan Ibu untuk menambah penghasilan keluarga.
Dan kami anak-anaknya, adalah fans setia kue buatan Ibu.
Selalu ingin menjadi pencicip terbanyak dan terbesar!

Pernah suatu ketika Ibu mendapat pesanan arem-arem isi daging untuk arisan. Sebelum ashar sudah harus siap diantar.  Biasanya Ibu selalu melebihkan pesanan untuk kami santap sekeluarga. Selepas sarapan, ibu mulai mencuci beras dan mengaroni nasi. Saya duduk di sebelah Ibu dan membantu mengaduk aronan. Sementara Ibu melanjutkan pekerjaan lain, membuat isian. Setelah aronan matang dan tidak begitu panas, Ibu mulai mengambil secentong, memberi isian, dan membungkusnya sampai daging isian habis.  Ternyata ada aronan bersisa. "Sisanya dibagi dua atau dijadiin satu bungkus aja ya Da?" tanya Ibu. "Jadiin satu aja Bu, biar nanti begitu Mas (kakak saya yang kedua) ambil yang paling besar ketipuuuu.." jawab saya sambil nyengir jahil membayangkan kakak saya mengambil arem-arem tanpa isi.
Benar saja sepulang dari mengantar pesanan, Ibu mendapati arem-arem terbesar itu sudah tak ada.
"Kamu makan arem-arem yang besar ya?" tanya Ibu ke Kakak.
"Iya" jawab Kakak saya. "Kok Ibu bikin arem-arem gak pake isi sih.. biasanya kan ada"
Hahahahahhaha saya dan Ibu tergelak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
"Makanyaaaa jangan asal ambiiiil"😝

Selalu memasak dengan segenap cinta..

Saya pikir inilah rahasia utama yang membuat masakan Ibu selalu enak, menambahkan bumbu cinta! Ibu, selalu berusaha memasak versi terbaiknya untuk keluarga. Dan segala sesuatu yang dibuat dengan rasa akan sampai dengan rasa yang sama.  Persis! demikianlah masakan Ibu, sampai ke kami pun dengan rasa cinta. Sehingga meski hanya sebuah masakan sederhana tapi selalu ngangenin.  Percayalah, melebihi bumbu penyedap rasa apapun.
Rasa yang terus menetap dalam ingatan hingga belasan tahun Ibu tiada..

Menghidupkan kenangan...

Entah berapa kali saya menceritakan pintarnya Ibu memasak, betapa lezatnya masakan yang dibuat oleh Ibu saya, kepada anak-anak sampai beberapa kali juga anak-anak bilang "Kan waktu itu ibu udah cerita..." saking melekatnya di hati dan ingin saya bagikan rasanya(meski sekali lagi lezatnya pun subyektif ala saya).
Berapa kali juga saat memasak tiba-tiba teringat saat ibu memasak makanan yang sama dan seketika mata pun berair rindu..

Sejujurnya saya bukan perempuan yang bisa masak sedari gadis. Ibu hanya meminta saya fokus belajar. Tak menuntut membantu di dapur dan tak mengenalkan dunia memasak. Sampai awal menikah saya masih sulit membedakan lengkuas dan jahe, ketumbar dan merica, dan beberapa bumbu dapur lainnya. Bolak balik saya telpon Ibu (karena sepekan setelah menikah saya langsung mengontrak) untuk menanyakan cara memasak sayur asem, sayur sop, sayur lodeh.. masakan rumahan biasa tapi buat saya yang amat jarang ke dapur butuh usaha ekstra untuk memasaknya.

Kenangan akan Ibu mendorong saya pun ingin melakukan hal yang sama untuk keluarga..
Saya ingin bisa masak sebaik Ibu
dengan bumbu yang sama..

Alhamdulillah anak-anak saya lebih suka menghabiskan masakan yang saya masak dibanding masakan matang yang dibeli.
Sebungkus sayur sop yang saya beli pagi hari di tukang nasi uduk bisa utuh hingga malam.
"Aku gak suka, rasanya gak seger kayak buatan Ibu" komentar Gendhuk saat ditanya mengapa sayur sopnya tidak dimakan.
Aih bungah.. ada haru yang menjalar mendengar ia suka masakan ibunya.
Anak-anak juga rela menunggu masakan hingga matang.
"Masih mau difoto dulu gak nih Bu?" saking seringnya saya meminta tidak langsung dimakan karena ingin memfotonya lebih dahulu (duh..πŸ™ˆ)

Kenangan selalu mampu mengingatkan alasan untuk kembali ke dapur..

Ada masa-masa di mana saya jenuh ke dapur.
Terutama dengan rutinitas memasak yang seperti sedang ikut lomba masak alias terburu-buru.
Ditambah malas bertemu setumpuk cucian perabot dapur sesudahnya.
Namun kemudian muncul saja cara diri untuk mengembalikan gairah memasak.

Terimakasih Ibu, untuk semangkuk hangat kenangan masakan ..

"Setiap makanan memiliki kenangan..
Begitu spesial, bahkan tak sama untuk makanan yang sama"








Mengaksarakan Rasa


Berapa lama ya gak nulis di sini?
Ratusan jam? Lebiiih ..
Sebab menulisnya lebih banyak di whatsapp😝Hampir setiap hari jari ini berlarian dari satu chat ke chat lain.
Sampai butuh bantuan ekternal keyboard untuk menulis chat, tangan gak kuat euy!


Setelah 2 tahun kemarin, alhamdulillah sepertinya mulai tahun ini akan lebih leluasa untuk menulis.
Biar makin semangat menulis tampilan blog saya ubah lebih sederhana.
Dulu banget sih seneng yang latar belakangnya warna warni gituh
"Sebab hidup penuh warna" (tsaahhh..)
Sekarang mengikuti umur sajalah..qiqiqiiqi

Beberapa tulisan lama saya kembalikan dalam bentuk draft.
Dari seratus sekian tinggal puluhan sekian yang saya tetap saya publish.
Terutama yang pas bacanya lagi agak gimanaaa gituh.. hahahha malu sendiri.
Perlu direvisi pakai banget!
Tetapi gak dihapus, sebab tulisan lama itu menjadi jejak perjalanan menulis sekaligus bagian cerita hidup saya.
Sebagai bahan evaluasi juga.

Maka disinilah saya mulai kembali menulis..
Segenggam catatan kecil dengan harapan kebaikan diri dan kemanfaatan yang lebih besar.
Semoga blog ini kembali hidup dengan aksara penuh rasa.

"Semangat dan konsisten ya!" *tepuk pundak sendiri 😏😁




Senin, Januari 29, 2018

Jurnal Fasilitator Level 7 : Semua Anak Adalah Bintang

Bintang Kejora
Karangan A.T Mahmud

Kupandang langit.. penuh bintang bertaburan..
Berkerlap kerlip seumpama intan berlian..
Tampak sebuah lebih terang cahayanya
Itulah bintangku..bintang kejora yang indah selalu

Semua Anak adalah Bintang.  Seperti dalam lirik lagu Bintang Kejora, setiap anak terlahir dengan cahaya yang indah. Sebagaimana bintang yang ada di langit malam, cahaya ini bisa semakin bersinar terang atau sebaliknya meredup tertutup awan yang ada di sekelilingnya.  Tugas orangtua untuk mengenali dan mengasah bintang dalam diri anak. Dan inilah yang menjadi tantangan dalam game level 7 kali ini.

Jurnal Fasilitator Level 8

Alhamdulillah tiba juga di game ke-8 yang merupakan game terakhir pada cawu 2 Kelas Bunda Sayang Ibu Profesional.  Tema game kali ini tentang cerdas finansial.  Menjadi tantangan bagi para ibu profesional yang masih memiliki anak-anak usia balita untuk mengajak anak-anak ini mulai mengenal dan miliki kecerdasan finansial. Demikian juga bagi para ibu yang sudah memiliki anak-anak usia remaja namun belum pernah dikenalkan secara detail tentang kecerdasan finansial, selain hemat dan menabung. Di satu sisi, game ini membuka wawasan baru seputar cerdas finansial.

Institut Ibu Profesional
Kelas Bunda Sayang sesi #8

MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI

Apa itu Cerdas Finansial?

Menurut para ahli cerdas finansial adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan.

Apabila disesuaikan dengan konsep di Ibu Profesional bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar  bertanggungjawab terhadap bagian  rejeki yang kita  dapatkan di dalam kehidupan ini.

Apa pentingnya cerdas finansial ini bagi anak-anak?

Di Ibu Profesional, kita memahami satu prinsip dasar dalam hal rejeki yaitu,

Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari

Ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita perlu menstimulus kecerdasan finansialnya agar :

Kemuliaan Anak Meningkat

dengan cara :

a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut.

b. Anak bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan sendiri.

c. Anak terbiasa merencanakan (membuat budget) berdasarkan skala prioritas.

d. Anak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

e. Anak memiliki rasa percaya diri dengan pilihan "gaya hidup" sesuai dengan fitrahnya, tidak terpengaruh dengan gaya hidup orang lain.

f. Anak paham dan punya pilihan hidup untuk menjadi employee, self employee, bussiness owner atau investor.

Bagaimana Cara Menstimulus Cerdas Finansial pada Anak?"

1. Anak-anak perlu dipahamkan terlebih dahulu bahwa rejeki itu datang dari Sang Maha Pemberi Rejeki,  sangat luas dan banyak, uang/gaji orangtua itu hanya sebagian kecil dari rejeki.

Sehingga jangan batasi mimpi anak, dengan kadar rejeki orangtuanya saat ini.

Karena sejatinya Anak-anak adalah milik Dia Yang Maha Kaya, bukan milik kita

Sehingga kalau akan minta sesuatu yang diperlukan anak, mimpi sesuatu,  mintalah ke Dia Yang Maha Kaya, bukan ke manusia,  meski itu orangtuanya.

2. Ajak anak berdialog tentang arti KEBUTUHAN dan KEINGINAN

Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda

Keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda.

Bantu anak-anak membuat skala prioritas kebutuhan hidupnya berdasarkan dua hal tersebut di atas.

3. Setelah paham dengan prioritas kebutuhan hidupnya, maka latih anak untuk membuat "mini budget", sebagai bentuk latihan merencanakan berdasarkan skala prioriitas

Mini budget ini bisa dibuat 3 harian, 1 minggu atau 1 bulan bergantung pada kemampuan dan usia anak.

Dengan adanya mini budget ini anak akan berkomitmen untuk mematuhi apa yang sudah disepakati, kemudian bertanggung jawab menerima konsekuensi apapun atas kesepakatan yang sudah dibuatnya

4. Anak dilatih mengelola pendapatan berdasarkan ketentuan yang diyakini oleh keluarga kita.

Contoh : Apabila mini budget sudah disetujui oleh orangtua, dana sudah keluar,  anak-anak akan belajar memakai ketentuan yang sudah disepakati keluarga misal kita ambil contoh sbb:

Hak Allah : 2,5 - 10% pendapatan
Hak orang lain : max 30% pendapatan
Hak masa depan : min 20% pendapatan
Hak diri sendiri : 40-60% pendapatan

5. Lakukan apresiasi setiap anak menceritakan bagaimana dia menjalankan mini budget sesuai kesepakatan.

Latih lagi anak-anak untuk membuat mini budget berikutnya dengan lebih baik.

Prinsipnya adalah : Latih - percayai-jalani-supervisi-latih lagi.

Ingat sekali lagi prinsip di Ibu Profesional

for things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST

Apabila kita menginginkan perubahan maka mulailah dari diri kita terlebih dahulu.

Maka sejatinya materi ini adalah proses kita sebagai orangtua agar cerdas finansial dengan cara learning by teaching belajar mengajar bersama anak-anak. Jadi yang utama harus belajar tentang cerdas finansial ini adalah kita, orangtuanya, kemudian pandu kecerdasan finansial anak-anak kita sesuai tahapan umurnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

πŸ“šSumber bacaan

Ahmad Gozali, Cashflow for muslim, 2016

Septi Peni Wulandani, Mendidik Anak Cerdas Finansial, bunda sayang, 2015

Eko P Pratomo, Cerdas Finansial, artikel Kontan, 2015

❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦


Diskusi Materi

Ada 3 pertanyaan terkait materi ini

1.  Yani, izin bertanya ttg anak cerdas financial bagaimana ya stimulus untuk anak usia 2 tahun ?

2. Beta - Pamulang
  1. Anak saya berumur 2 tahun 10 bulan. Apakah bijak apabila anak seusia tersebut diberi tanggung jawab dalam pembelanjaan uang? Contoh tempo hari dia ingin membeli roti di tukang roti keliling, kemudian saya memberikan uang dan mengamati dari jauh bagaimana prosesnya.
  2.  Apa yang dimaksud dengan tidak membatasi mimpi anak dengan kemampuan finansial kita?
3.  Nilla
  1. melatih anak agar cerdas secara finansial itu dari usia berapa?
  2. Metode apa yg dapat digunakan untuk melatih anak agar cerdas secara finansial untuk anak usia 7th dan 2 th?

Pembahasan 

Tanggapan dari peserta

Tary : Bantu jawab yg no 2 mbak Beta. Sepaham saya, ini lebih ke membangung kepercayaan diri anak mbak, jauh melintasi keterbatasan apapun yg dimiliki ortunya, terutama soal materi. Misal anak saya, Bu aku mau sekolah ke Amerika, kalau sudah lulus aku mau jadi Sopir Bis Jakarta-Bandung. Spontan dalam hati, atuhlah rugi bandar ini Ibumu, udah sekolah ke amerika duit darimana? Eh pulang malah jd sopir bis AKAP. Cuma demi menyemangati dan mendengarkan apapun impiannya, saya iyakan dan saya support. Siapa tau beneran ke Amerika, dan pulang2 jd expert di bidang per-bis-an kan? Aammiiinn. Berapa banyak orang sukses yang berasal dari keluarga kurang mampu? Banyak sekali..saya yakin kesuksesan mereka bukan modal uang, tapi modal doa, keyakinan, dan kerja keras orangtua dan anak yang tumbuh jd pribadi yang optimis dan pantang menyerah

Tanggapan Fasilitator

Sebelum membahas lebih lanjut saya ajak peserta melihat kembali tabel tumbuh kembang anak, apa saja yang bisa dilakukan oleh anak usia 2 tahun? saya ajak juga mengamati anak sendiri saat berusia 2 tahun. Beberapa memberikan tanggapan :

➥ Menurut saya sudah sih mba, meskipun dia belum tau nilai uang misal 2000, 5000 tp paham kalau kita beli sesuatu di toko ada yg kita kasih ke toko itu (berupa uang atau kartu)

➥Sudaaah...
Anak saya 2,5 tahun sudah tau kalo mau beli sa*i roti, minta uang emaknya dulu...
Jadi sudah paham bahwa pembelian, membutuhkan alat pembayaran 


➥Seperti nya sudah, salah satu ciri kognitif anak 2 tahun berdasar artikel adalah mampu mengelompokan, mengurut, dan menghitung



Fasilitator :
iyaa baru sampai pada tahap uang sebagai alat bayar , bisa mengelompokkan..mana uang logam dan kertas.. mana uang biru sama merah.. tapi belum bisa mengenal penggunaan nominal uang tertentu dan secara umum belum mampu berhitung penambahan dan pengurangan sederhana.
kita bandingkan dengan anak usia 3 tahun.. sudah bisa kita ajak menjumlah dan mengurang 1-5?


Dari diskusi pertanyaan ini akhirnya mulai dipahami mengapa kecerdasan finansial banyak disarankan untuk dikenalkan mulai saat anak berusia 3 tahun.



Sementara untuk anak berusia 2 tahun,  kita bisa ajak anak mengelompokkan uang, mengenal angka yang tertera, dst.  Tentang pertanyaan mbak Beta, memberikan tanggung jawab.. mari kita lihat dulu.. si 2 tahun kita minta membeli tujuan utamanya apa? mengenal fungsi uangkah? atau melatih keberanian? atau jika ingin melatih tanggung jawab..maka tanggung jawab seperti apa yang kita inginkan bisa ia lakukan? dengan tetap melihat pada kemampuan logis tumbuh kembang anak usia 2 tahun

Untuk pertanyaan mbak Beta yang kedua, tentang tidak membatasi mimpi, saya menambahkan penjelasan mbak Tary. Mengapa tidak dibatasi, karena ini juga berkaitan dengan konsep rejeki. Sekarang keadaan kita secara finansial kurang misalnya.. tapi wallahu'alam bahkan detik berikut pun bisa berubah jika Allah kehendaki demikian. Inilah yang justru membuat kita berani bermimpi, tidak membatasi mimpi, karena rejeki itu ditetapkan oleh Allah, bukan kita.
Berikutnya yang perlu kita lakukan adalah ikhtiar, termasuk di dalamnya membuat perencanaan, agar mimpi tsb terwujud

Pertanyaan dari mbak Nilla yang pertama dan kedua ada yang sudah otomatis terjawab. Tinggal stimulasi untuk anak usia 7 tahun.  Hal yang bisa dilakukan adalah mulai bisa mengajarkannya pos-pos pengeluaran,  menabung, teliti dan membandingkan harga sebelum membeli, berhemat, dan berbagi. Lebih baik lagi kalau di akhir pekan atau akhir bulan kita ajak ngobrol santai, membahas/mengevaluasi keuangannya
Membuat template sederhana juga bisa dilakukan untuk melatih pencatatan keuangan pribadi

Di pertengahan pengerjaan game, ketua kelas mengusulkan untuk mengundang peserta kelas bunsay dari Cilegon untuk berbagi cerita.  Namanya Eria Novitasari.  Postingan pengerjaan tugas bunsay cerdas finansialnya di facebook sempat menjadi viral. Ini yang membuat kami semua ingin belajar dari beliau. Berikut cuplikan sharingnya :

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Halo sahabat Tangsel, bagaimana kabarnya?

Perkenalkan, nama saya Eria Novitasari. Ada yang manggil saya Eri, Eria, Neng, atau madam. Semuanya ada sejarahnya. 😁

Saya lahir dan besar di kaki gunung Pulosari Pandeglang, usia saya saat ini 30th.

 Saya anak bahagia dari seorang guru SD, Dan saya istri bahagia dari seorang accounting juga saya ibu bahagia dari ketiga buah hati saya yang sering saya sebut SaKaZhie.
Dan mohon do'anya, sekarang sedang menanti kelahiran adiknya sakazhie.

Saya mengenal IIP tahun 2016, dan ikut matrikulasi batch #3, kemudian lanjut mengabdi dan melayani dengan menjadi PJ rumbel kota cilegon dan PJ parenting, selain itu, saya ditantang juga  untuk belajar menjadi fasil di matrikulasi batch#5 sekarang.

Kegiatan harian saya hanya membersami anak, ngefasil, dan  sesekali  mengurusi usaha produk pangan lokal.

Saya diundang kesini karena status facebook yang membuat saya dibully ribuan orang ya?
Alhamdulillah jadi banyak saudara dari status tersebut.
Selalu ada hikmah dibalik kejadian.


Saya melihatnya karena mereka tidak memahami esensi dari postingan saya.
Jadi, saya non aktifkan itu notif postingan yang itu ketika komen mencapai 100.
Jika tetap On, akan sangat mengganggu. 


Saya cerita dari sini ya.

Ketika menerima materi tentang cerdas finansial, saya langsung menerima dengan semangat. Ini materi Gue Banget.

Saya fahami sedikit demi sedikit.

Saya bertanya pada diri sendiri.

Ya, selama ini saya sudah praktekan ini semua.

Sehingga di tantangan day1 saya tidak langsung menulis tentang pengenalan tabungan pada anak. Tapi saya menulis tentang uang adalah sebagian kecil dari rejeki.

Dan Allah maha kaya, jika kita membutuhkan sesuatu, bukan suami atau pasanganlah yang menjadi tempat kita meminta, tetapi Allah yang maha kaya lah tempat kita meminta.


Selanjutnya di day 2 ,
Karena saya sadar, pemasukan dari suami hanya cukup untuk kebutuhan prioritas. Maka saya buat ilustrasi seperti itu.


Day 3 saya buat bagaimana kita menggantungkan segalanya pada Allah, termasuk mencukupkan segala kebutuhan.

Day 4 saya bercerita tentang bagaimana minhaitsu la yahtasib itu saya dapatkan.

Baru kemudian saya mengenalkan nilai uang ke anak,
Mengenalkan mana kebutuhan, mana keinginan.
Dan bagaimana supaya kita bisa memenuhi kebutuhan kita.
Selanjutnya saya bercerita sampai anak bisa belanja ke warung tanpa upah.
Belanja ke supermarket tanpa melebihi budget yang direncanakan.
Dan berusaha menahan anak anak jajan, dengan membuat makanan cemilan bersama anak anak di rumah.
Itu yang saya post dari day 1 - 10


Saya baru membuat presentasi untuk Allah dan orang tua saja.

Lainnya sesuai kebutuhan.
Dan setiap bulan itu selalu berbeda.
Karena kadang kita beli kecap untuk satu bulan, ternyata gak habis. Otomatis pengeluaran untuk bi kecap itu bisa masuk ke pos lain.

Intinya, kita buat catatan untuk kontrol saja.
Dan komitmen.


Taukah mba,, karakter saya adalah:
Tidak Meminta
Jadi, meski uang habis di tanggal belasan, saya gak pernah terbuka ke suami. Saya gak pernah minta tambahan ke suami.
Saya berusaha menerima apa yang sudah suami kasih diawal.
Tapi saya yakin pada Allah.
Allah akan datangkan lewat jalan lain.


Tentu saja yang juga menarik perhatian dari kami adalah bagaimana cara mbak Eria menyikapi perundungan di sosmed.
Dengan santai, mbak Eria menjawab :

Di day 1 saya tag suami.
Day 2 saya gak tag suami. (Entah mengapa)

Saat komen saya baru ratusan, saya cerita.
Suami menanggapinya sebagai tantangan, mungkin ummi akan naik daun..
Sambil becanda. πŸ˜‚


Saya adem ayem mbak,, alhamdulillah Allah melindungi.
Saya gak baca komen komen itu. πŸ™ˆ
Saya matikan notifnya.
Dan saya beberapa kali dijapri teman teman.
Mereka menanyakan keadaan saya.


Saya gak minta karena suami posisinya sebagai accounting yang diamanahi uang milyaran mbak.
Dari awal menikah saya berprinsip bahwa saya tidak akan bebankan materi pada suami.
Saya tidak mau ada cerita => istri dibalik hancurnya suami.
Dari situ saya selalu berusaha menyelesaikan masalah keuangan sendiri.

Ya, saya jualan dari rumah mbak. 


Alhamdulillah banyak sekali hikmah yang kami semua dapatkan dari cerita mbak Eria. Sungguh menginspirasi! 
Suami memang bukan mesin ATM.
Keyakinan kita akan rejeki yang Allah berika,n menjadikan kita lebih tenang dan fokus dalam mengatur keuangan keluarga dan mendidik anak-anak agar memiliki kecerdasan finansial juga. 







Review Materi Sesi 8

CERDAS FINANSIAL IBU  BERPENGARUH PADA ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan di kelas bunda sayang yang ke #8 kali ini. Kita sudah melewati 2/3 perjalanan kita.

Sejatinya di materi kali ini kita ditantang untuk menjadi cerdas finansial dengan cara memandu anak-anak  ( Learning by Teaching).

 Maka langkah yang kita ambil adalah memahamkan diri kita terlebih dahulu  bahwa uang adalah bagian kecil dari rezeki.

Selanjutnya belajar mengelola uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan.

Kita sedang tumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggung jawab terhadap bagian rezeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

Maka kuncinya adalah mulai dari orangtuanya.

Salah satu peran kita sebagai Ibu bukanlah untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan kepada anak dan keluarga kita.

Peran tersebut perlu ilmu.

Hargai dengan baik segala ikhtiar pekerjaan menjemput rejeki,  baik yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal ini membuat penghasilan yang akan diterima akan lebih berharga

Anak-anak harus paham, tidak ada pekerjaan yang hina di muka bumi ini selama untuk menjemput rejeki yang halal.

Habiskan uang di jalan yang benar

Kebiasaan lama kita adalah menyisakan uang agar bisa menabung, investasi dan lain-lain. Namanya menyisakan pasti kecil.

Maka ubah dengan cara merencanakan dengan baik, dan habiskan uang di jalan yang benar.

Contoh :

Cashflow orang yang bermental miskin

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Shopping 57,5
Cicilan hutang 30
Sosial 2,5
--------------------------------
Sisa 10 baru ditabung

Cashflow orang yang bermental kaya

Pendapatan 100

Pengeluaran :
Zakat, infaq, sedekah 2,5
Cicilan hutang 30
Investasi 10
Kebutuhan pribadi  57,5
---------------------------------------
Sisa 0

Dua cashflow di atas angkanya sama tapi beda.

Di cashflow orang yang bermental miskin, pengeluaran pertama adalah untuk memenuhi hak diri sendiri dulu, baru hak orang lain ( cicilan hutang dsb), hak untuk Allah, apabila ingat, dan sisanya baru ditabung atau investasi.

Sedangkan cashflow orang yang bermental kaya, sudah siap menghabiskan pendapatannya di jalan yang benar, dengan prioritas sbb :
☘Hak Allah terlebih dahulu ditunaikan.
☘Menyelesaikan hak orang lain (mis :cicilan hutang)
☘Menganggarkan untuk investasi
☘Baru memenuhi kebutuhan kita sendiri

Habis tak bersisa.

Pertanyaannya sekarang,

Ingin memiliki anak-anak yang bermental kaya atau bermental miskin?

Mental ini akan menentukan gaya hidup seseorang. Orang yang bermental kaya selalu ingin berbagi, meninggikan kemuliaan dengan tangannya di atas meski pendapatan yang diterima kecil.

Sedangkan orang yang bermental miskin, selalu berharap menerima sesuatu, lebih merelakan tangan di bawah meski pendapatannya besar.

Orang yang bermental miskin membeli sesuatu sesuai "selera" dan membeli di saat "bisa"

Orang yang bermental kaya membeli sesuatu sesuai "fungsi"  dan membeli di saat "perlu".

Sebenarnya,

Biaya hidup itu murah, yang mahal adalah gaya hidup

Selamat berproses, karena cerdas finansial, tidak hanya berkaitan dengan cashflow dan rupiah yang kita catat, tapi lebih dari itu,  erat kaitannya dengan mendidik mental anak kita dan menanamkan pola gaya hidup yang benar.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang Nasional/


πŸ“šSumber Bacaan :
Ahmad Ghozali, Habiskan Saja Gajimu, Jakarta, 2010

Institut Ibu Profesional, Bunda Produktif, 2015

❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧❧

Kami memulai diskusi review tantangan game dengan membahas kembali apa yang bisa diambil pelajarannya dari yang sudah disampaikan tamu kelas, Mbak Eria, di pekan sebelumnya.
Beberapa menjawab tentang perlunya pemahaman yang baik dari seorang ibu tentang cerdas finansial sebelum membahasnya dengan anak dan adanya perencanaan yang baik.

Saya sendiri menekankan pada pentingnya pemahaman konsep setiap game terlebih dahulu, kemudian memikirkan apa yang bisa diaplikasikan pada keluarga, sebelum akhirnya membuat rencana kegiatan.
Demikian pula halnya dengan game level #8 ini.
Apa yang disampaikan mbak Erie menjadi pengingat pentingnya sebuah pemahaman konsep.

Sebagai penutup review, saya meminta peserta menjawab pertanyaan berikut :

"Seorang ibu berperan sebagai manajer keuangan dalam keluarga. Sebagai evaluasi diri, mental apakah yang harus dimiliki dalam menjalankan perannya tersebut?"

kaitkan dengan keunikan keluarga masing-masing dan ini sekaligus merupakan evaluasi pribadi kita setelah mengerjakan game level #8

Tanggapan :

 1. Nika
- Mental orang kaya (spt yg ada di review) spy hak orang lain dulu terpenuhi, menabung, baru kebutuhan keluarga
- Mental kacamata kuda: tidak perlu lihat kanan kiri, fokus pada keluarga sendiri saja bila tentang pengeluaran/pemasukan. Jangan bandingkan dg keluarga lain
- Mental baja: mau orang lain berkomentar apa pun ttg cara kita me-manage keuangan keluarga, selow aja sistah. Kita yg lebih tau apa yang dibutuhkan keluarga sendiri

2. Fasta
Mental bersyukur atas apapun materi yang kita punya dan terima. Memanfaatkannya untuk kebaikan dan menyusun skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga ❤

3. Ika
Mental Tangguh. Untuk menjalankan perencanaan. Tangguh dari tanggapan di luar keluarga inti. Tangguh dalam godaan tentunya😁

4. Dwi Yunita
- Mental pembelajar : selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, tidak cepat patah semangat.

5. Atti
Mental pembelajar. Selalu pahami ilmu dan konsep sebelum melakukan sesuatu. Sehingga evaluasi rencana/konsep yang tidak sesuai bukan suatu beban tapi salah satu cara untuk lebih baik. Termasuk evaluasi terhadap konsistensi, komprod untuk menjalankan cerdas finansial, dll

6. Yani
Mental Sabar, sabar itu sanggup menahan dan mengendalikan diri dr emosi jg keinginan, bertahan dlm situasi sulit tanpa mengaluh dan fokus pd solusi, kokoh dlm tekad dlm perbaikan diri dan terus semangat belajar. 😊

7. Marisa
Disiplin dan konsisten. Serta melakukan perbaikan terus menerus.

8. Tary
Mental Open Minded
Seorang Ibu dalam kondisi apapun harus mampu melihat dari berbagai persepsi, mau mengakui kekurangannya, dan berusaha memperbaiki yg sudah ada.

9. Tresna
 Rasa syukur, sehingga mampu mencukupkan dari rejeki yang di dapat, serta disiplin dalam melaksanakan perencanaan yang sudah dibuat

10. yulita
Positive thinking pada Allah dan optimis.
Agar kita tidak perlu ragu dgn jaminan rezeki dari Allah Sang Pemberi Rezeki.
Sehingga dalam usaha mencari rezeki, tak pernah lupa untuk memohon ridhonya..

11. Akmalia
Mental Syukur dan Sabar.
Bersyukur dengan memanfaatkan segala Karunia yang Allah berikan dengan sebaik baiknya dan Bersabar menahan keinginan dari hal yang tidak dibutuhkan.

12. Lely
Disiplin, sabar, syukur dan optimis.
Seorang ibu perlu disiplin dalam 'mengeksekusi' keuangan sesuai dg yg direncanakan, dapat memilah dan memilih antara  kebutuhan dan keinginan. Selain itu perlu juga adanya kesabaran dalam "melihat rumput tetangga yang (kelihatannya) lebih hijau" atau bisikan-bisikan nyinyir, tenang pasti usaha dan ikhtiar tidak mengkhianati hasil. Tak lupa, rasa syukur dan optimis pada rezeki yang telah Allah berikan sehingga merasa cukup dalam segala hal.

13. Lita
Ibu yang "bermental kaya" akan menyusun keuangan dengan cermat, mendahulukan keperluan yang wajib.
Berusaha disiplin dan cermat agar jelas pengeluaran Dan pemasukannya

14. Faradilla
πŸ”† Mental ikhlas.
Niatnya mudah, pelaksanaannya itu yg butuh persistensi.
Dgn mental ikhlas, seorang ibu akan menjalani peran sbg manajer keuangan dgn riang gembira.
Jika sudah riang melakukannya, insya allah penerapan ilmunya dalam kehidupan sehari2 akan lebih maksimal.
πŸ”† Mental sederhana
Memilah mana yg kebutuhan yg penting, mana yg genting, mana yg bisa diundur, & mana yg bukan kebutuhan.
Kmudian bs terciptalah keuangan keluarga yg rapih dan sesuai visi misi.
Insya allah dgn punya mental sederhana jd bs meminimalisir rasa iri & dengki, rasa ingin punya juga (yg kaya orang lain)atau bahkan ingin punya lebih dr orang lain. Sehingga kita bs terhindar dr kompetisi salah kaprah peribuibuan.
Merealisaaikan praktek "meningkatnya pendapatan tidak berbanding lurus dgn "kebutuhan" (gaya hidup)".
Insya allah, bs menjadi pribadi yg "Disaat sedikit bersyukur, disaat banyak lebih bersyukur".
Amin.

15. Nareswari Putri
Mental "nrimo".
Bisa merasa cukup disaat banyak godaan datang itu penting. Kalo kita merasa cukup, in Sha Allah Mental "Membumi"
Manusia selalu diuji apakah bisa naik " level " atau stuck. Semacam game RPG, makin ditempa makin naik level.  Begitu pula dengan level kesabaran/keimanan/keikhlasan dll, Kalau kita membumi, di level apapun kaki kita tetap menyentuh bumi.
Aplikasi luas : biar ga clamitan kalo ada uang dikit beli barang.

16. Fara
* Mental disiplin, konsisten
Perencanaan keuangan, sudah sering dibahas sama suami. Pelaksanaan nya yg butuh disiplin dan konsisten
*Mental bersyukur dan menerima
Bersyukur dengan kondisi diri, keluarga, keuangan keluarga.
Menerima, bahwa rezeki dari Allah, sekian, tidak iri dengan rezeki orang lain.
Mengatur keuangan sesuai dengan rezeki kita, tidak nambah dari pos hutang, kredit, dkk.

17. Yesi
Jawaban :
Sebagai manajer keluarga, mental utama yang harus dimiliki adalah
Mental Keteladanan. Bahwa sejatinya Mental anak adalah Cerminan dari Mental Orangtuanya. Bagi anak, orangtua adalah sosok paling sempurna, maka untuk menyajikan kesempurnaan di mata anak, orangtua dituntut untuk menjadi contoh terbaik bagi anaknya.

18. FINA
- Syukur atas nikmat yg diberikan baik materi maupun non materi. Diawali dgn pembiasaan mengucap alhamdulillah di setiap kesempatan sehingga aura kesyukuran terasa di hati, lisan dan perbuatan.
 - Berbagi dengan sekitar dan membantu sesama yang membutuhkan sebagai salah satu implementasi syukur itu sendiri.

19. Erna
Bersyukur dan disiplin..bersyukur atas setiap rezeki yang diterima sehingga selalu merasa cukup dengan mengelola dan memanfaatkannya dengan baik, serta disiplin melaksanakan perencanaan yang telah dibuat.

20. ismi
Mental syukur dan sabar
Bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah akan membuat kita meresa cukup dan bahagia
Serta sabar atas setiap keadaan insya Allah dg kesabaran Allah akan tambah nikmatnya bagi orang2 yg sabar

21.  Tutik
Mental bersyukur,  bahwa rezeki yang Allah berikan kepada keluarga kita,  pasti sesuai dengan kadar kebutuhan hidup keluarga,  dan berusaha tidak membandingkan dengan keluarga lainnya,  karena semua sudah ada takaran nya...
Dengan mental bersyukur pula,  kita menyadari bahwa banyak  orang yang mungkin tidak seberuntung kita,  sehingga kita berprinsip tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah.  Dengan keyakinan,  semakin banyak kita memberi,  insyaAllah Allah akan mengganti nya dengan yang lebih baik...

22. Lafra
Mental Cermat. Cermat dalam perencanaan keuangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Cermat dalam memilah kebutuhan dan keinginan.

23. Tya Navratilova
Mental Bijak ▶ Bijak dalam mengelola keuangan rumah tangga, keluarkan kebutuhan sesuai priotitasnya. Tutupmata dengan kehidupan orang lain yang lebih dari kita, bersyukur ketika melihat orang lain yang serba kekurangan. Dan tidak lupa untuk berbagi, karena tabungan yang paling berlipat ganda adalah berbagi. πŸ˜‰

24. Wulan Agustina
Mendahulukan prioritas, ibu yang bijak akan selalu berusaha mengutamakan hal yang terpenting terlebih dahulu baru printilan-printilan lain yang sesuai dengan nomor urut prioritas. Selain itu, memberi keteladanan pada anak bahwa rezeki yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita.

25.  Irma
Saya harus punya mental ikhlas, sabar, sederhana dan penyemangat.
Disaat suami lagi dirumah kaya sekarang saya harus ikhlas menerima kenyataan.
 sabar menanti datangnya rejeki dari manapun dan kapanpun.
sederhana dalam gaya hidup, ga perlu iri liat rumput tetangga yang lebih hijau.
penyemangat suami apapun usaha yg dilakukannya. Dengan begitu saya akan lebih bersyukur atas nikmat yg di beri, lebih berhemat lagi, lebih produktif lagi dan harus tau yang harus di prioritaskan.

26. yopi tessa
Saya harus mempunyai mental cermat. Harus cermat, teliti mengatur keuangan. Harus bisa, selalu menyisihkan uang yang masuk, mempos-poskan anggaran.
Saya juga harus mempunyai mental bersyukur. Bersyukur atas rezeki yang didapat, berbagi nikmat yang Allah berikan. Bahwa roda itu berputar, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti...

27. Syarah Syafira
Sebagai Manager Keuangan Keluarga seorang ibu harus memiliki
- mental kaya
Mendahulukan hak Allah, hak orang lain sebelum untuk diri sendiri
- mental disiplin
Disiplin terhadap perencanaan keuangan yg sdh dibuat
- mental syukur
Mensyukuri apapun dan berapapun yang diperoleh.

28. wenti indrianita
Sebagai manajer keuangan, maka seorang ibu harus memiliki perencanaan. Tahu kebutuhan yg jadi prioritas. Cermat dalam pengaturan dn mampu mengingatkan dirinya sendiri maupun semua anggota keluarga terkait konsep rizki, keinginan untuk tidak berlebihan dan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.

29. dwi r.r a.
Sebagai manajer keuangan, maka seorang ibu harus bermental kaya, selalu merasa cukup dan bersyukur, tau prioritas dan disiplin dengan rencana yg dibuat serta jangan pernah lelah untuk selalu mengingatkan seluruh anggota keluarga ttg bagaimana mensyukuri rezeki Allah dan selalu berada pada koridor rencana anggaran yg telah disepakati.

30. ami
Seorang ibu berperan sebagai manajer keuangan dalam keluarga. Mental sabar&syukur, selalu ikhlas, mengetahui prioritas, dan tujuan dari keluarga ini.

Semoga setiap sikap mental yang ditulis dengan penuh kesadaran ini semakin melekat pada diri peserta kelas Bunda Sayang Tangerang Selatan, ditularkan dan dimiliki juga oleh keluarga kecil tercinta.. Aamiin

Sumber bacaan

Materi Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional
Diskusi Kelas Bunda Sayang Batch 2Tangerang Selatan
http://tokobaca.com/id/baca-artikel/51_Tahap-Perkembangan-Anak-Usia-2-Tahun.html
http://www.bethkobliner.com/moneyasyougrow/

Minggu, Desember 10, 2017

Handphone Mengalihkan Dunia


Ibu : "Dek, ayo makan"
Ragil : "Iya nanti" sambil terus main game di handphone
Lain waktu..
Ibu : "Dek, bantuin Ibu dong.."
Ragil : "oteweee" tapi tetap tak bergerak, matanya terus menatap layar handphone yang menampilkan seorang youtuber sedang membahas trik game
Ibu : "Deeeekkk...!" suara Ibu mulai meninggi 😀
Ragil :"iyaaaa..iyaaaaa.. "

Harus mulai lebih perhatian nih .. handphone mengalihkan dunia anak-anak.
Sampai makan saja harus berkali-kali diingatkan.
Dulu mereka tidak terlalu lekat.
Saya perhatikan justru saat mulai bersekolah di luar rumah malah menjadi akrab dengan handphone.
Apalagi tugas sekolah, komunikasi dengan teman dan guru, pengumuman, banyak dilakukan via handphone.
Eh jadi nyalahin tugas sekolah yah πŸ™ˆ
Yang pasti harus ada yang diperbaiki lagi.

Ibu : "Adek kalau nonton youtube atau main game menikmati banget"
Ragil :"Iyalah.."
Ibu : "Handphone itu utamanya buat main game atau komunikasi ya?"
Ragil : "Dua-duanya" (sambil nyengir)
Ibu : "Oh gitu..  setahu ibu manfaat utamanya buat komunikasi. Sudah tambah besar, pilih kegiatan yang bermanfaat ya Dek"
Ragil : "Game juga bermanfaat. Bikin aku seneng sama nyenengin yang bikin game.. kan gamenya dimainin"
Ibu : "Lebih asik lagi kalo manfaatnya gak buat satu atau dua orang. tapi banyak orang"
Ragil : "Iya"
Ibu : "Kita pilih kegiatan yang bermanfaat ya"

Pembicaraan tentang memilih kegiatan berhenti. Begitu juga kegiatan bersama handphone. Tetapi keesokan harinya kembali seperti semula.
Sepulang sekolah sibuk dengan handphone.
Sampai kaos kaki pun tak dilepas.

Berarti belum mengena obrolannya.
Atau mungkin sedang berproses?

Sampai suatu malam. di wag United 1 IIP Depok ada seorang ibu yang berbagi tentang penggunaan gadget di rumahnya. Alhamdulillah sekarang anak-anaknya sudah lepas dari ketergantungan dengan gadget. Katanya ini berawal saat ia mendengar cerita anak teman sekantornya yang baru berusia 5 tahun mengalami buta sementara akibat terlalu lama terpapar gadget. Saya langsung teruskan cerita ini ke anak-anak. "Emang bener Bu? mana coba aku baca tulisan (chatt)nya"
"Baca aja"
"Kalian juga harus hati2. Keseringan melihat hape memang bisa bikin bola mata kering. Makanya ibu ingetin terus. Gak pengen kalian begitu.. gak bisa lihat gimana coba.. gak bisa sekolah, ketinggalan pelajaran.  Sekarang ibu batasi aja ya pakai hapenya.. kalian juga lagi UAS kan.."
"Iya deh.." jawab si Ragil.

Alhamdulillah..
Sekarang anak-anak lebih mudah bekerjasama dan mematuhi jadwal penggunaan handphone.
Kadang masih ada sedikit protes "Ibuuu kayak di sekolah aja sama bu Guru"
Dan saya menjawab kalem "Kan buat kebaikan kalian juga.." 😊

Semakin bijak menggunakan handphone ya?





 



Kamis, Desember 07, 2017

Senyumlah Nak !


Di pertemuan terakhir dengan si mbarep saat liburan, wajahnya masih terlihat kaku menahan pikiran.  Bicaranya masih pelan dan tanpa senyum. Saya tahu ia sedang berusaha keras beradaptasi dengan lingkungan asrama. Hal yang mungkin mudah untuk mahasantri lain.  Bertemu teman baru yang berbeda tipe, ritme asrama, dan perkuliahan adalah tantangan besar baginya setelah sekian lama 24 jam bersama kami.

"Senyumlah Nak! " tulis saya di instan messenger.

Si Mbarep hanya  membalas dengan ikon jempol.

"Senyum itu meringankan beban hati. Asal jangan senyum-senyum sendiri"canda saya.

"Iya" balasnya singkat.

"Eh ibu lagi buka bukunya Ustadz Syafii Antonio nii yang "Muhammad The Greatest Inspirator & Motivator".  Ada juga tentang senyum. Mau Ibu tulisin di sini?"

"Boleh" balasnya singkat lagi. 
"Tersenyumlah ketika bertemu dengan saudara kalian, dan itu termasuk ibadah" (HR At Tirmidzi)
Jika senyum tulus itu bernilai ibadah maka pasti ada sesuatu dalam senyuman yang membuatnya begitu utama.
Apalagi Rasulullah SAW sendiri selalu menghiasi wajahnya dengan dengan senang tersenyum kepada siapa saja.

Jarir bin Abdullah Al Bajli berkata "Tidaklah Rasulullah SAW melarangku (untuk masuk ke rumahnya setelah aku minta izin) sejak aku masuk Islam, dan tidaklah beliau melihatku, kecuali beliau selalu menampakkan senyum di depan wajahku" 

 Rasulullah SAW senang bersikap demikian karena keutamaan-keutamaan yang terkandung di balik senyuman. Diantara keutamaan di balik senyuman yang tulus adalah tumbuhnya perasaan senang di hati yang menerimanya.  Bisa jadi, rasa senang tersebut lebih besar ketimbang menerima sesuatu yang bersifat materi. 

Senyum itu bisa menjadi stimuli antar pribadi. 
Motivator Jonatan Saturo mengatakan, 
"Kebanyakan masalah tidak bisa diselesaikan karena wajah yang tidak tersenyum." 
Orang yang menghiasi wajahnya dengan senyuman juga akan menjadikan dirinya tampil lebih menarik, serta menimbulkan persepsi kebaikan seperti mengundang persahabatan, rasa hormat, dan pengendalian diri.

  
Lagi-lagi si Mbarep memberikan ikon jempol.


Senyumlah Nak!
Bukan untuk menyembunyikan..
Apalagi bertopeng
tetapi untuk kebaikan hati kita jua..






Rabu, Desember 06, 2017

Andai Buku Pelajaran Seperti Buku Cerita

Brbrbbrrbrbrrrrr... si Ragil memainkan bibir sambil merebahkan badannya di lantai.  Tangannya masih memegang buku.
"Ada apa Dek?" tanya saya
"Kenapa siii bikin buku pelajaran kayak begini.. kan bacanya aku boseeen.. coba bikinnya kayak buku cerita.. ?"
Iya ya..
Membuka lembaran demi lembaran buku pelajaran anak-anak, saya bisa mengerti, andai buku pelajaran seperti buku cerita..

Hot Button

Ujian Akhir Sekolah tiba! Pasti ga ada yang teriak "horeee" 😁
Dari masa ke masa ujian selalu mampu membuat murid membuka buku pelajaran lebih sering dari biasanya. Tak terkecuali Gendhuk dan Ragil. Alhamdulillah beberapa hari sebelumnya mereka sudah meringkas atau membuat mind map sendiri. Kebiasaan yang mereka lakukan sedari homeschooling dulu.

"Bahannya banyak bangettt.. males" kata si Ragil sambil membuka buku paket.
"Iyaa niihh .. 8 bab.. " timpal Gendhuk
"Kok males?" tanya saya.
"Iyaaa pelajarannya gak sukaa" jawab si Ragil.
"Bukunya gak menarik" πŸ˜‘
"Banyak yang musti dihapal.."

Si Ragil memang tidak menyukai pelajaran menghapal seperti IPS, PKn, dan lain-lain. Ia lebih suka pelajaran matematika. Setiap tiba saat harus menghapal, belajarnya menjadi ogah-ogahan. Entah sambil bernyanyi atau membaca keras-keras dengan nada semaunya atau sebentar belajar sebentar diam-diam menonton youtube (jadi emak harus siaga kalau acara menghapal yang heboh tetiba menjadi sunyi).  

Ibu : "Ayo dong semangat belajarnya"
Ragil : "Kan gak suka ibuuuu"
Gendhuk : "Iya Bu, kan gak semua pelajaran suka. Emang ibu suka semua pelajaran?"
Ibu : "Ngng.. ya gak juga siii"
Gendhuk : "Nah kan sama.."
Ibu : "Iya tapi semua pelajaran, suka gak suka, ya tetap Ibu pelajarin sungguh-sungguh"
Ragil : "Kenapa? gak suka kok sungguh-sungguh?"
Ibu : "Gak semua hal kan kita suka Dek. Buat mencapai tujuan kadang ada hal yang kita gak suka tetapi harus dikerjakan. Kayak pelajaran sekolah yang ngapalin gini. Gak bisa milih di sekolah mau belajar apa. Semua harus dipelajarin, semua nanti nilainya dicantumin di rapor.  Ibu pengen rapor Ibu bagus. Kalau cuma ada nilai yang pelajaran Ibu suka aja, rata-rata rapornya jadi jelek"
Gendhuk : "Cuma pengen nilai rapor bagus doang?"
Ragil : "Aku mah biasa aja..kata Ibu kan yang penting belajarrr"
Ibu : πŸ™ˆ
Ibu : "Ya karena Ibu juga punya latar belakang.. punya alasan.. ada hot buttonnya.  Udah pernah tau belum tentang Hot Button?"
Gendhuk : "Apa alasan Ibu? Belum.."
Ibu :"Ibu kan yatim. Ibu lihat ibunya ibu kerja keras biar ibu bisa sekolah. Ibu pengen bikin Ibunya ibu bangga, usahanya gak sia-sia. Nah ini namanya hot button..yang bikin kita jadi semangat terus, pengen usaha terbaik. Ibu dulu gak tau ini disebut Hot Button. Ibu taunya pas di MLM.  Masih ingat tante "M" kan?
Gendhuk :"Iya"
Ibu : "Tante itu usahanya sungguh-sungguh banget pengen berhasil, pengen bahagiain mama-papanya. Dulu pas papanya masih hidup, pernah suatu ketika sakitnya kambuh dan harus dibawa ke rumah sakit. Ketok-ketok rumah tetangga deket buat bantu anterin tapi gak ada yang bukain"
Gendhuk : "Kok ada tetangga begitu?"
Ibu : "Ya adalah. Abis itu Tante bertekad harus punya uang banyak biar kalau Papa atau Mamanya sakit gak perlu ketok-ketok pintu tetangga lagi. Ini hot buttonnya Tante "M" sampai sekarang. Nah supaya terus semangat kita juga harus temukan hot button kita apa. Utamanya pasti karena Allah akan senang juga kalau kita berusaha sungguh-sungguh"

Gendhuk diam. Mungkin sedang berusaha mencerna dan mencari hot button miliknya sendiri.
Ragil juga.

Hening..
Kembali melanjutkan belajar



 

Senin, Desember 04, 2017

Berani Mencoba

Beberapa pekan ini si Mbarep sedang menimbang tawaran menjadi bendahara kelompok. Bolak balik ia bertanya via whatsaspp apakah sebaiknya diterima atau tidak.
Saya sendiri selalu membiasakan anak-anak untuk belajar mengambil keputusan. Setiap bentuk keputusan pasti memiliki konsekuensi. Dengan menerima konsekuensi, ia akan belajar juga bertanggung jawab.  Jika saya memberikan jawaban pasti, sama saja dengan saya tidak membiarkan ia tumbuh menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab.
Maka keputusan yang diambil, saya serahkan kembali padanya.



Agak lama juga baginya membuat keputusan. Meskipun sudah saya berikan beberapa masukan. Membuat saya bertanya-tanya apa yang menjadi keberatannya?
Oh ... rupanya ia khawatir uangnya hilang dan harus mengganti. Apalagi tinggal di asrama dengan banyak orang sementara ia tidak memegang kunci gembok kamar. Di sisi lain ia sedang berusaha berhemat "Gak ngerepotin minta uang Ayah terus.."
Dan bukan hanya perkara mengganti, tetapi juga ia tidak ingin menjadi perbincangan jika tidak amanah dalam menjaga uang kas.

Hmm..

"Pengalaman gak bisa dibeli" begitu balasan chatt saya.
"Kalau memang uang hilang bukan karena keteledoran Mas (sapaan saya untuknya), gak usah takut.  Misalnya diambil orang.. kan musibah. Nah yang dijaga bagaimana supaya gak teledor. Belajar gak teledor berarti belajar memegang amanah. Seperti Rasulullah SAW, memegang amanah sampai mendapat gelar Al Amin. Ini yang juga yang modal Rasulullah dalam berdakwah"

Saya ceritakan kembali seperti yang dituliskan oleh Syafii Antonio dalam bukunya "Muhammad SAW The Greatest Inspirator & Motivator" bahwa karakter terpercaya Rasulullah SAW itu tidak hanya masa sebelum diutus menjadi rasul tetapi juga masa sesudahnya.  Terbukti dengan masih banyak masyarakat yang senang "menitipkan" barang-barang berharga mereka ke beliau. Ketika hendak hijrah ke Madinah, beliau memberikan mandat kepada Ali bin Abu Thalib untuk mengembalikan seluruh barang titipan kepada pemiliknya. Bayangkan, bahkan di saat Rasulullah SAW banyak dibenci karena ajaran Islam yang dibawanya, masih tetap dipercaya.

Sudah pasti gelar ini tidak terjadi dengan sendirinya melainkan terwujud dari suatu proses (sebab). Peribahasa mengatakan "Trust is not built in overnight" kepercayaan tidak dibangun dalam 1 malam.

"Mas ingin jadi pemimpin kan? latihannya dari sekarang. Kalau dirasa berat sekali masalah menyimpan uang bicarakan kekhawatiran Mas akan uang dengan yang lain. In syaa Allah akan ada solusi bersama."

Tapi sepertinya ia masih ada yang ia pikirkan. Tak lama ia mengirimkan chatt lagi
"Bu, katanya kalau mau dapat beasiswa kuliah gak harus ikutan organisasi.  Awalnya aku memang mau jadi bendahara buat bekal organisasi, bisa kenalan banyak orang"
Saya membalas chattnya "Memang benar beasiswa bisa aja gak usah ikut organisasi. Tapi Mas mungkin hanya akan ada di pendidikan saja misalnya jadi dosen/pengajar. Kalau mau jadi rektor atau ketua jurusan kan harus ada bekal organisasi karena membawahi dosen-dosen dan karyawan. Pilihan Mas sendiri mau jadi apa nanti.  Kata Pak Rhenald Kasali, Indonesia membutuhkan orang pintar tetapi bukan orang pintar yang sudah selesai/ mandeg. Melainkan mau tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik."


Akhirnya Si Mbarep pun menulis "Aku siap berubah"
Alhamdulillah..
Dan pagi ini saya mendapat kabar ia menerima amanah sebagai bendahara πŸ‘πŸ˜

"Jaga amanahnya ya Nak, berikan kualitas terbaik!"









 

Sabtu, Desember 02, 2017

Jurnal Fasilitator Bunda Sayang Level #5


 MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA

Berkaitan dengan kegiatan belajar, membaca merupakan salah satu kemampuan yang harus dikuasai anak.  Meski berdasarkan Permendikbud No 17 Tahun 2017 sekolah dasar diwajibkan menerima seluruh siswa tanpa seleksi apa pun (termasuk tes baca) tetap saja lembaga kursus membaca untuk usia balita banjir peminat. Ini dikarenakan masih banyak orangtua yang beranggapan lebih cepat bisa membaca lebih baik. Padahal dalam menguasai kemampuan membaca yang terpenting bagi anak  adalah menumbuhkan rasa suka membaca, bukan sekedar bisa membaca.  Kesukaan membaca akan membuatnya terus bergairah menambah ilmu, tidak berhenti di suatu waktu.
Oleh karena itu Menstimulasi Anak Suka Membaca pun menjadi tema game level #5 bagi para ibu peserta Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.
Dan selama cawu kedua saya mendapatkan amanah sebagai Fasilitator membersamai Kelas Bunda Sayang Batch #2 Tangerang Selatan.  Kelas yang pesertanya hampir semua aktif dalam berdiskusi dan sering berbagi pengalaman dalam mendidik anak.  Alhamdulillah senang sekali karena saya pun mendapat banyak tambahan Ilmu.

Tantangan Game Level 5 sebagai berikut :

Iqra! Bacalah! Perintah Tuhan pertama kali ini mengingatkan kita bahwa membaca merupakan sebuah proses penting dalam mengenal diri.

Membaca merupakan jembatan ilmu, makanan bagi otak, dan juga bisa melatih imajinasi. Serta banyak lagi manfaat dari membaca.


Yuk, jadikan diri kita teladan bagi anak dan keluarga!

🌴 Jadilah teladan
✅ Jadwalkan family reading time, membacalah bersama anggota keluarga

✅ Buatlah pohon literasi untuk masing-masing anggota keluarga, rimbunkan dengan judul buku yang telah dibaca

✅ Diskusikan dengan anggota keluarga tentang buku yang telah dibaca, gunakan untuk menambah pengetahuan dan merekatkan hubungan dengan anggota keluarga lainnya

πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘¦ Bagi yang sudah memiliki anak
πŸ“– Jadilah ibu teladan, membacalah bersama anak (sesuai dengan tahapan usia anak).
πŸ“· Dokumentasikan kegiatan membaca anda
πŸ“ Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

πŸ‘« Bagi anda yang belum memiliki anak
πŸ“– Membacalah!
πŸ“· Dokumentasikan kegiatan membaca anda
πŸ’­ Diskusikan dengan suami tentang buku yang sudah dibaca
πŸ“ Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

πŸ‘°πŸ» Bagi anda yang belum menikah
πŸ“– Membacalah!
πŸ“· Dokumentasikan kegiatan membaca anda
πŸ“ Rimbunkan pohon literasi dengan buku-buku yang sudah anda baca.

❕Gunakan hashtag
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

❗Bagi anda yang menggunakan blog, tambahkan label
Bunda Sayang
Ibu Profesional
IIP
For Things To Change, I Must Change First

πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»πŸ”ΊπŸ”»

Membaca tantangan pohon literasi ini, diskusi seru tentang pembuatan Pohon Literasi dan beragam pertanyaan lainnya pun datang, antara lain
  • Apakah bentuknya boleh tidak berupa pohon? 
  • Apakah boleh dihitung beberapa lembar bacaan sebagai 1 daun?
  • Apakah boleh mendapatkan daun jika yang dibaca bukan 1 judul buku melainkan 1 judul artikel elektronik?
  • Apakah boleh yang dibaca buku saku tipis?
  • Apakah boleh membaca buku yang sama, selesai 1 judul, namun berulang-ulang?
dan seterusnya
    Saya menjawab dengan menegaskan kembali sesuai tugas tertulis yang diberikan dalam grup Fasilitator Nasional yaitu "Buatlah pohon literasi (berbentuk pohon) untuk masing-masing anggota keluarga, rimbunkan dengan judul buku (berarti 1 buku, bukan beberapa lembar, bukan artikel, boleh tipis, boleh diulang) yang telah dibaca".

    Selesai diskusi teknis game, maka tahap pengerjaan tantangan game dimulai dengan membuat pohon literasi. Ada yang membuat sendiri, bersama anak, dan atau suami. Ternyata hasil kreativitas pohon literasinya keren-keren. Padahal sebelumnya sempat ragu apakah bisa membuat pohon literasi.  Ini baru pohonnya, belum cerita lucu yang mengiringi pemasangan daun :

    "Anak saya menolak terlibat games baca buku ini.. 🀦🏻‍ padahal tadi cerita mau main games bikin pohon, lalu klo Mirai baca 1 buku nanti daunnya ditempel di pohon itu. Dia protes keras, katanya ga mau main games kayak begini.. maunya baca buku seperti biasa aja. πŸ˜‚πŸ˜‚" (Nareswari)

    "... kmrn pas aku lg ketiduran dia buka2 buku sendiri tau2 pas bangun buku dimana2. πŸ˜…" (Faradilla)

    Dari obrolan selama pengerjaan game saya perhatikan umumnya lebih banyak difokuskan pada anak-anak. Terutama bagi peserta yang masih memiliki anak usia balita yang memang masih harus dibacakan.
    Setiap tugas yang di tag ke saya di sosmed umumnya menunjukkan perkembangan pohon literasi yang semakin rimbun daunnya.

    Masa pengerjaan tantangan pun usai. Kami mulai review tantangan. Saya sampaikan terlebih dahulu review dari Fasilitator Nasional.

    Institut Ibu Profesional
    Review Materi Bunda Sayang sesi #5

    πŸ“š MEMBANGUN KELUARGA LITERASI πŸ“š

    Selamat untuk anda para bunda di kelas bunda sayang yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan game level  5.

    Banyak kreasi literasi yang muncul, mulai dari pohon literasi, pesawat literasi, galaksi literasi dll. Semua yang sudah bunda kerjakan di tantangan kali ini sesungguhnya bukan hanya melatih anak-anak dan seluruh anggota keluarga untuk SUKA MEMBACA,  melainkan melatih diri kita sendiri agar mau berubah.

    Seperti tagline yang kita gunakan di tantangan level 5 kali ini, yang menyatakan

    "  for things to CHANGE, I must CHANGE FIRST "

    Sebagaimana yang kita ketahui, tantangan abad 21, tidak cukup hanya membuat anak sekedar bisa membaca, menulis dan berhitung, melainkan kita dan anak-anak dituntut untuk memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini sering  disebut literasi ( National Instiute for Literacy, 1998 )

    Institut Ibu Profesional akan mendorong munculnya gerakan literasi yang nyata yaitu mulai dari dalam keluarga kita. Apabila seluruh keluarga Ibu Profesional sudah menjalankan gerakan literasi ini maka akan muncul rumah  literasi, muncul kampung literasi, dan insya Allah negara kita dipenuhi masyarakat yang literat. Tidak gampang mempercayai dan menyebarkan berita yang baik tapi belum tentu benar, makin memperkuat struktur berpikir kita, sehingga selalu mengutamakan "berpikir terlebih dahulu, sebelum berbicara, menulis dan menyebar berita ke banyak pihak"

    KOMPONEN LITERASI

    ☘ Literasi Dini ( Early literacy)
    Kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman anak-anak dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

    ☘ Literasi Dasar ( Basic Literacy)
    Kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi

    ☘ Literasi Perpustakaan (Library Literacy)
    Kemampuan memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah

    ☘ Literasi Media (Media Literacy)
    Kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.

    ☘ Literasi Teknologi (Technology Literacy)
    Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi.
    Kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet

    ☘ Literasi Visual (Visual Literacy)
    Pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat


    Keluarga hebat adalah keluarga yang terlibat
    Maka libatkanlah diri kita dalam gerakan literasi di dalam keluarga terlebih dahulu.
    Pahami komponen-komponen literasi, dan lakukan perubahan yang paling mungkin kita kerjakan secepatnya.
    Pohon literasi janganlah berhenti hanya sampai di tantangan materi kali ini saja. mari kita lanjutkan sehingga gerakan ini akan membawa dampak bagi keluarga dan masyarakat sekitar kita.


    Salam Ibu Profesional

    /Tim Fasilitator Bunda Sayang/

    πŸ“šSumber bacaan :

    http://dikdas.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Desain-Induk-Gerakan-Literasi-Sekolah1.pdf
    Clay dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) , 2001
    Beers, dkk, A Principal’s Guide to Literacy Instruction, 2009
    National Institute for Literacy, 1998

    ✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿

    Keesokan harinya saya baru memulai diskusi review.  Tidak seperti diskusi review dalam cawu sebelumnya, kali ini diskusi saya lakukan dalam bentuk pertanyaan yang jawabannya masih berhubungan dengan materi review.

    Saya mulai dengan mengapresiasi pohon literasi rimbun. Ternyata beberapa mengatakan daun yang rimbun lebih banyak berasal dari buku yang dibaca anak, bukan orang tua. Penyebabnya karena memang mendahulukan anak, time management orang tua yang belum tepat, orangtua sendiri belum terbiasa membaca buku, dan lain-lain.

    Jawaban ini memancing pertanyaan-pertanyaan saya berikutnya

    Tanya : Jadi apa aja pelajaran dari membuat pohon literasi kali ini untuk keluarga?

    Tanggapan beberapa peserta :

    "Harus punya target untuk pengembangan diri melalui membaca, khususnya buat mamak dan bapaknya yang rantingnya syepii daun πŸ˜–" (Yesi)

    "Pelajaran dikeluarga kami adalah ayah dan bunda harus "mencontoh" anak yg semangat literasinya lebih tinggi dari pada kami ortunya. Anak yg belum bisa membaca selalu semangat utk dibacain buku, nah kami (ortu) yg sdh bisa membaca malah kadang semangat bacanya kurang... πŸ˜”" (Dwi Yunita)

    "Jiwa berkompetisi banyak2an baca buku sama bapaknya
    kalo sama anaknya jelas kalah mulai tumbuh.
    Bapaknya jd mulai ikutan baca" (Yulita)

    "Jika menginginkan anak yg gemar baca, maka orang tua nya pun harus gemar baca" (Syarah)

    "Orang dewasa pun perlu reward reward kecil sebagai motivasi, demi menempel selembar daun lebih semangat membaca buku, Itu pun akhirnya ga selesai satupun buku dalam 17hari" (Tresna)

    "Menanamkan kebiasaan membaca, cinta literasi.. harus diteladankan dan dibiasakan.. insyaAllah menular..." (Lely)

     "Membuat pohon literasi membuat pengingat saya bahwa hari ini udah baca buku blm yaa...waah daunnya blm nambah2...pas daunnya nambah seneng bgt krn punya 'history' buku yg sudah pernah dibaca. πŸ˜†" (Fasta)


    Tanya : Menarik.. hmm kalau kita terus mendorong anak2 suka membaca sementara anak2 jarang melihat kita membaca bagaimana ya?

    Tanggapan beberapa peserta :

    "maluuu sama anak huhu.." (Yesi)

    "Jd ada alasan kl diminta baca buku: "mami papi jg jarang baca" 😦" (Nika)

    "ada kemungkinan anak menolak atau beralasan  ketika kita mengajak mereka membaca,,,😁😁" (Tya)

    "Anak-anak akan kurang berbinar-binar dalam membaca buku, bahkan bisa menolak membaca buku krn mereka tidak bisa merasakan sesuatu yang menarik dr buku. 😰" (Fasta)


    Tanya : Kira2 gimana dong biar kita juga bisa punya waktu buat baca buku teratur?

    Tanggapan beberapa peserta :

    "Jadwalkan per hari misal stgh jam baca buku" (Nika)

    "Atur jadwal dan target baca buku...
    Misal, setiap mau tidur minimal baca 5 halaman.." (Lely)

    "Menjadikan membaca buku jg prioritas, menjadwalkan dgn teratur" (Yulita)

    "Duuuh ini masalah aq bgt.. Klo ada waktu kosong,, malah buat baca grup atau liat sosmed..
    Untuk baca buku masih beraaatt bgt..
    Tapi semangat klo bacain buku anak..
    Dan anak pun mulai rutin minta di bacain buku.. " (Irma)


    Tanya : Intinya memang harus meluangkan waktu ya buat kita sendiri membaca. Entah pagi, siang, atau malam. Apalagi biar bagaimanapun, "ruh"nya pasti bedalah.. mengajak karena juga melakukan dengan mengajak gak melakukan.
    Sekarang cerita dong .. gimana tanggapan para paksu dengan game literasi ini?


    Tanggapan beberapa peserta:

    "Paksu pun gak mau kalah... Ikutan tantangan juga.. alhamdulillah selama 15hr berhasil menamatkan 4 buku (tipis) πŸ˜πŸ‘πŸ»"
    Waktu diajakin... "abi ga ikutan ya, pusing sama uas"
    Tapi tetep konsisten membacakan buku untuk anak kalau sedang senggang waktunya...
    Kemarin sore, paksu tertegun lihat Alaric bener2 memperhatikan ketika dibacakan buku sama saya, disentuh2 gambarnya, bubling, kayak ngerti...
    Proses tdk mengkhianati hasil yaa..
    Jadinya pengen beli buku lagi biar Alaric makin seneng sama buku... "
    (Lely)

    "Awalnya paksu mengernyitkan dahi mba. Bilangnya, plg kerja udah capek, mami. Tp alhamdulillah stlhnya msh mau sih bacain buku anak" (Nika)

    "Paksu ga mau kalah.
    Awal2 saya WA tiap hari
    "Udah baca buku apa hari ini?" Lama2 laporan sendiri.
    Walopun sebagian besar laporannya adalah "baca buku rekening" πŸ˜’" (Yulita)

    "Paksu emang dasarnya lebih rajin baca dari saya.
    Pokonya bukunya persipilan dan bisnis yg ia suka.
    Kalau pulang dan Ghazi masih bangun, biasanya suka bacain. Krn Ghazi yg nagih" (Ika)

    "Paksu support bgt mba.. Walaupun paksu ga baca samsek.. 😞
    Tapi Paksu dengan senang hati bacain buku buat anak-anak,, dan ikutan beliin buku anak jg.. 😊" (Irma)


    Pertanyaan saya berikutnya adalah apakah gairah membaca buku itu bisa menular? Semua sepakat menjawab "Ya"
    Dari sini bisa disimpulkan bahwa bukan tidak mungkin untuk menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang gemar membaca, karena ayah, ibu, dan anak bisa saling menularkan semangat membaca.  Di akhir diskusi saya tuliskan

    "Inti dari diskusi kita kali ini adalah kita mencoba mengenali lebih dalam apa yang ada dalam keluarga kita masing2, kelebihan dan tantangannya, terkait dengan usaha kita menumbuhkan kesukaan membaca.Sebelum keluarga kita menjadi agen perubahan bagi lingkungan, menularkan gairah membaca" 




    Sumber Bacaan

    • http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id/berita/permendikbud-no-17-tahun-2017-tentang-ppdb
    • Diskusi Whatsapp Grup Kelas Bunda Sayang Batch #2 Tangerang Selatan, Fasilitator Farida Ariyani
    • Materi Bunda Sayang Institut Ibu Profesional level #5, oleh Tim Fasilitator Bunda Sayang
    • Review Bunda Sayang Sesi #5, oleh Tim Fasilitator Bunda Sayang