Selasa, Juni 30, 2020

Sudah sampai mana?

Pekan ke-6 mentorship kelas kupu-kupu kami kembali membahas fokus diri pada kemajuan proses keterampilan diri yang ingin dikuasai.  Bagi saya pribadi proses ini masih merupakan kelanjutan proses sebelumnya yakni dari tahap kepompong hanya meluas pada sub topik berikutnya yang memang ingin saya kuasai sebagaimana yang tertera dalam mind map.

Selama menjalani proses tentu saja suasana hati tak selalu sama.  Ada kalanya semangat begitu tinggi, di lain waktu merasa lelah, dan di lain waktu biasa saja. Alhamdulillah di setiap waktu tersebut saya selalu berusaha tetap terhubung pada keterampilan yang ingin saya kuasai dalam bentuk apa saja yang saya bisa sesuai dengan suasana hari itu. Pekan ini saya membuat photo diary lho untuk gambaran suasana diri.
Hari Jumat, saya meletakkan gambar jam weker. Saya merasa masih membutuhkan waktu yang banyak untuk membuat onde-onde dalam bentuk frozen yang memuaskan. Alhamdulillah untuk onde-onde bukan frozen sendiri saya sudah cukup puas.  Testimoni pembeli pun baik. 
Hari Sabtu,  ikan menjadi pilihan simbol. Ikan hanya diam ketika tidur. Selebihnya ia selalu bergerak.  Demikian juga hari saya kala penasaran memenuhi ruang pikiran dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik. 
Hari Minggu, seperti siput yang bersembunyi tenang dalam cangkang namun tetap "sibuk", saya tidak melakukan percobaan baru namun saya mengevaluasi dan mencatat proses yang sudah dilakukan. 
Hari Senin, saya merasa harus terus menguatkan diri berjalan sesuai arah di peta yang yang sudah saya buat sehingga saya meletakkan gambar sandal jepit.
Hari Selasa, saya memulai hari dengan belanja ide di media online (saya gambarkan seperti berada di samudera) dan membuat lagi percobaan baru.

Hmm menurut mentor sendiri (mbak Esti, IP Semarang) saya seperti apa ya?
Komentarnya membuat saya tersenyum..
Mba tu happy banget kalau suru bereksperimen di dapur...dan pantang menyerah😍😍😍
Moga bukan karena "pusing" liat setoran rencana dan progres ya mbaaak 😄
Maturtengkiyuh..
Dan buat saya, beliau seperti handphone full wifi. Asiklah selalu berusaha tersambung meski lagi full asap kompor seperti tadi pagi 😁




 Terakhir.. lembar catatan kemajuan

Onde-onde mengajarkan banyak hal..
Gak cuma buat saya tetapi juga buat anak-anak yang ikut membantu saya.
Kata gendhuk "darimu aku belajar sabar"
Tapi bener lho.. mulai dari membuat adonan, membentuknya, sampai menggoreng..
Kadang rasa ingin memiliki hasil sempurna itu membuat gelisah sementara di satu sisi merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.
Buat saya, selain ketekunan, menata waktu, mempertahankan semangat, saya juga belajar menyerahkan hasil pada Allah dan menerimanya.

Di posisi sebagai mentor saya juga mendapatkan pelajaran seperti cara teknis menemani mentee untuk fokus pada hal yang sedang dilakukan dan pada tujuan mentorship.
Alhamdulillah perlahan tapi pasti hasil edit foto mak Netty semakin bagus 👍👍
Mak Netty memberikan simbol superwoman kepada saya selaku mentor.
Makasih Maak 😍
Siap terbang kemana-mana.. eh salah.. in syaa Allah siap belajar terus jadi superwoman yang Allah ridhoi.. aamiin



Selasa, Juni 23, 2020

Cek Kemajuan Mentorship

Apakabar mentorhipmu?
Mentorship saya alhamdulillah, iyeesss masih menyenangkan 😍
Setiap pertemuan ada saja yang saya dapatkan baik sebagai mentee maupun sebagai mentor.

Di jurnal pekan ini saya melampirkan catatan kemajuan kepada mentor


Sambil mendiskusikan juga beberapa permasalahan yang saya jumpai dalam memasak kembali onde-onde yang sudah dibekukan juga tampilannya.

Ketika saya mengangkat topik tentang false celebration, kami berdua sama-sama bingung dan akhirnya tertawa bersama mengingat cara kami yang santai dan akrab dalam berdiskusi namun lemah dalam urusan waktu online yang tak biasa.  Dengan kesibukan masing-masing kadang dini hari kami baru bisa diskusi. Hmm..pernah juga pagi hari sebagaimana waktu diskusi orang lainnya. Tetapi kami berdua cukup menikmati dan saling sapa tanpa menunggu siapa yang harus memulai lebih dahulu.

Sementara bersama mentee ada satu hal yang menjadi bahasan kami berdua terkait false celebration yakni soal fokus belajar, menjaga agar tak tergoda pada hal lain.  Pada mentee saya sampaikan insight yang saya dapatkan dari mentor tentang fokus pada satu produk terlebih dahulu untuk branding. Dan sebenarnya efeknya tidak hanya bagi orang lain dalam menilai apa yang kita lakukan tetapi juga pada diri kita sendiri.

Untuk perkembangan edit foto, alhamdulillah mentee sudah lebih baik dalam menetapkan fokus dan hasil editing pun sudah lebih tajam.
Mentee saya membuat jurnal belajar editing dan kami mendiskusikan hasil foto dalam jurnal tersebut.
Jika pekan lalu saya membuat tantangan untuk mengedit foto dengan komposisi foto seperti hasil akhir yang ia inginkan, maka untuk pekan ini saya membuat tantangan menggunakan tools expand pada snapseed, menghilangkan vignete dan membandingkan hasilnya dengan foto asli.

Oh iya untuk false celebration dari penghuni rumah, tentang marah yang kadang masih muncul saat saya lelah/sibuk dengan urusan saya sendiri. Manajemen emosi ini memang masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus saya latih, agar lebih bisa mengendalikan diri dalam kondisi apapun.  Makasih sudah diingatkaaan 😘

Senin, Juni 22, 2020

Evaluasi Mandiri Fasilitasi Matrikulasi : Core Value Belajar

Sudah bergabung dengan komunitas Ibu Profesional?
Masih ingat apa core value komunitas ini?
Atau lupa-lupa ingat?
Atau ingat-ingat lupa?
(Weleeeh tetep aja judulnya "lupa" Maaak 🙈)
Bismillah, diulang lagi yak!

Ada 5 core value komunitas Ibu Profesional yakni

  • Belajar
  • Berkembang
  • Berkarya
  • Berbagi
  • Berdampak
Di perkuliahan Matrikulasi IIP  Batch #8 topik utama yang diangkat adalah core value Belajar. 
(Topik yang "gue banget" karena saya amat suka belajar 😍)

Masing-masing widyaiswara mendapat amanah untuk membuat video berbagi pengalaman seputar proses belajar yang telah dijalani.  Para peserta matrikulasi bertugas mengumpulkan hikmah dari setiap cerita berbagi yang disampaikan. Beberapa hari kemudian, untuk menguatkan proses, masing-masing widyaiswara menetapkan waktu diskusi yang bisa dipilih oleh peserta.

Di bawah ini adalah jurnal evaluasi mandiri saya seusai diskusi :

Core Value Belajar

Alhamdulillah saya berkesempatan membersamai para mahasiswi matrikulasi batch #8 untuk berdiskusi tentang core value belajar yang dikaitkan dengan makna Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga yang telah dibahas sebelumnya di wag Matrikulasi IIP Batch#8.. Diskusi sedianya dimulai pukul 16.00 namun karena sesuatu hal yang di luar dugaan, saya terlambat 30 menit.  Oleh karena itu diskusi yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00-17.00 menjadi pukul 16.30-17.15 (penambahan waktu meruapakan hasil kesepakatan dengan peserta).

Bagi saya sendiri, sungguh ini menjadi catatan penting yang harus diperhatikan.

Sebelum diskusi dimulai saya menyampaikan beberapa peraturan antara lain tidak menjawab atau berkomentar di luar yang ditanyakan dan sedang dibahas. Saya sampaikan demikian agar semua menjadi lebih fokus pada topik yang sedang didiskusikan.

Mengenali Prioritas


Selanjutnya diskusi buka dengan pertanyaan yang menggelitik respon peserta dalam menetapkan skala prioritas sebagai seorang ibu lewat cerita berikut : 


Jika suatu ketika Bunda sedang bersiap menyimak materi perkuliahan ternyata berbarengan dengan si kecil menangis, di luar hujan (jemuran belum diangkat) dan air berdesis tanda matang, apa yang akan Bunda lakukan?


Cerita ini adalah peristiwa yang sangat mungkin terjadi dalam keseharian.
Saya menggunakan tehnik fasilitasi Power of Question (dengan memberikan pertanyaan kunci untuk memantik proses berpikir) dan Make Space (memberikan ruang bagi para mahasiswi untuk berpikir) .
Ternyata memang beragam sekali respon yang diberikan namun sebagian besar menulis akan mengajukan izin sebentar dan mengurus pekerjaan rumah terlebih dahulu, entah pilihannya pada mengurus anak, air yang mendidih, atau jemuran.
Ini menunjukkan prioritas utama tetaplah pada keluarga.
Hal demikian perlu saya tanyakan karena saya ingin mengetahui lebih jelas prioritas mahasiswi yang berkaitan dengan tugas sebelumnya yakni makna Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga versi terbaik diri sendiri.  Tentu harapannya adalah makna yang dituliskan adalah makna yang akan menjelma dalam keseharian mahasiswi dalam menjalani perannya sebagai seorang ibu.

Ada hal menarik dari sebagian besar komentar yang ada yaitu meminta izin sebelumnya pada pemateri. Ini menunjukkan mahasiswi mulai menerapkan adab dalam menuntut ilmu dan berusaha mempraktekkan/membumikan materi CoC yang sudah diperoleh juga sebelumnya.

Menginternalisasikan Makna Ibu Profesional 

Menetapkan sebuah makna versi terbaik diri sendiri hanya akan menjadi sebuah makna tertulis
manakala makna tersebut tidak menginternalisasi dalam diri dan diterapkan. 
Setelah memiliki makna versi diri sendiri,
kemudian diajak untuk berpikir tentang sebuah kasus/peristiwa,
maka berikutnya adalah bagaimana cara menginternalisasikan makna tersebut versi diri sendiri juga.

Saya menuliskan pertanyaan pemancing berpikir 

Berkaitan dengan makna Ibu Profesional yang telah kita bahas sebelumnya,
adakah yang ingin menuliskan apa yang harus kita lakukan
agar makna tersebut menginternalisasi dalam diri kita?

Karena saya ingin mengaitkan dengan core value belajar
maka saya mengarahkan percakapan pada kata kunci “belajar”
sebagai bagian cari cara untuk menginternalisasikan makna.
Setelah mendapatkan kata kunci tersebut, saya pun melanjutkan diskusi ke topik berikutnya.


Menjadi Ibu Pembelajar


Core Value IIP yang pertama adalah belajar. 
Setiap ibu dalam komunitas ini semestinya  merupakan seorang ibu pembelajar,
terutama belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan perannya
sebagai seorang perempuan, istri, dan ibu. 

Waktu sisa yang singkat saya gunakan untuk menuliskan pertanyaan berikut 

Seberapa penting bagi kita untuk menjadi seorang ibu pembelajar?
Apa yang akan kita dapatkan dengan menjadi seorang ibu pembelajar?

Pertanyaan yang juga menjadi evaluasi sekaligus pemantik belajar bagi diri saya sendiri


Kesimpulan Evaluasi
Dari fasilitasi ini saya 
  • Merasa harus lebih banyak lagi menambah pengetahuan dan
  • Memahami serta terampil menguasai beragam tehnik memfasilitasi 
  • Membuat perencanaan fasilitasi dengan lebih baik
  • Lebih memperhatikan masalah waktu
  • Menambah koleksi ungkapan percakan keseharian (untuk menambah keakraban)

Semangat memfasilitasi lebih baik! 💪

Rabu, Juni 17, 2020

Widyaiswara Matrikulasi IIP Batch #8

"Menjadi fasilitator adalah cara elegan untuk mengulang kembali materi yang sudah didapat"
Saya mengangguk dalam hati, membenarkan perkataan yang diucapkan seorang teman, sesama fasilitator karena saya merasa memang demikian adanya.
Setiap kali amanah menjadi fasilitator datang, hati saya bersorak "Iyessss! Alhamdulillah kesempatan belajar sekaligus berbagi itu datang lagi"

Dan sekarang adalah kali kedua saya menjadi fasilitator matrikulasi. Ada yang berbeda, kali ini sebutannya adalah widyaiswara.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia,

wid·ya·is·wa·ra/ n 1 guru; 2 Adm jabatan fungsional yang diberikan kepada pegawai negeri sipil dengan tugas mendidik, mengajar dan/atau melatih secara penuh pada unit pendidikan dan pelatihan dari instansi pemerintah

Memang kita lebih sering mendengar pengertian widyaiswara merujuk pada fungsional aparatur sipil negara dibandingkan sebagai guru.
Namun saya sendiri tidak terlalu memusingkan hal yang demikian.
Fokus saya adalah pada kata "belajar" dan "berbagi".

Tidak hanya istilah untuk fasilitator yang berbeda, di batch #8 ini matrikulasi Institut Ibu Profesional pun disajikan dengan cara yang berbeda, yakni dalam bentuk game.
Para peserta matrikulasi diajak menaiki kapal penjelajah samudera matrikulasi setelah sebelumnya mereka harus menemukan 3 kerang mutiara yang akan dijadikan bekal selama perjalanan.
Dan di dalam kapal penjelajah mereka tidak hanya duduk manis membaca materi dan berdiskusi sambil menikmati deburan ombak yang lembut.. tetapi juga mengerjakan beberapa misi.

Kami, para widyaiswara, bertugas utamanya untuk membersamai peserta menemukan harta karun. Yang kami lakukan, berbagi ilmu apa saja yang kami pahami serta berbagi cerita apa saja yang sudah kami lakukan.  Kemudian peserta akan menarik benang merah dari cerita semua widyaiswara dan mengambil hikmah ilmu dan pelajaran hidup (harta karun) versi mereka sendiri.
Cerita yang kami bagi dikemas dalam beberapa bentuk seperti video, podcast (untuk pantun dan kisah berbagi), dan grup diskusi.
Kalau grup diskusi, alhamdulillah saya sudah terbiasa.
Tapi membuat video dan podcast? wow ini sebuah pengalaman baru!
Di sinilah sisi menarik lain dari pembelajaran di Institut Ibu Profesioanl. Karena tak hanya peserta perkuliahan yang belajar hal baru, widyaiswaranya pun juga.

Terus terang saja saya kurang nyaman dan belum terbiasa dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan rekaman audio visual pribadi (bukan dalam bentuk kelompok) yang dibagikan untuk orang lain.  Rasanya seperti semua terfokuskan pada saya (hahahahah ge'er akut..)
Kalau di Bestari dulu, fokus tentu pada grup/banyak orang.  Posisi saya sendiri bukan sebagai lead vokal utama.  Sehingga kadang yang mana suara saya, sulit tertebak. Dengan kata lain, "aman!"
Benar-benar sebuah tantangan merekam video dan podcast sendiri.
Kami diberi tugas merekam maksimal 3 menit, sementara saya untuk mendapatkan bisa mendapatkan rekaman yang diinginkan harus mengulang berkali-kali hingga membutuhkan waktu setidaknya 2 jam. Ada saja penyebab saya harus mengulang.. suara kucing, cucian piring.. duh tantangan sekali!

Alhamdulillah di sisi lain saya merasa didorong untuk belajar keluar dari zona nyaman dan berani mencoba sesuatu hal yang baru. Hasilnya tentu tak sebagus yang sudah biasa membuat podcast atau vlog. Kalau dilihat lagi videonya.. "kok rada aneh ya mimik wajah saya.."
dan komentar Gendhuk saat mendengar podcast saya
"Ibu kayak lagi ngomong sama anak TK"
"Yaaa kaan dulu ngajar TK" dalih saya
Sedangkan si Mbarep bilang "Ibu gitu juga dong kalo ngomong sehari-hari.. lembut"
"Perasaan ibu gak bentak-bentak juga deh.. mau Ibu contohin suara bentak-bentak kayak gimana?"
"Tapi gak selembut iniiiii..." si mbarep tetap bersikukuh
Hahahha sudahlah..
Akhirnya kami pun tertawa bersama

Kapok jadi widyaiswara?
Gak laaah
Belajar dan Berbagi gak pernah bikin kapok
Malah nagih
Selagi Allah beri kesempatan melakukannya..
Semoga selalu..
Aamiin





Selasa, Juni 16, 2020

Chek In

Pssstttt.. check in penginapan? kan lagi masa pandemi?
Hehehehe bukan..
Ini adalah check in mentorship
Mengecek apakah mentorship kami tetap dalam satu alur rencana sesuai dengan mind map dan mengecek sejauh mana kenyamanan kami sebagai mentor dan mentee
Dan hasilnya OK! alhamdulillah..

Sebagai Mentee

Alhamdulillah setelah menyerahkan rencana belajar di pertemuan online sebelumnya kami menjadi lebih terarah dan mentor pun langsung paham apa yang perlu kami bahas.
Lagi-lagi disela waktu luangnya beliau menyempatkan diri untuk mengirimkan sebuah pesan pada saya sesuai dengan pertanyaan yang sudah saya ajukan.
Rupanya metode seperti ini memang lebih cocok untuk beliau.
Saya pun juga lebih nyaman mengerjakannya di jam online saya sendiri.
Jadi secara komunikasi dan kenyamanan tidak ada kendala.
Untuk jurnal frozen foos sendiri, pekan ini yang saya lakukan adalah meneruskan percobaan frozen food dengan freezer biasa lewat dari sepekan.
Hasilnya, ternyata masih banyak yang harus saya perbaiki.. (semangaaatt.. *tepuk-tepuk pundak sendiri)


Sebagai Mentor

Sebagaimana komunikasi saya sebagai mentee dengan mentor, alhamdulillah dalam posisi mentor pun komunikasi berjalan dengan baik. Sungguh saya bersyukur bertemu dengan mentor dan mentee yang komunikatif dan amat fleksibel soal waktu diskusi.
Seringnya saya berdiskusi dengan mentee di pagi hari.
Program mentorship edit foto masih terus berjalan.  Mak Netty, mentee, mengatakan akan menyetorkan tugas edit 2 foto per pekan. Saya menyetujuinya. Lalu kami mendiskusikan hasil edit foto yang dibuat oleh mak Netty dalam sebuah link google doc tersendiri. Di bawah foto tersebut berikan keterangan tool edit snapseed apa yang digunakan oleh mak Netty beserta ukurannya.
Oh iya di rencana mentorship sebelumnya saya meminta mak Netty melampirkan contoh sebuah foto yang menjadi target hasil akhir yang diinginkan.
Setelah mengamati foto yang diedit mak Netty, untuk memudahkan memberi gambaran proses edit sesuai hasil akhir maka saya meminta mak Netty mengambil foto baru dengan posisi yang sama dan kembali diedit. Kali ini saya juga meminta foto edit disejajarkan antara foto sebelum dan sesusudah edit. Beberapa masukan juga saya berikan dalam catatan dokumen.

Selasa, Juni 09, 2020

Menyusun Rencana Mentorship


Program Kelas Kupu-kupu Bunda Cekatan kali ini memasuki tahap menyusun rencana mentorship, menetapkan tujuan dan skala prioritas. 
Tentu saja bukan hal yang mudah menuliskannya.  Saya masih mengaitkan hal ini pada topik "Cemilan Enak dan Ekonomis" dalam mind map serta beberapa sub topik yang menyertainya.
Pertama kali yang saya susun adalah tujuan saya beberapa waktu ke depan seperti yang tercantum dalam tabel berikut.


Dari tabel dapat dilihat bahwa keinginan saya adalah memiliki produk sendiri terlebih dahulu dan membuat brand. Saya memulainya dengan membuat beberapa cemilan andalan dan membuat logo produk.  Meski masih sederhana saya cukup puas dengan logo yang saya buat sendiri ini. Dari tes ombak produk yang saya lakukan alhamdulillah produk cemilan yang saya jual direspon dengan baik oleh para pembeli. 

Sesuatu hal yang dibagikan pada orang lain akan semakin besar kebermanfaatannya manakala kita sendiri sudah melakukan hal tersebut..setuju ya?
Hal ini yang mendorong saya untuk memulai usaha sendiri. 
Saya berharap pengalaman saya memproduksi dan menjual kelak akan bisa bermanfaat pula di masa berikut, mencapai tujuan akhir di mana saya ingin membantu para ibu dhuafa baik dalam bentuk menyediakan lapangan kerja serta membuat pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang kuliner/dan mandiri finansial pula. 

Langkah berikutnya adalah menerapkan skala prioritas hal-hal yang penting untuk saya kuasai berkaitan dengan cemilan enak dan ekonomis. Ada 20 topik ilmu yang ingin saya pelajari.  Sebagian ada yang sudah saya pelajari beberapa tahun yang lalu. Dengan berkembang pesatnya dunia pengetahuan saya merasa penting untuk mempelajarinya kembali sesuai dengan keadaan saat ini.




Topik program mentorship yang saya pilih adalah frozen food. Topik ini saya pilih karena saya ingin bisa memasarkan produk ke dalam jangkauan area yang lebih luas lagi. Kepada mentor saya sampaikan 7 pertanyaan mendasar seputar forzen food yang ingin saya ketahui. 
Mentor saya, seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia frozen food, sangat komunikatif komunikatif dan cepat merespon pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di sela-sela kesibukannya mengelola bisnis frozen food dan menerima pesanan roti maryam.

Terakhir, saya membuat action plan (rencana yang akan saya lakukan) dalam mentorship. 
Sudah ada dua produk cemilan yang saya bekukan namun bukan dalam mesin pendingin khusus.
Hasilnya masih perlu saya evaluasi dan diulang beberapa kali untuk memastikan hasil yang saya inginkan.


Jumat, Mei 15, 2020

Program Mentorship Pekan Kedua

The second week of mentorship is a time for face-to-face mentors and mentees. Let it get closer and get to know each other too.
"5-10 minutes is enough," we instructed.
But for mothers who have a stock of 20,000 words, they already know the duration will be longer.
It's just a matter of starting.
In addition to face-to-face online, we began to make personal assessments both as mentors and mentees.

Eh ini kenapa jadi bahasa Inggris yak?
Ups, sepertinya ada salah klik
Balik Indonesia lagi ajalah.. wkwkwk mamak gak pede


Video Call dengan Mentee

Video call pertama via messenger facebook saya lakukan bersama mentee kesayangan, mak Netty.
Kami masih melanjutkan obrolan tentang ekplorasi di snapseed dan hasil akhir apa yang diinginkan dari editing ini.
Mak Netty menyampaikan kalau ia ingin tampilan foto makanan yang menarik.
Sebelumnya mak Netty juga sudah mencoba beberapa aplikasi edit foto. Dan memang aplikasi edit banyak sekali.  Saya sampaikan yang inti adalah foto dan pesan yang ingin disampaikannya. Edit foto hanyalah pelengkap.
Lalu kami membahas foto kue lumpur surga yang sudah dibagikan mak Netty beberapa hari yang lain. Dalam foto tersebut ada 4 kue lumpur siap disantap.
Saya tanyakan kira-kira supaya orang bisa mengetahui rasa kue lumpur surga memang bisa membuat ketagihan karena lembut dan enak apa ya yang perlu ditampilkan?
Cukup bagian permukaan luarnya atau bagaimana?


Video Call dengan Mentor


Akhirnya jadi juga video callnya
Bisa lihat mbak mentor, Esti,  secara langsung deh
Qiqiqiqi sesekali anak-anaknya ikut mengintip video call kami.

Di obrolan sebelumnya saya bercerita pada mbak Esti kalau saya sedang mempertimbangkan untuk membuat frozen pukis. Mbak Esti menyampaikan kalau memang nanti bisa dipanaskan dan tidak mengubah rasa, coba saja.  Beliau sendiri belum pernah membuat frozen pukis.

Oh iya selain membuat roti maryam beku, mbak Esti juga membuat pastel beku. Alhamdulillah bulan lalu saya pernah mencoba membekukan pastel yang sudah saya goreng setengah matang sebelumnya tapi ternyata agak sulit menyusun pastelnya di dalam plastik dan ketika sudah beku dan dikeluarkan dari plastik, kulit pastel menyatu.

Jumat, Mei 08, 2020

Si Kepompong pun Menjadi Kupu-kupu

Holaaaa sekarang saya sudah menjadi kupu-kupu!
Meski baru keluar dari kepompong tapi sudah mulai terbang perlahan menghampiri kupu lain.
Aaah dahaga akan ilmu belum selesai..
Selama masa kepompong banyak hal yang sudah dilakukan, membentuk diri menjadi seperti yang diinginkan..
Dan kini saatnya kembali mencari nektar ilmu untuk semakin mendekatkan pada tujuan..
Mind maaap.. mana mind map..
Nah ini dia!

Sesuai dengan mind map (peta belajar) yang dulu sekali saya buat, fokus saya ada pembuatan cemilan yang ekonomis dan enak serta membuat jurnal proses.
Alhamdulillah keduanya sudah selesai dilakukan dan saya sudah mendapatkan setidaknya 4 resep cemilan ala saya sendiri.
Kini saya ingin mencari ilmu tentang frozen food.
Alhamdulillah bertemu dengan seorang mentor, namanya Esti dari IP regional Semarang.
Beliau memang memiliki usaha frozen food dan bakulan kue juga.
Mungkin karena sesama bakul kue, kami cepat sekali akrab.
Waktu online pun tidak begitu banyak mengalami kesulitan dalam penyesuaian karena kami sama-sama menyadari waktu online yang dimiliki tak tentu.
Sssttt kami berdua juga jarang bermedsos.. makin banyaklah kesamaan waktu tidak onlinenya..hahahhaa.
Tapi kami berdua juga menggunakan whatsapp untuk saling membuat janji online.

Selain menjadi murid (mentee) saya juga menjadi mentor.  Ilmu yang saya tawarkan adalah belajar menggunakan aplikasi snapseed. Alhamdulillah cepat sekali gayung bersambut dengan mak Netty, teman sesama IP Depok, yang ingin belajar mengolah foto. Katanya, ia ingin foto makanan yang diproduksinya tampil semakin menarik.

Rabu, April 22, 2020

Hari Ketigapuluh Kepompong

Finally sampai juga di hari ke 30!
Dan saya bersyukur banget hari ini bisa menemukan resep yang semakin mendekati serabi solo yang saya inginkan.
Nyoba bikin serabi sampai dua kali dan nyaris lupa setor jurnal..qiqiqi

Resep yang saya pakai tetap resep serabi tanpa telur.
Masih mirip dengan resep sebelumnya hanya saja terigu saya kurang 10 gram dan air ditambah hingga total mencapai 800 ml untuk 200 gram tepung beras.
Sebenarnya saya tidak serta merta langsung menuang 800 ml melainkan dalam tahapan.
Setelah saya yakin dalam keadaan encer masih bisa membentuk serat baru saya tambahkan lagi larutannya.

Hari ini juga saya mencoba beberapa perlakuan yang berkaitan dengan areh.
Saya bandingkan adonan yang telah dituang ke cetakan kemudian

  • tidak diberikan areh
  • dituangkan bagian tengah saja
  • dituangkan sekeliling
Waktu penuangan,
  • segera setelah adonan dituang
  • menunggu keluar pori-pori (dalam keadaan setengah matang) setelah dituang
  • menjelang matang
Jenis wajan
  • Teflon, yang saya maksud adalah cetakan serabi dengan 4 lubang dalam satu wajan. Hasilnya sulit mendapatkan bagian bawah dan pinggiran yang coklat kecuali dioleskan mentega dan api yang sedang menuju besar
  • Alumunium, pinggiran serabi lebih renyah dan mudah coklat karena wajan lebih cepat panas sehingga harus hati-hati agak tidak cepat gosong sementara serat belum banyak terbentuk
Menyusul in syaa Allah akan saya coba menggunakan wajan serabi dari tanah liat 

Kekentalan areh
  • Sedang
  • Kental
  • Sangat Kental
Banyak ya yang dicoba 😆
Ini belum termasuk pengemasan ..hehehe
Bagi saya mengetahui hasil dari beberapa perlakuan (meskipun ada yang bisa dikategorikan gagal) tetap menyenangkan karena bisa menambah ilmu yang semoga kelak bisa bermanfaat pula bagi orang lain.. aamiin

Menutup tantangan 30 Hari Kelas Bunda Cekatan dengan Alhamdulillah..



Hari Keduapuluhsembilan Kepompong

Hari keduapuluh sembilan kepompong mencoba membuat resep serabi sendiri.
Berhasil gak ya?
Eh bakalan ada seratnya juga gak ya?
Banyak "gak ya" terlintas tapi hanya bisa tahu setelah dicoba.
Kalau perkara habis atau gak sih saya yakin bakal habis secara di rumah doyan ngemil semua,
Bismillah..

Alhamdulillah yang dikhawatirkan gak terbukti.
Seneeeng banget lihat serabi ala saya saat dituang membentuk pori-pori.
Meski (lagi-lagi) belum bisa digulung dan belum mendekati serabi solo notosuman namun teksturnya lembut 
Waktu fermentasi memang saya sengaja tambah 30 menit untuk membiarkan ragi lebih maksimal lagi bekerjanya. Namun memang harus berhati-hati karena fermentasi yang terlalu lama bisa menyebabkan rasa serabi menjadi asam.  

Buat keberhasilan nguprek serabi saya pasang badge Excellent!
Biar makin semangat mencari takaran yang lebih pas lagi

Mau coba bikin serabi ala TekkaN?
silakaaan





Selasa, April 21, 2020

Hari Keduapuluhdelapan Kepompong

Hari ini saya hanya ingin merecook resep Serabi dengan menggunakan air bersuhu ruang setelah sebelumnya dua kali saya menggunakan air yang menurut saya hangat tetapi ternyata tidak tepat (masih terlalu panas) sehingga fungsi ragi sepertinya berkurang.

Dari sini pula saya merasa harus mencari informasi pula tentang ragi. Ternyata di web Resep Koki disebutnya ada 3 jenis ragi yakni

  • Ragi Basah atau padat (Compressed Yeast)
  • Ragi Kering Aktif atau Koral (Active Dry Yeast) 
  • Ragi Instan (Instant Yeast). Dibandingkan ragi kering akif, ragi instan lebih cepat mati sehingga perlu dipindah ke wadah kedap udara setelah dibuka namun di satu sisi juga lebih mudah aktif dibandingkan jenis ragi lainnya.  Cara kerja ragi ini adalah dengan mengubah komponen dalam karbohidrat (misal tepung) menjadi karbondioksida). Karbondioksida inilah yang membantu kue mengembang. Yang penting juga untuk diperhatikan adalah jika terlalu lama dibiarkan ragi akan mati dalam suhu ruang. 
Balik lagi ke serabi yang saya buat, alhamdulillah sekarang seratnya sudah lebih terlihat.  Hanya saja saya perlu menambahkan kekentalan areh. Karena areh yang encer mengalir ke pinggiran serabi saaat dituang sehingga menyebabkan pinggiran serabi menjadi sulit renyah.


Hari Keduapuluhtujuh Kepompong

Hari keduapuluhtujuh Kepompong
Tak ada recook yang saya lakukan karena kondisi badan yang kurang baik.
Niat merecook saya tunda.
Kadang memang perlu juga ya sebentar berhenti untuk kebaikan yang lebih banyak.
Waktu yang ada saya gunakan untuk mengevalusi resep Serabi yang sudah dicoba dan membaca literatur resep lainnya.

Beberapa resep serabi memang mirip-mirip.
Secara umum bahan dasarnya sama yakni tepung beras, ragi, dan air.
Air bisa menggunakan santan atau air biasa.
Adonannya sendiri ada yang sedikit kental dan ada yang encer.
Terus terang saya sempat khawatir juga melihat adonan yang encer dan berpikir apakah saya salah dalam menimbang.  Namun setelah saya ulangi memang demikian.
Beberapa resep menambahkan telur agar adonan lebih mengembang dan tak sedikit juga yang tanpa telur.  Jika ragi yang digunakan masih bagus, pada hasil akhir keduanya sama-sama berserat/bersarang saat matang.
Untuk menambah aroma digunakan daun pandan.  Bisa juga diganti atau ditambahkan vanili.
Hal penting lainnya yang saya catat adalah pastikan cetakan serabi sudah panas dan tidak menggunakan api besar.




Hari Keduapuluhenam Kepompong

Masih melanjutkan onde-onde dengan menggunakan resep dari Nia Jefry.
Apa ya yang membuat serabi sedikit sarangnya?
Apakah ragi yang digunakan sudah kurang aktif?
Atau air santan masih belum sehangat yang dimaksud?
Pertanyaan-pertanyaan yang mengusik rasa ingin tahu

Setidaknya 3 kali saya mencoba membuat lagi.

  1. Percobaan pertama saya menggunakan ragi instan yang baru dibuka untuk memastikan ragi yang digunakan memang ragi aktif. Hasilnya masih kurang berserat. Berarti kemungkinan suhu air santan
  2. Percobaan kedua, setelah santan mendidih saya tunggu beberapa saat dan saya tuang sedikit demi sedikit. Hasilnya masih sama. Baiklah, mungkin masih kurang tepat suhunya
  3. Percobaan ketiga, kali ini waktu menunggu santan menjadi hangat lebih lama. Sayangnya hasil tak berubah.\
Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan air dalam suhu ruang saja
Alhamdulillah kali ini lebih baik.
Tinggal cara mencetak saja yang harus saya pelajari kembali.

Oh iya dibandingan resep dari NCC yang menghasilkan pinggiran serabi lebih kokoh, di resep ini pinggiran serabi lebih mudah dan patah.




Hari keduapuluhlime Kepompong

Oke, hari ini mau recook resep serabi yang kedua.
Takaran bahan lebih sedikit jadi lebih hemat sekaligus cepat pembuatannya.
Saya mengambil resep ini dari aplikasi Cookpad

Dalam resep ini tidak ada keterangan apakah santan yang digunakan dalam kondisi hangat atau dingin. Dalam beberapa resep lain yang saya baca kebanyakan menulis santan yang digunakan dalam kondisi hangat. Bagi saya sendiri agak sulit menentukan hangat yang dimaksud.Sementara dalam resep yang lainnya lagi santan yang digunakan dalam kondisi dingin (suhu ruang).

Pertama kali saya mencoba resep ini cukup berhasil. Saya suka dengan teksturnya. 
Namun percobaan kedua dan ketiga kurang berhasil. Serat serabi hanya terbentuk sedikit.
Hmm kira-kira kenapa ya? 
Penasaran 




Minggu, April 19, 2020

Hari Keduapuluhempat kepompong

Sudah pernah mencicipi serabi solo Notosuman? lembut dan gurih.
Hari keduapuluh empat, saya berencana membuatnya sekaligus memenuhi permintaan paksu. Dulu sekali saya pun pernah mencoba  membuat serabi solo ala notosuman dengan menggunakan resep dari NCC. Untuk mengawali tour de resep "Serabi" saya membuatnya lagi.

Bagi yang kangen dengan serabi solo ala notosuman, resep NCC ini lumayan memenuhi rasa kangen hanya memang masih berbeda dengan aslinya terutama dari tekstur dan penampakan.  Serabi NCC lebih tebal dan padat seperti serabi sunda. 

Coba cari resep lain ah sebagai pembanding.. 






Kamis, April 16, 2020

Hari Keduapuluhtiga Kepompong

"Jangan dimakan onde-ondenya ya, Ibu mau lihat besok masih bulet gak" pesan saya.
Alhamdulillah onde-ondenya awet sampai pagi..
Beda kejadian kalau Emak gak wanti-wanti, pasti sudah habis.
Dengan pasukan lengkap di rumah seperti ini, cemilan habis dalam hitungan jam.
Emak senanglaaah kalau yang dimasak laris.
Tapiiii buat cemilan yang sudah dipesan pas dicek hilang, tanduk gemes langsung keluar.
Weleeehhh.. udahannya istighfar banyak-banyak

Alhamdulillah kali ini onde-onde tetap bulat seperti baru dimasak
Bahagiaaaa deh (ternyata bahagia itu sederhana ya.. liat onde-onde tetep bulet pun bisa bikin bahagia..qiqiqiqi) dipandangin terus.
Moga nanti kalau bikin lagi tetap sama seperti ini.

Agak siang, saya kembali membuat martabak mini.
Resep terakhir yang saya coba (martabak bangka) hasilnya agak padat meskipun serat onde-onde terlihat jelas.
Jadi tantangan saya berikutnya adalah membuat onde-onde yang tidak padat.
Saya mencoba mengurangi takaran terigu dan tapioka.
Bila dalam tutorial dituliskan tepung terigu 450 gram dan tapioka 50 gram maka yang saya gunakan adalah terigu 125 gram dan tapioka hanya 10 gram.
Hasilnya masih agak padat namun jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Serat pun tetap terbentuk.
Berarti sudah semakin mendekati yang saya inginkan.

Pasang badge excellent lagiii karena saya meriview daan merecook resep







Hari Keduapuluhdua Kepompong

Setiap lihat onde-onde baru matang duh seneeeng banget
Bulat menul-menul gitu
Tapi berubah sedih   setelah dingin mulai ada yang penyok.
Biasanya bagian bawah onde-onde yang bersentuhan dengan alas.
Gimana ya biar bulatnya tahan lama?
Hayuk emak, cari tahu lagi! (ngajak diri sendiri..wkwkwk)

Sekarang mau coba resep tanpa kentang ah

Beberapa saran yang saya temukan agar onde-onde tetap bulat

  • Setelah matang dan diangkat, agak dilempar-lempar kecil di atas wadah. Pelan-pelan aja yaa lemparnya,. sebab saya pernah lempar gak sengaja malah menggelinding..waduh kayak lagi main bola //hahahaha
  • Goreng dengan api kecil sampai terendam lalu biarkan mengapung baru diputar-putar di atas penggorengan dengan menggunakan punggung sutil. Ada literatur yang menuliskan di putarnya 10 kali.  Saya sendrii pakai gaya bebas, memutarnya gak selalu searah. Dengan menggerakkan onde-onde memutar diharapkan onde-onde akan matang merata di semua bagian.  Karena biasanya setelah mengembang bagian atas tak terkena minyak goreng (bayangin seperti menaruh balon di air ya)
Beidewi menggoreng onde-onde memang harus sabar.
Penggunaan api kompor yang besar akan membuat onde-onde  cepat matang namun bagian dalamnya belum
Selain itu penggunaan api besar juga bisa menyebabkan onde-onde meletus karena gas yang terlalu banyak di dalam onde-onde.

Jadiii harus sabar dengan api sedang menuju kecil

Alhamdulillah selesai semua digoreng,
Tunggu besok yaa reviewnya








Hari keduapuluhsatu Kepompong

Kenapa ya onde-ondenya gak kokoh bulet terus?
Kenapa ya gak mengembang sempurna?
Saya ingin bagian dalam kulit onde-onde yang tidak tebal.

Saya mencoba untuk mengulik tidak dari sisi resep melainkan teknik pembuatan.
Bahan adonan onde-onde dengan resep dari channel youtube The Hasan Video saya siapkan lagi.
Saya perhatikan benar-benar videonya.dan simak video onde-onde channl ian.
Saya browsing juga di internet, web yang membagikan tips onde-onde..
Dan alhamdulillah akhirnya saya menemukan satu saran kunci yang patut saya coba yakni adonan tidak perlu sampai kalis benar, cukup sampai bisa dipulung.
Ini berarti tak semua air perlu dimasukkan ..
Baiklah kali ini saya akan lebih memperhatikan proses penuangan air.

Menetapkan kapan adonan "cukup sampai bisa dipulung" ternyata tak mudah juga.
Pemberian air yang sedikit menyebabkan adonan patah saat hendak dibulatkan.
Pemberian ar yang terlalu banyak, dapat dilihat dari adonan yang lengket di tangan saat hendak dipulung, juga berperan menyebabkan adonan tidak mengembang dengan baik dan bentuknya sulit untuk kokoh setelah digoreng.
Jadi kata "cukup" saya terjemahkan adonan bisa dipulung tanpa patah namun tidak lengket di tangan.

Dari literatur yang saya dapatkan sebagaimana halnya pembuatan resep lain, kelembaban ruangan, kelembahan bahan (berkaitan dengan kandungan air) menjadi faktor yang harus diperhatikan.
Contohnya pada tepung terigu. Kelembaban tepung yang sudah dibuka bungkusnya dengan yang masih baru dalam kemasan belum terbuka sudah pasti berbeda.

Hwaaaa selesai juga memulung
Bismillah waktunya menggoreng..
Deg-degan kopong gak yaaa??

Alhamdulillah iyeeesss!
Excellent buat hari ini







Hari keduapuluh Kepompong

Pernah gak membuat kue, baru pertama kali bikin langsung berhasil tapi yang kedua kali atau bahkan sampai ketiga kali gagal?
Lalu bingung "salah dimana ya??" "apa salah resepnya?" 😁
Hummm banyak hal yang harus kita cek dan kenali dari peralatan masak yang kita punya.
Termasuk di antaranya kompor.
Penting banget lho mengenali kompor sendiri.
Bahkan untuk kompor yang berjenis sama belum tentu memberikan hasil masakan yang sama.
Bisa jadi karena api yang tak merata panasnya atau kedudukan tungku yang tidak tepat sama.
Hal lain yang mempengaruhi hasil resep tidak sama  karena menggunakan bahan dengan merk yang berbeda.
Contoh penggunaan soda kue. Meski hanya sedikit pemberiannya tetapi merk yang berbeda mempengaruhi hasil akhir. Seperti yang saya alami saat membuat martabak dengan menggunakan tutorial youtube. Tidak semua youtuber mau menunjukkan merk soda kue yang digunakan. Yang diperlihatkan hanya bubuk putih saja.  Setelah menonton sekian banyak video akhirnya saya baru tahu ada satu merk yang baru saya dengar (merek Asahi) yang digunakan oleh seorang pedagang martabak.

Duh kok kayaknya ribet ya?
Qiqiqiq santai aja.. dibawa happy dan bayangnya enaknya cemilan yang dibuat
Bagi saya justru dengan begini saya akan belajar lebih banyak
Alhamdulillah..

Nah untuk meyakinkan diri sendiri bahwa resep yang saya dapatkan sudah oke, mulai hari ini sampai beberapa hari kedepan saya ingin menguji ulang semua resep ala saya sekaligus memperbaiki beberapa resep yang menurut saya dari hasil perlu perbaikan.

Hari ini dimulai kembali dengan resep onde-onde.
Onde-onde yang saya buat alhamdulillah sudah enak rasanya tapi masih tak merata kopongnya dan bentuknya setelah digoreng tak stabil (ada yang penyok). Agak penasaran juga sih karena saat pertama membuat menurut saya cukup berhasil (tuuu kaan.. )

Okeh pencarian resep kembali dimulai
siapkan pulpen
kerrtaas.. mana kertas





Minggu, April 12, 2020

Hari Kesembilanbelas Kepompong

Menuntaskan rasa penasaran membuat pukis Milo
Qiqiqiqi saya mah gitu orangnya..
Mulai lagi menimbang bahan.
Memastikan tak ada yang terlewat.
Belajar dari bubuk Milo yang mengeras kemarin, kali ini saya larutkan saja Milo ke dalam air hangat.
Oh iya air hangat ini untuk mengaktivasi ragi.
Setelah adonan jadi didiamkan selama 1 jam untuk fermentasi dalam suhu ruang.  Tetapi saya pernah juga tak sengaja (lupa) memfermentasikan selama 4,5 jam.  Alhamdulillah setelah matang pukis masih enak, tidak asam.

Agak harap-harap cemas juga ya jadinya seperti apa dengan teknik yang terakhir ini.
Ternyata alhamdulillah bagus. Meski tak sekental adonan dasar (pukis klasik) tetapi juga tidak encer.
Phufffttt legaaaa
Berarti cara yang sama bisa saya gunakan untuk varian rasa lainnya.
Saya berencana ingin membuat pukis rasa matcha dan oreo.

Tutup dulu ah lab dapurnya 😁
Waktunya masak dan beberes